HEADLINENEWSPERISTIWA

Kesaksian Korban Selamat Soroti Evakuasi KM Virgo Transport 8, Kapten Disebut Lebih Dulu Turunkan Sekoci

DISTORI.ID – Insiden tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa pada Minggu dini hari, 13 September 2026, menyisakan sejumlah pertanyaan terkait proses evakuasi penumpang dan awak kapal.

Kesaksian sejumlah korban selamat menyebut proses evakuasi berlangsung dalam kondisi gelap dan penuh kepanikan setelah kapal mengalami kemiringan dan berputar di tengah laut sekitar pukul 02.00 WIB.

Salah seorang korban selamat, Hilarius, mengaku tidak mendengar alarm evakuasi maupun instruksi untuk menggunakan pelampung.

Menurut dia, hanya terdengar bunyi bel panjang sebelum lampu kapal kemudian padam.

“Teriak minta pelampungnya, pokoknya tidak ada respons,” kata Hilarius dalam kesaksiannya.

Dalam kondisi tersebut, para penumpang disebut berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Seorang ibu hamil enam bulan dilaporkan berupaya bertahan sambil memeluk bayinya yang masih berusia 17 bulan.

Penumpang lainnya, Rinto, juga mengungkapkan kesaksian mengenai penggunaan sekoci saat kapal dalam kondisi darurat. Ia menyebut kapten dan seorang anak buah kapal (ABK) lebih dahulu menurunkan sekoci.

“Sekoci itu kaptennya dulu naik. Ada satu orang yang lihat, kapten dan ABK duluan nurunin sekoci,” ujar Rinto.

Kesaksian tersebut kini menjadi bagian dari sorotan terhadap prosedur evakuasi KM Virgo Transport 8. Terlebih, insiden itu menyebabkan korban meninggal dunia dan sejumlah penumpang hingga kini masih dalam pencarian.

Kapten kapal, Haris Yulianto, dilaporkan selamat dan telah mendapatkan perawatan medis setelah insiden tersebut.

Pemeriksaan terhadap dirinya juga dilakukan sebagai bagian dari proses untuk mengungkap penyebab serta rangkaian kejadian tenggelamnya kapal.

Di sisi lain, sejumlah keluarga korban masih menunggu kepastian nasib anggota keluarganya. Salah satu korban yang disebut dalam informasi tersebut adalah Nurul Rian Hidayat, ABK yang telah dipulangkan ke Teja Timur.

Sementara itu, kisah Arin, bayi berusia 17 bulan yang disebut berada di kapal bersama ibunya, turut menggambarkan kepanikan yang terjadi ketika kapal mengalami keadaan darurat di tengah malam.

Rangkaian kesaksian korban tersebut membuat pertanyaan mengenai kesiapan sistem keselamatan dan prosedur evakuasi kapal semakin mengemuka.

Namun, apakah benar terdapat kelalaian dalam proses evakuasi, termasuk dugaan bahwa nakhoda lebih dahulu meninggalkan kapal, masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan resmi dan keterangan seluruh pihak yang terlibat.

Investigasi diperlukan untuk memastikan kronologi secara utuh, termasuk kondisi kapal sebelum kejadian, sistem alarm dan penerangan, ketersediaan alat keselamatan, proses penurunan sekoci, hingga tindakan nakhoda dan awak kapal saat keadaan darurat.

Bagi keluarga korban, pengungkapan fakta secara menyeluruh menjadi penting untuk memastikan penyebab tragedi serta pihak yang harus bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button