HEALTHKESEHATANNEWS

Kasus HIV Terus Menanjak di Banda Aceh, Remaja Diminta Lawan Stigma dan Risiko

DISTORI.ID – Kasus HIV/AIDS di Kota Banda Aceh menunjukkan peningkatan signifikan dalam 18 tahun terakhir.

Berdasarkan data yang disampaikan Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, jumlah kasus secara kumulatif mencapai 942 kasus hingga 2026.

Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 2008 yang hanya mencatat 10 kasus. Dari jumlah kumulatif itu, terdapat 771 kasus HIV dan 171 kasus AIDS.

Farid mengatakan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius, terutama karena kelompok usia produktif menjadi salah satu kelompok yang banyak terdampak.

“Sebagai anak muda, adik-adik harus memiliki peran dalam menjaga Kota Banda Aceh. Sebab, yang paling banyak terdampak adalah generasi mereka sendiri, yaitu generasi muda,” ujar Farid.

Hal itu disampaikan Farid saat membuka kegiatan penyuluhan, sosialisasi, dan edukasi kesehatan bagi remaja bertema “Hidup Sehat, Remaja Bebas HIV/AIDS” di Paopia Coffee, Banda Aceh, Selasa (29/9/2026).

Kegiatan yang digelar Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh tersebut berlangsung selama dua hari, 29–30 September 2026.

Sebanyak 50 remaja putri dari wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam dan Puskesmas Lampulo mengikuti kegiatan tersebut.

Sebagai Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh yang membidangi kesejahteraan rakyat, kesehatan, dan keistimewaan, Farid mengapresiasi Dinas Kesehatan yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut.

Menurut Farid, edukasi mengenai HIV/AIDS penting diberikan kepada remaja agar mereka memiliki pengetahuan yang benar mengenai risiko, pencegahan, hingga cara menghilangkan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Farid menyebutkan, berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 25 persen kasus HIV/AIDS di Indonesia terjadi pada kelompok usia 15–24 tahun.

Di Banda Aceh, kasus juga banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 15–39 tahun.

“Coba kita lihat data dari Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh. Pada 2008 hanya terdapat 10 kasus, terdiri dari sembilan kasus HIV dan satu kasus AIDS,” kata Farid.

Jumlah tersebut meningkat menjadi 36 kasus pada 2018, terdiri dari 31 kasus HIV dan lima kasus AIDS.

Kemudian pada 2024, tercatat 147 kasus, yang terdiri dari 104 kasus HIV dan 43 kasus AIDS.

Sementara hingga Agustus 2026, tercatat 68 kasus, terdiri dari 49 kasus HIV dan 19 kasus AIDS.

Secara kumulatif, sejak 2008 hingga 2026, jumlah kasus HIV/AIDS di Banda Aceh mencapai 942 kasus.

“Setiap tahun angkanya terus menunjukkan peningkatan. Jika dibandingkan dengan 2008 yang hanya terdapat 10 kasus, hingga 2026 jumlah kumulatif sudah mencapai 942 kasus. Artinya, terjadi peningkatan hingga 94 kali lipat,” ujar Farid.

Remaja Diminta Jadi Edukator Sebaya

Farid mengatakan, persoalan HIV/AIDS perlu dipahami secara menyeluruh oleh remaja. Menurutnya, penularan HIV berkaitan dengan berbagai faktor risiko yang perlu diketahui agar dapat dilakukan pencegahan.

“Penularan bukan hanya karena hal-hal yang jauh dari kita, tetapi juga dari hal-hal yang dekat dengan remaja saat ini, seperti pergaulan bebas, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, penyalahgunaan NAPZA suntik, dan paparan konten pornografi di media sosial,” ujarnya.

Ia menilai Banda Aceh, sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam, memiliki peran penting dalam memperkuat upaya pencegahan HIV/AIDS melalui pendidikan agama dan pembentukan karakter remaja.

“Islam sudah mengajarkan pencegahan terbaik, yaitu menjaga kehormatan diri, menjaga pergaulan, dan menguatkan iman,” katanya.

Farid menilai tema kegiatan tersebut relevan karena mengedepankan tiga hal, yakni kenali risikonya, cegah penularannya, dan hilangkan stigmanya.

Ia meminta para remaja memahami perilaku yang berisiko maupun yang tidak berisiko. Menurutnya, pengetahuan menjadi salah satu benteng penting dalam mencegah penularan HIV.

Upaya pencegahan, lanjut Farid, juga harus dilakukan melalui edukasi, penguatan nilai agama, serta penerapan pola hidup sehat, bukan dengan menakut-nakuti remaja.

Di sisi lain, stigma terhadap ODHA juga perlu dihilangkan. Farid meminta masyarakat tidak menjauhi ODHA, tetapi memberikan dukungan agar mereka mau menjalani pengobatan.

“Jangan sampai mereka tidak berobat karena malu dan takut dikucilkan. Islam mengajarkan kita untuk saling menyayangi,” ujarnya.

Farid juga meminta kader remaja Posyandu meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada teman sebaya dan masyarakat di gampong masing-masing.

“Dengan pengetahuan yang tepat, remaja akan menjadi garda terdepan dalam menyebarkan informasi yang benar, meluruskan stigma, dan mengajak masyarakat bersama-sama mencegah penularan HIV/AIDS,” katanya.

Ia bahkan meminta para peserta menjadi edukator sebaya setelah kembali ke lingkungan masing-masing.

“Setelah pelatihan ini, pulang ke gampong dan sampaikan kepada setidaknya 10 teman tentang bahaya serta cara pencegahan HIV/AIDS,” pesan Farid.

Selain itu, para kader diminta menjadi contoh sebagai Remaja Sehat Banda Aceh dengan menjauhi rokok, vape, NAPZA, dan pergaulan bebas.

“Bantu pemerintah gampong dan Posyandu untuk mendata dan mengedukasi masyarakat,” tambahnya.

Farid menegaskan DPRK Banda Aceh, khususnya Komisi IV, akan terus mendukung program yang berorientasi pada peningkatan kesehatan dan perlindungan generasi muda.

“Kami di DPRK, khususnya Komisi IV, akan terus mendukung program seperti ini. Ini adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan Banda Aceh hebat, remaja sehat, dan keluarga kuat,” ujarnya.

Kesehatan Jasmani dan Rohani

Sementara itu, Ustaz Febri Sugianto dari Thibbun Nabawi menyampaikan bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan jiwa.

Menurut Febri, Islam telah mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan, bersiwak, menerapkan pola hidup sehat, serta menjaga pola makan.

“Apalagi peserta hari ini dari kalangan remaja. Mereka harus memperhatikan tingkat stres, pola makan, dan olahraga,” ujar Febri.

Ia mengatakan kesehatan jasmani dan rohani dapat dijaga melalui kebersihan, pola hidup sehat, olahraga, serta memperkuat ibadah kepada Allah SWT.

Dengan edukasi tersebut, para remaja diharapkan tidak hanya memahami HIV/AIDS, tetapi juga mampu menjaga kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Dalam kegiatan itu, narasumber lainnya, drg. Supriayadi R, M.Kes dari Dinas Kesehatan Banda Aceh, menyampaikan materi “Perilaku Berisiko Remaja dan Seks Bebas, Narkoba dan HIV/AIDS.”

Sementara dr. Cut Nonda Maracilu, Sp.OG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, membawakan materi “Hidup Sehat Bebas HIV/AIDS.” []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button