MUSIK

Hardcore Stepforward Menolak Diam Lewat Video Klip Camkan Memarku

DISTORI.ID – Di tengah riuh rendah industri musik komersial yang kerap membungkus isu-isu sosial ke dalam narasi pop yang aman, skena musik keras Indonesia kembali membuktikan bahwa nurani tidak pernah kehilangan taringnya.

Adalah Stepforward, unit hardcore veteran asal Jakarta yang telah tiga dekade malang melintang di jalur independen, memutuskan untuk menempuh sebuah langkah bersejarah. Untuk pertama kalinya sepanjang 30 tahun eksistensi mereka, band ini merilis video musik resmi.

Pilihan jatuh pada lagu berjudul “Camkan Memarku”, sebuah trek penuh amarah yang dicomot dari EP terbaru mereka, “Tak Pernah Mati”, yang resmi dirilis ke publik pada 30 Agustus lalu.

Bagi penikmat musik cadas yang mengikuti dinamika skena sejak era 1990-an, rilisnya video musik ini bukan sekadar perayaan pencapaian artistik.

Lebih dari itu, karya visual yang dijadwalkan tayang perdana pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 19.00 WIB di kanal YouTube resmi Stepforward_Jkt ini merupakan manifestasi dari kemarahan kolektif terhadap ketidakadilan sosial yang hingga hari ini masih mengakar di masyarakat.

Jika dibedah secara saksama, aransemen musik yang agresif dalam “Camkan Memarku” hanyalah lapis pengantar. Inti sesungguhnya dari karya ini terletak pada pesan perlawanan terhadap kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), serta budaya menyalahkan korban (victim blaming) yang masih dilanggengkan oleh sistem sosial kita.

Vokalis sekaligus penulis lirik Stepforward, Jennifer Jill van Diest, mengungkapkan bahwa lagu tersebut merupakan tumpahan emosi yang telah mengendap selama bertahun-tahun. Kepada publik, ia menuturkan bagaimana realitas sosial di sekitar kita kerap kali memperlakukan korban dengan cara yang tidak adil.

“Lagu ini gue tulis beberapa tahun lalu sebagai bentuk keresahan dan perlawanan terhadap stigma seputar kekerasan seksual. Perempuan masih belum mendapatkan tempat yang aman di lingkungannya. Maraknya kasus pelecehan seksual menjadi alasan gue menumpahkan amarah lewat lagu. Bagaimana perempuan masih disalahkan, masih dipertanyakan, tidak sepenuhnya dibela, padahal sudah luka-luka dan lebam. I mean, for real?!” tegas Jennifer.

Lebih lanjut, Jennifer menyoroti betapa ironisnya posisi korban ketika berhadapan dengan birokrasi maupun lingkaran terdekat mereka. Dalam banyak kasus KDRT, alih-alih mendapatkan perlindungan hukum dan moral, korban justru dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan.

“Perempuan disalahkan karena pakaiannya, gayanya, atau kelakuannya. Dalam banyak kasus KDRT, korban masih menjadi bulan-bulanan dengan pertanyaan seperti, ‘Kenapa nggak pergi? Kenapa nggak langsung lapor?’ Mengapa akhirnya justru korban yang disalahkan?” tambahnya dengan nada geram.

Proses kreatif di balik penggarapan lagu ini juga membawa dimensi emosional yang mendalam. Ada jejak kolaborasi kreatif bersama mendiang Ricky Siahaan, gitaris sekaligus figur sentral yang memiliki andil besar dalam perjalanan sejarah Stepforward. Kehadiran Ricky dalam ruang-ruang diskusi menjadi fondasi moral bagi terciptanya lagu ini.

“Ricky dan gue banyak ngobrol saat menulis lagu ini. He was always on my side. Dia juga menjadi teman berdiskusi tentang kasus-kasus kekerasan seksual dan KDRT yang terjadi di masyarakat. Dengan cara kami sendiri, lagu ini menjadi salah satu bentuk pembelaan terhadap perempuan yang mengalami kekerasan. Sayangnya, situasi itu belum banyak berubah sampai detik ini,” kenang Jennifer.

Kekuatan rekaman ini turut dipertegas oleh kehadiran Arian13, frontmant Seringai, yang menyumbangkan vokal tamunya. Keterlibatan Arian semakin memperkuat ikatan solidaritas antarmusisi lintas dekade di skena musik keras Jakarta.

“Gue mengenal Stepforward dari era ’90-an, jadi ketika mereka merilis rekaman baru, rasanya excited sekali!” ujar Arian13.

Untuk menerjemahkan kompleksitas emosi tersebut ke dalam medium visual, Stepforward mempercayakan penggarapannya kepada Ekyno, seorang sutradara video musik kawakan yang juga kawan lama para personel band. Ekyno, yang sebelumnya sukses menakhodai video musik ikonik seperti “Matraman” milik The Upstairs dan “Citra Natural” dari Seringai, memilih Rossi Musik, Jakarta, sebagai lokasi pengambilan gambar pada 5 September 2026.

Pemilihan Rossi Musik bukan tanpa alasan. Tempat tersebut dipilih karena memiliki kedekatan historis yang kuat dengan denyut nadi kultur underground masa lalu. Ekyno sengaja menolak pendekatan visual yang terlalu bersih atau dikurasi secara berlebihan. Ia ingin menghadirkan kembali estetika mentah (raw) ala band-band hardcore dekade 1990-an.

“Gue pengen music video yang raw, spontan, dan punya energi khas era ’90-an sampai awal 2000-an. Visualnya nggak perlu terlalu rapi atau polished. Justru lebih ke arah dirty, chaotic, sedikit lo-fi, dengan handheld camera and editing yang terasa liar. Intinya, gue pengen mendapatkan feel yang autentik, punya attitude, dan nggak kehilangan energi mentahnya, seperti video-video band metal dan hardcore di era itu,” jelas Ekyno.

Ia menambahkan kekagumannya terhadap konsistensi para personel Stepforward—Jennifer Jill van Diest (vokal), Roma Sophiaan (gitar), Junas Miradiarsyah (bass), dan Fajar Arifan (drum)—yang dinilainya masih memiliki energi membakar seperti tiga dekade silam.

“Kenapa gue pilih Rossi? Karena feel underground ’90-annya dapet banget di sana dan memang venue yang sangat aktif juga mendukung pergerakan musik independen sejak lama. Stepforward adalah teman-teman lama gue dari zaman dulu yang sekarang muncul lagi dengan energi baru. Senang melihat mereka masih sekencang dulu, tapi terasa lebih fresh. Still got that raw energy!” puji Ekyno.

Terbentuk di tengah gelombang ketidakpastian politik dan sosial pada dekade 1990-an, Stepforward tidak pernah memposisikan diri sekadar sebagai band penghibur panggung. Melalui EP “Tak Pernah Mati” yang memuat lima lagu, mereka membuktikan bahwa usia tiga dekade tidak melunakkan ketajaman analisis sosial mereka.

Singlel “Camkan Memarku” adalah bukti sahih bahwa di tangan musisi yang tepat, hardcore bukan sekadar sarana pelampiasan kebisingan sonik.

Ia adalah ruang perlawanan, panggung solidaritas, dan pengingat keras bahwa selama ketidakadilan masih terjadi, suara-suara sumbang dari pinggiran skena independen tidak akan pernah berhenti bergema. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button