DISTORI.ID – Program Studi Bahasa Aceh, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, menggelar Workshop Penulisan Cerita Anak dalam Bahasa Aceh bertajuk “Aneuk Aceh, Calitra Aceh” di Auditorium ISBI Aceh, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan mengusung tema “Menghidupkan Bahasa dan Budaya melalui Cerita Anak Lokal”.
Workshop ini menjadi ruang kreatif bagi generasi muda untuk mengenal, menggunakan, sekaligus mengembangkan Bahasa Aceh melalui karya cerita anak.
Workshop menghadirkan dua penulis, yakni Bebi Haryanti Dewi dan Ferhat Muchtar. Bebi dikenal melalui sejumlah karya buku anak, di antaranya Apa Itu di Punggungku? dan Kiki Si Tukang Cukur Keliling.
Sementara itu, Ferhat Muchtar merupakan penulis asal Banda Aceh yang aktif menghasilkan beragam karya, mulai dari buku, cerpen, esai, opini, hingga tulisan bertema budaya dan literasi.
Dalam sesi pemaparan, keduanya membahas berbagai aspek penulisan cerita anak, mulai dari menggali ide, membangun karakter dan alur, hingga mengolah pengalaman serta lingkungan sekitar menjadi cerita yang menarik dan sesuai dengan dunia anak.
Kegiatan diawali dengan sambutan Koordinator Program Studi Bahasa Aceh ISBI Aceh, Nurul Aida.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan ruang kreatif bagi generasi muda untuk menggunakan Bahasa Aceh melalui karya.
Menurut Nurul Aida, cerita anak dapat menjadi salah satu media efektif untuk memperkenalkan bahasa sekaligus nilai-nilai budaya Aceh secara dekat dan kontekstual kepada generasi penerus.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Program Studi Bahasa Aceh memperluas penggunaan Bahasa Aceh, tidak hanya di lingkungan akademik, tetapi juga melalui karya sastra dan kreativitas yang dapat dinikmati masyarakat.
Sambutan dilanjutkan dengan pemaparan Wakil Rektor I Bidang Akademik ISBI Aceh, Ratri Candrasari.
Ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjaga sekaligus mengembangkan bahasa dan budaya Aceh melalui berbagai bentuk kreativitas.
Menurutnya, pelestarian bahasa tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran di ruang akademik, tetapi juga perlu diwujudkan dalam karya yang dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda.
Dalam konteks tersebut, cerita anak dinilai dapat menjadi medium untuk memperkenalkan Bahasa Aceh sekaligus nilai-nilai budaya lokal dengan cara yang lebih dekat dan menyenangkan.
Cerita yang lahir dari lingkungan masyarakat juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan pengalaman, tradisi, pengetahuan lokal, serta nilai-nilai budaya Aceh kepada anak-anak.
Pemaparan tersebut menjadi pengantar bagi peserta untuk memasuki sesi utama workshop.
Kegiatan dipandu Humaira Anwar, selaku moderator yang mengarahkan diskusi dan interaksi antara peserta dengan para pembicara.
Workshop tidak hanya melibatkan sivitas akademika ISBI Aceh, tetapi juga siswa dari sejumlah sekolah di Kota Jantho, yakni SMA Negeri 1 Kota Jantho, SMK Negeri 1 Kota Jantho, dan Pesantren Teknologi MSBS.
Keterlibatan para siswa menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya mengikuti materi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses kreatif menghasilkan cerita anak berbahasa Aceh.
Melalui sesi pemaparan dan praktik, peserta diajak mengembangkan gagasan cerita yang bersumber dari lingkungan dan pengalaman mereka sendiri.
Kehidupan masyarakat, tradisi, permainan, cerita lokal, hingga nilai-nilai budaya yang ditemui sehari-hari menjadi sumber inspirasi untuk dituangkan dalam bentuk cerita.
Dengan pendekatan tersebut, workshop tidak berhenti pada penyampaian materi secara teoritis.
Peserta juga memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan proses penulisan, mengembangkan ide, serta menghasilkan karya cerita anak dalam Bahasa Aceh sebagai salah satu output kegiatan.
Kehadiran siswa dari Kota Jantho sekaligus memperlihatkan ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan dalam pengembangan bahasa dan budaya.
Para siswa ditempatkan sebagai bagian dari proses kreatif. Dengan demikian, upaya pelestarian Bahasa Aceh tidak hanya diperkenalkan kepada generasi muda, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk ikut menghasilkan karya menggunakan bahasa daerah.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh, Angga Eka Karina, serta sejumlah dosen Program Studi Bahasa Aceh, yakni Wita Dwipayana, Inas Ghina, dan Nurlayli Yanti.
Melalui “Aneuk Aceh, Calitra Aceh”, Program Studi Bahasa Aceh ISBI Aceh berupaya memperluas ruang penggunaan Bahasa Aceh melalui karya kreatif.
Workshop ini sekaligus mempertemukan dunia pendidikan, sastra, bahasa, dan kebudayaan dalam proses kreatif yang melibatkan generasi muda.
Karya cerita anak berbahasa Aceh yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti sebagai produk workshop, tetapi menjadi langkah awal untuk menghadirkan lebih banyak bacaan anak yang bersumber dari kekayaan budaya dan pengalaman lokal Aceh.
Dengan demikian, bahasa dan budaya tidak hanya diwariskan sebagai pengetahuan, tetapi terus dihidupkan melalui karya dan kreativitas generasi muda. []






