DISTORI.ID – Kepergian Prof. Warul Walidin meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.
Bagi Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, Warul bukan sekadar mantan rektor. Ia mengenang Warul sebagai sosok guru bangsa dan rektor senior yang meninggalkan jejak pemikiran bagi perkembangan kampus serta masyarakat Aceh.
Warul meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Rabu (12/8/2026), sekitar pukul 08.30 WIB. Ia mengembuskan napas terakhir dalam usia 67 tahun.
“Beliau guru bangsa, rektor senior. UIN sangat merasa kehilangan,” kata Mujiburrahman.
Menurut Mujiburrahman, kehilangan Warul terasa semakin mendalam karena pemikiran dan gagasannya masih dibutuhkan UIN Ar-Raniry.
Terlebih, kampus tersebut kini memasuki periode kepemimpinan 2026-2030 dengan agenda pengembangan yang lebih besar.
“Di periode kedua ini kita masih membutuhkan ide dan gagasan besar beliau untuk UIN Ar-Raniry, untuk visi besar UIN Ar-Raniry periode 2026-2030,” ujarnya.
Dedikasi Panjang di UIN Ar-Raniry
Warul memiliki perjalanan panjang bersama UIN Ar-Raniry. Pengabdiannya sebagai akademisi dimulai sejak 1983.
Saat itu, ia mengawali karier sebagai dosen di Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry sebelum kemudian melanjutkan pengabdian di Fakultas Tarbiyah.
Karier akademik dan kepemimpinannya terus berkembang. Pada 1997-2000, Warul dipercaya menjadi Ketua Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktor pada 1997, ia juga mengajar di Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry.
Setahun kemudian, tepatnya pada periode 2000-2001, Warul dipercaya memimpin Fakultas Tarbiyah sebagai dekan.
Pengalaman panjang sebagai akademisi dan pengelola perguruan tinggi kemudian mengantarkannya ke posisi tertinggi di kampus.
Pada 2 Juli 2018, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melantik Warul sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh periode 2018-2022. Ia menggantikan Prof. Farid Wajdi Ibrahim.
Pengabdian di Ruang Publik Aceh
Sebagai guru besar UIN Ar-Raniry, kiprah Warul tidak hanya berlangsung di lingkungan perguruan tinggi. Ia juga aktif dalam berbagai ruang pengabdian publik di Aceh.
Warul pernah terlibat dalam Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan perannya sebagai akademisi yang turut memberi perhatian terhadap persoalan pendidikan, keislaman, dan kehidupan sosial masyarakat Aceh.
Mujiburrahman menilai pengalaman tersebut membuat Warul memiliki posisi penting sebagai seorang intelektual yang pemikirannya tidak terbatas pada lingkungan kampus.
Menurutnya, pemikiran Warul masih dibutuhkan, tidak hanya oleh UIN Ar-Raniry, tetapi juga oleh masyarakat Aceh secara luas.
“Pemikiran beliau masih sangat kita butuhkan. Bukan hanya untuk UIN Ar-Raniry, tetapi juga untuk Aceh,” tutur Mujiburrahman.
Warul dikenal menempatkan pendidikan sebagai salah satu bagian penting dalam pembangunan masyarakat.
Pengalamannya sebagai akademisi, rektor, serta keterlibatannya dalam lembaga pendidikan dan keulamaan membuat pemikirannya berada pada persinggungan antara dunia akademik, pendidikan Islam, dan persoalan sosial di Aceh.
Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai rektor pada 2022, Warul tetap menjadi bagian dari perjalanan akademik UIN Ar-Raniry.
Pengalaman dan gagasannya terus dikenang dalam berbagai pembahasan mengenai arah serta masa depan kampus.
Kini, Warul telah berpulang. Namun, jejak pengabdian dan gagasan yang ditinggalkannya akan tetap menjadi bagian dari sejarah UIN Ar-Raniry dan ruang publik Aceh.
Bagi Mujiburrahman, kepergian Warul bukan sekadar kehilangan seorang mantan rektor. UIN Ar-Raniry dan Aceh telah kehilangan seorang akademisi senior yang pemikiran dan pengabdiannya masih dibutuhkan. []
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.






