DAERAHNEWS

Dari PEMA ke BPMA, Mawardi Nur Tinggalkan Jejak Penguatan Tata Kelola dan Investasi Energi

DISTORI.ID – Perjalanan karier Mawardi Nur memasuki babak baru. Setelah membawa PT Pembangunan Aceh (PEMA) mencatat berbagai kemajuan sebagai perusahaan daerah strategis, kini ia mengemban amanah sebagai Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA).

Peralihan ini bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan sebuah estafet kepemimpinan yang membawa harapan besar

Selama menjabat sebagai Direktur Utama PT Pembangunan Aceh (PEMA) pada periode 2025–2026, Mawardi Nur menunjukkan komitmen kuat dalam mendorong transformasi perusahaan daerah menjadi badan usaha yang profesional, modern, dan memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi Aceh.

Di bawah kepemimpinannya, PT PEMA berhasil meningkatkan kontribusi kepada Pendapatan Asli Aceh (PAA/PAD) melalui peningkatan dividen yang disetorkan kepada Pemerintah Aceh.

Dividen perusahaan meningkat dari Rp26,7 miliar untuk Tahun Buku 2024 menjadi Rp28,76 miliar pada Tahun Buku 2025.

Capaian tersebut mencerminkan pertumbuhan kinerja perusahaan sekaligus memperlihatkan efektivitas strategi bisnis yang diterapkan dalam mengelola aset dan peluang usaha.

Selain meningkatkan kinerja keuangan, Mawardi Nur juga melakukan berbagai pembenahan tata kelola perusahaan melalui penguatan sistem manajemen, peningkatan transparansi, akuntabilitas, serta penerapan budaya kerja yang lebih adaptif dan profesional.

Langkah tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat daya saing PT PEMA di tengah dinamika dunia usaha.

Dalam aspek pengembangan bisnis, ia mengarahkan transformasi PT PEMA melalui tiga pilar utama, yakni sektor minyak dan gas bumi, agroindustri, serta jasa dan perdagangan.

Strategi tersebut diperkuat dengan mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan sektor telekomunikasi, pembangunan fasilitas cold storage, pengembangan kawasan industri, optimalisasi komoditas sulfur, hingga perluasan ekspor berbagai komoditas unggulan Aceh.

Mawardi Nur juga menyampaikan bahwa PT PEMA tidak hanya berorientasi pada pencapaian keuntungan perusahaan, tetapi harus mampu menjadi motor penggerak perekonomian daerah.

Menurutnya, setiap pengembangan usaha harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat kemandirian ekonomi Aceh.

Di luar tanggung jawabnya sebagai Direktur Utama PT PEMA, Mawardi Nur turut berperan aktif mendampingi Pemerintah Aceh Mualem dalam berbagai agenda strategis bersama pemerintah pusat.

Ia beberapa kali mendampingi Gubernur Aceh dalam pertemuan dengan kementerian dan lembaga terkait guna mempercepat investasi, khususnya di sektor energi dan sumber daya alam.

Salah satu pertemuan penting yang diikutinya adalah pembahasan bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral mengenai hilirisasi migas, peningkatan investasi, serta penguatan peran Aceh dalam pengelolaan sumber daya energi.

Dalam berbagai forum tersebut, Mawardi Nur turut berkontribusi memperkuat hubungan kelembagaan antara Pemerintah Aceh, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), investor, dan pemerintah pusat guna membuka peluang investasi baru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Perannya tersebut sekaligus memperkuat posisi PT PEMA sebagai mitra strategis Pemerintah Aceh dalam pengembangan sektor energi dan industri berbasis sumber daya alam.

Melalui kolaborasi yang dibangun, PT PEMA dianggap mampu mengambil peran lebih besar dalam mendukung agenda pembangunan daerah serta meningkatkan daya saing investasi Aceh.

Kepemimpinan Mawardi Nur dikenal mengedepankan prinsip good corporate governance, profesionalisme, serta transformasi kelembagaan.

Ia juga konsisten mendorong peningkatan kontribusi perusahaan terhadap pembangunan daerah melalui kolaborasi dengan pemerintah, regulator, pelaku usaha, dan investor.

Komitmennya terhadap peningkatan nilai tambah sumber daya alam melalui investasi dan hilirisasi menjadi salah satu arah kebijakan yang terus diperkuat selama masa kepemimpinannya di PT PEMA.

Rekam jejak itu menjadi modal penting dalam mengemban amanah sebagai Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA).

Pengalaman membangun tata kelola perusahaan yang lebih profesional, meningkatkan kinerja bisnis, memperluas jejaring investasi, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan diharapkan dapat menjadi bekal dalam mempercepat pengembangan industri hulu migas di Aceh.

Di tengah meningkatnya minat investasi migas di wilayah Aceh, terutama dengan potensi besar yang dimiliki kawasan Andaman dan sejumlah wilayah kerja lain di Acehp, BPMA di bawah kepemimpinan Mawardi Nur diharapkan mampu menghadirkan terobosan-terobosan baru.

Mulai dari mendorong percepatan eksplorasi dan pengembangan lapangan, memperkuat koordinasi dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif, hingga memastikan pengelolaan sumber daya migas memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat Aceh dan Indonesia.

Harapan tersebut sejalan dengan tantangan yang kini dihadapi sektor migas Aceh, yaitu menjaga keberlanjutan produksi sekaligus mengoptimalkan potensi investasi baru.

Dengan kemampuan yang dimilikinya serta pemahaman yang kuat terhadap dinamika bisnis di Aceh, Mawardi Nur diharapkan mampu membawa BPMA menjadi lembaga yang semakin progresif, adaptif, dan berperan strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional, sekaligus menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat pertumbuhan investasi hulu migas di Indonesia.

Ke depan, tantangan dihadapi tidak hanya bagaimana meningkatkan lifting migas, tetapi juga bagaimana memaksimalkan potensi sumur-sumur tua yang masih memiliki nilai keekonomian.

Di saat yang sama, ruang partisipasi bagi pengusaha lokal perlu terus diperluas, sehingga aktivitas hulu migas di Aceh tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperkuat kapasitas pelaku usaha, serta meningkatkan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia lokal. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button