MUSIK

Wali Tebar Pesan Solidaritas untuk Korban Karhutla dan Rakyat Palestina di Synchronize Fest 2026

DISTORI.ID – Di tengah komersialisasi industri hiburan kontemporer, festival musik sering kali dipersepsikan sebatas ruang pelarian (escapism) bagi masyarakat urban dari penatnya rutinitas harian.

Namun, dalam momen-momen tertentu, festival seni dan musik dapat bertransformasi menjadi ruang publik yang efektif untuk menyuarakan nurani kolektif, mengangkat isu-isu kemanusiaan, dan merajut solidaritas sosial.

Fenomena inilah yang tercermin secara jelas dalam penampilan grup band Wali di ajang Synchronize Fest 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta.

Tampil di panggung Dynamic pada hari kedua festival, para personel Wali yang terdiri dari Faank, Apoy, Tomi, dan Ovie memanfaatkan pengaruh budaya (cultural influence) yang mereka miliki untuk menjembatani hiburan populer dengan kepedulian terhadap krisis lingkungan dan geopolitik global.

Langkah ini menegaskan bahwa musisi Indonesia memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan moral di tengah masyarakat.

Aspek krusial yang diangkat oleh Wali dalam pertunjukan mereka adalah krisis ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan, Sumatera, dan Papua.

Bencana tahunan ini tidak hanya mendatangkan kerugian ekonomi dan kerusakan habitat, tetapi secara langsung mengancam kesehatan pernapasan jutaan warga sipil yang harus menghirup udara tercemar.

Ketika vokalis Wali, Faank, mengajak puluhan ribu penonton untuk berhenti sejenak dan memanjatkan doa bersama, tindakan tersebut merupakan sebuah bentuk intervensi kultural yang cerdas.

Di saat panggung musik mendistraksi kesadaran publik dari realitas pahit di luar sana, Wali justru menarik kembali atensi penonton ke dalam penderitaan riil yang dialami oleh sesama anak bangsa.

“Ya Allah, berikan kekuatan untuk saudara-saudara kami yang sampai hari ini masih merasakan sesaknya nafas. Ya Allah, sadarkan orang-orang yang bakar hutan ya Allah. Berikan mereka hidayah ya Allah. Ya Rasulullah, terima kasih sudah ngumpulin kami di sini ya Rasulullah,” seru Faank.

Seruan tersebut mengandung kritik sosial yang tajam terhadap kelalaian manusia dalam menjaga kelestarian alam, sekaligus menawarkan pendekatan spiritual berupa doa agar masyarakat terdampak diberikan ketabahan menghadapi buruknya kualitas udara akibat kabut asap.

Selain menyoroti problem domestik, perluasan spektrum kepedulian Wali ke kancah internasional melalui doa bagi rakyat Palestina menunjukkan kesadaran global yang matang.

Di tengah penindasan dan agresi militer yang terus berlangsung di jalur Gaza, panggung Synchronize Fest 2026 diubah menjadi corong solidaritas kemanusiaan universal.

“Ya Allah, untuk saudara-saudara kami di Palestina ya Allah, merdekakan Palestina ya Allah. Merdekakan Palestina ya Allah. Merdekakan Palestina ya Allah,” ucap Faank.

Respons serentak berupa kumandang amin dari ribuan penonton mencerminkan bahwa isu kemanusiaan di Palestina telah menjadi bagian dari kesadaran moral kolektif masyarakat Indonesia.

Dalam konteks sosiologi budaya, tindakan musisi arus utama (mainstream) menyuarakan isu-isu semacam ini memperkuat legitimasi perjuangan kemerdekaan Palestina di ruang publik nasional.

Keberhasilan penampilan Wali di Synchronize Fest 2026 tidak lepas dari kemampuan mereka melakukan sintesis antara identitas musikal mereka yang merakyat dan muatan pesan moral yang universal.

Selepas momen kontemplatif yang sarat emosi, band pelantun tembang “Cari Berkah (Cabe)” ini kembali menghidupkan dinamika festival melalui deretan lagu populer yang akrab di telinga publik, seperti “Si Udin Bertanya”, “Tomat (Tobat Maksiat)”, hingga lagu penutup yang energik, “Cari Jodoh”.

Pendekatan ini membuktikan bahwa menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan tidak harus selalu disampaikan melalui mimbar formal atau orasi politik yang kaku.

Melalui medium seni musik yang inklusif, grup band Wali berhasil menunjukkan bahwa hiburan dan tanggung jawab sosial dapat berjalan beriringan, meninggalkan jejak reflektif yang mendalam bagi lanskap kebudayaan pop Indonesia masa kini. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button