DISTORI.ID – Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh mengajak para dai perkotaan untuk meneladani perjuangan dan pemikiran ulama Aceh terdahulu dalam menghadapi tantangan dakwah di era modern.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Dialog Inspirasi Bersama Ustaz Nurchalis yang berlangsung di Aula DSI Kota Banda Aceh, Senin (26/10/2026). Kegiatan ini diikuti para Dai Perkotaan dan pegawai DSI Kota Banda Aceh.
Dalam dialog tersebut, Ustaz Nurchalis mengajak peserta menelusuri kembali sejarah keilmuan dan perjuangan ulama Aceh dari abad ke abad.
Menurutnya, perkembangan dakwah Islam di Aceh saat ini tidak bisa dilepaskan dari sanad keilmuan serta kontribusi besar para ulama terdahulu.
“Ulama Aceh itu tidak pernah kaku dengan zaman. Mereka selalu menjawab tantangan zamannya dengan media terbaik. Inilah keteladanan yang harus kita warisi hari ini,” ujarnya.
Ia kemudian mengulas kiprah ulama Aceh pada abad ke-17, salah satunya Syekh Abdurrauf As-Singkili yang menuntut ilmu selama 19 tahun di Haramain.
Syekh Abdurrauf dikenal melalui karya monumentalnya, Tarjuman al-Mustafid, tafsir Al-Qur’an berbahasa Melayu yang memiliki pengaruh luas hingga ke berbagai wilayah dunia Islam.
Muridnya, Syekh Daud Ar-Rumi, turut melanjutkan tradisi keilmuan tersebut melalui karya Masail al-Muhtadin.
Pengaruh keilmuan ulama Aceh pada masa itu bahkan menjangkau Sumatera Barat, Jawa Barat hingga Malaysia.
Memasuki abad ke-18, jaringan keilmuan ulama Nusantara semakin berkembang. Salah satu tokohnya adalah Syekh Muhammad Zain al-Faqih atau Tengku Jafqih yang disebut menjadi guru bagi sejumlah ulama besar Nusantara, seperti Syekh Abdul Samad al-Palimbani dan Syekh Arsyad al-Banjari.
Menurut Ustaz Nurchalis, tradisi keilmuan tersebut juga menunjukkan bahwa ulama Aceh telah memiliki perhatian terhadap sistem pendidikan Islam yang terstruktur.
“Kitab Lapan atau Majmu’ Musyanna itu menjadi kurikulum dayah. Artinya ulama Aceh dulu sudah berpikir tentang standarisasi pendidikan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan perjuangan ulama Aceh pada abad ke-19 ketika menghadapi invasi kolonial Belanda.
Pada masa itu, ulama tidak hanya berperan dalam pendidikan dan dakwah, tetapi juga terlibat langsung dalam perjuangan mempertahankan tanah air.
Tengku Cik Di Tiro menjadi salah satu tokoh yang memimpin perlawanan terhadap penjajah. Sementara itu, Tgk. Pante Kulu menggubah Hikayat Prang Sabi yang membangkitkan semangat perjuangan rakyat Aceh.
“Ketika tanah air terancam, ulama menjawab dengan Jihad Fisabilillah. Ini pelajaran tentang keberanian dan keberpihakan ulama kepada umat,” tegasnya.
Dakwah Harus Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman
Ustaz Nurchalis kemudian menghubungkan sejarah perjuangan ulama dengan tantangan dakwah yang dihadapi masyarakat perkotaan saat ini.
Menurutnya, tantangan dakwah tidak lagi sebatas persoalan penjajahan fisik. Perkembangan teknologi digital, kemerosotan moral generasi muda, hingga berbagai persoalan terkait perhotelan dan pariwisata syariah menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Karena itu, para dai dituntut mampu menyesuaikan metode dakwah dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan media sosial menjadi salah satu langkah penting, tanpa mengabaikan landasan keilmuan dan sanad para ulama.
“Dulu medianya kitab turats dan halaqah dayah, sekarang medianya media sosial. Semangatnya sama, membela umat. Dai modern harus menguasai media sosial tapi tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an, Hadis dan turats ulama,” katanya.
Ia menilai, penguatan dakwah juga membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Hal tersebut sejalan dengan visi Banda Aceh sebagai Kota Kolaborasi.
Sinergi antara pemerintah, ulama, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Dai Perkotaan, dan kalangan akademisi dinilai penting untuk memperkuat pelaksanaan syariat Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
“Semangat kebersamaan dan sanad keilmuan ulama terdahulu menjadi pelajaran berharga bagi kita. Di Banda Aceh hari ini, dengan visi Kota Kolaborasi, sinergi antara pemerintah, ulama dan dai harus terus kita perkuat dalam membumikan syariat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala DSI Kota Banda Aceh Alimsyah bersama Marzuki Mubin turut memberikan arahan dan penguatan kepada para peserta.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para Dai Perkotaan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi mengenai strategi dakwah yang kolaboratif dan relevan dengan dinamika kehidupan masyarakat perkotaan.
Dialog Inspirasi ini merupakan bagian dari program pembinaan rutin DSI Kota Banda Aceh untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi para dai.
Melalui kegiatan tersebut, DSI berharap para dai semakin siap menghadapi tantangan dakwah modern sekaligus memperkuat upaya mewujudkan Banda Aceh sebagai kota yang Islami, maju, kolaboratif, dan berdaya saing. []






