DISTORI.ID – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menggelar Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala BPMA di Kantor BPMA, Banda Aceh, Senin (10/8/2026).
Sertijab tersebut menandai pergantian kepemimpinan BPMA dari Nasri Djalal kepada Mawardi Nur.
Momentum ini sekaligus menjadi langkah awal kepemimpinan baru dalam memperkuat tata kelola dan kinerja sektor hulu minyak dan gas bumi di Aceh.
Kegiatan tersebut dihadiri unsur Pemerintah Aceh, BPH Migas, SKK Migas Sumbagut, sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah kerja Aceh, antara lain Medco E&P Malaka, PGE, Triangle Pasee Inc, Aceh Energi, Onwa-Oswa, Pertamina EP dan NSO.
Turut hadir perwakilan DPRA Komisi II dan III, Kodam Iskandar Muda, Polda Aceh, Kejaksaan Tinggi Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK), UIN Ar-Raniry, BSI, Bank Aceh, serta PT PEMA.
Dalam sambutannya, Mawardi Nur menyampaikan apresiasi kepada Nasri Djalal beserta jajaran BPMA atas dedikasi, pengabdian, dan berbagai capaian selama periode kepemimpinan sebelumnya.
Menurut Mawardi, fondasi yang telah dibangun menjadi modal penting untuk dilanjutkan dan diperkuat dalam menghadapi tantangan industri hulu migas yang semakin dinamis.
“Mulai hari ini, tidak ada lagi kelompok, tidak ada lagi sekat, dan tidak ada lagi kepentingan pribadi maupun golongan dalam BPMA. Yang ada adalah satu tujuan. Loyalitas kita adalah kepada institusi, amanah negara, dan kepentingan masyarakat Aceh,” tegas Mawardi.
Ia menekankan BPMA harus menjadi organisasi yang profesional, cepat dalam mengambil keputusan, bersih dalam tata kelola, serta berorientasi pada hasil.
Untuk itu, perubahan budaya kerja menjadi salah satu hal yang akan diperkuat. Seluruh jajaran BPMA diharapkan mampu bekerja lebih produktif, kolaboratif, dan adaptif terhadap perkembangan industri hulu migas.
“Budaya kerja yang lamban dan tidak berorientasi pada kinerja harus kita tinggalkan. Kita harus bekerja dengan integritas, kompetensi, disiplin, dan semangat memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.
Tiga Agenda Prioritas
Dalam kepemimpinan barunya, Mawardi menetapkan tiga agenda strategis yang menjadi fokus utama BPMA.
Pertama, meningkatkan lifting minyak dan gas bumi.
Upaya tersebut akan dilakukan melalui optimalisasi produksi lapangan eksisting, percepatan pengembangan lapangan baru, pemanfaatan teknologi yang efektif, serta penguatan sinergi dengan seluruh KKKS.
Menurut Mawardi, peningkatan lifting menjadi salah satu indikator penting dalam mendukung ketahanan energi sekaligus meningkatkan kontribusi sektor hulu migas terhadap penerimaan negara.
Kedua, mengoptimalkan potensi sumur tua dan sumur masyarakat.
BPMA akan mendorong pengembangan ekosistem sumur tua dan sumur masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025.
Pengelolaan sumur tersebut akan tetap mengedepankan aspek legalitas, keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, produktivitas, serta kepastian hukum.
Dengan demikian, potensi sumur tua dan sumur masyarakat diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah.
Ketiga, memperkuat peran pelaku usaha lokal dan sumber daya manusia Aceh.
BPMA akan membuka ruang lebih luas bagi keterlibatan pengusaha lokal sekaligus mendorong peningkatan kapasitas SDM Aceh agar dapat mengambil peran lebih besar dalam rantai bisnis industri hulu migas.
“Pengelolaan migas tidak hanya berbicara mengenai produksi dan lifting, tetapi juga bagaimana sektor ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pengusaha lokal dan memperkuat sumber daya manusia Aceh,” kata Mawardi.
Mawardi juga menegaskan komitmen BPMA untuk membuka ruang bagi investasi dan kerja sama yang sehat di sektor hulu migas.
Menurut dia, BPMA siap menjadi mitra yang profesional, responsif, transparan, dan memberikan kepastian dalam proses bisnis. KKKS, investor, kontraktor nasional maupun lokal, akademisi, serta dunia usaha diharapkan dapat membangun kolaborasi produktif dengan tetap berpedoman pada regulasi dan prinsip tata kelola yang baik.
“Kita ingin mengirimkan pesan yang jelas bahwa Aceh adalah wilayah yang layak, aman, dan menarik untuk berinvestasi di sektor hulu migas,” ujarnya.
Gubernur Aceh Dorong Sinergi
Sementara itu, Gubernur Aceh melalui Asisten II Sekda Aceh menyampaikan ucapan selamat kepada Mawardi Nur atas amanah yang diberikan sebagai Kepala BPMA.
Gubernur berharap Mawardi dapat menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya serta mendapat kemudahan dan keberkahan dari Allah SWT.
“Kami mengucapkan selamat kepada Bapak Mawardi Nur. Mari kita bersama-sama melanjutkan hal-hal baik yang telah dibangun selama ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan, kekuatan, dan keberkahan dalam menjalankan amanah ini,” ujar Gubernur Aceh melalui Asisten II Sekda Aceh.
Menurut Gubernur, pergantian kepemimpinan di BPMA merupakan bagian dari keberlanjutan pengelolaan migas di Aceh.
Pergantian tersebut juga menjadi momentum pendelegasian amanah dari putra terbaik Aceh kepada putra terbaik Aceh lainnya untuk melanjutkan tugas dan tanggung jawab dalam mengelola sektor migas.
“Ini bukan hanya tentang bagaimana kita mengelola migas. Lebih dari itu, pengelolaan migas harus memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan dan pengembangan Aceh, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat,” katanya.
Karena itu, Gubernur Aceh menekankan pentingnya memperkuat komunikasi, koordinasi, dan sinergi antara seluruh pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Aceh, BPMA, pemerintah pusat, SKK Migas, KKKS, dan para mitra lainnya.
“Komunikasi dan koordinasi antarpemangku kepentingan, termasuk dengan para mitra BPMA dan SKK Migas, perlu terus ditingkatkan. Dengan sinergi dan komunikasi yang baik, kita berharap pengelolaan migas di Aceh dapat semakin optimal dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kemajuan Aceh,” ujarnya.
Nasri Djalal Sampaikan Pesan
Dalam kesempatan yang sama, Nasri Djalal menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran BPMA dan para pemangku kepentingan atas dukungan serta kerja sama selama masa kepemimpinannya.
Nasri berharap kepemimpinan baru di bawah Mawardi Nur dapat melanjutkan berbagai capaian yang telah diraih sekaligus membawa BPMA menjadi lembaga yang semakin kuat dan profesional serta mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi Aceh dan Indonesia.
Serah terima jabatan tersebut menjadi penanda dimulainya babak baru kepemimpinan BPMA di bawah Mawardi Nur.
Dengan semangat keberlanjutan dan pembaruan, BPMA berkomitmen memperkuat kelembagaan, meningkatkan kinerja sektor hulu migas, mendorong investasi, memperluas peran pelaku usaha dan SDM lokal, serta memastikan manfaat pengelolaan sumber daya migas dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat Aceh. []






