DISTORI.ID – Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, menginisiasi pelatihan Training of Trainers (ToT) Ketahanan Keluarga bagi kader penggerak gampong di Kota Banda Aceh.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan keluarga.
Pelatihan yang diadvokasi Farid tersebut dilaksanakan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh selama dua hari, 5–6 November 2026, di Hotel Al Hanifi, Lampriet, Banda Aceh.
Kegiatan ini diikuti 50 peserta dari sembilan kecamatan di Banda Aceh. Mereka dipersiapkan menjadi kader yang mampu berperan aktif dalam membangun ketahanan keluarga sekaligus memahami berbagai persoalan sosial yang dapat memengaruhi keharmonisan rumah tangga.
Farid mengatakan, pelatihan tersebut dirancang untuk membekali para kader dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali persoalan keluarga, memahami faktor penyebabnya, serta melakukan edukasi dan pendampingan di lingkungan masyarakat.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyebutkan, selama pelatihan berlangsung, DP3AP2KB menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan.
Di antaranya Kepala DP3AP2KB Banda Aceh, Tiara Sutari AR, serta Konselor Keluarga, Hypnotherapist, dan Grafolog, Erina Rusdian Sari. Turut memberikan materi Praktisi Kesehatan Herbal dan Komunikasi Keluarga, Febri Sugianto.
Materi yang diberikan mencakup berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), meningkatnya angka perceraian, tantangan pengasuhan anak, penyalahgunaan narkoba, hingga persoalan gizi dan stunting.
Selain memahami persoalan keluarga, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai komunikasi efektif dan empatik, teknik edukasi, serta keterampilan mendampingi masyarakat dalam menghadapi persoalan rumah tangga.
“Mereka dibekali pengetahuan mengenai berbagai persoalan keluarga yang terjadi di tengah masyarakat, seperti tingginya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), persoalan ekonomi, hingga masalah pengasuhan anak,” ujar Farid.
Ia berharap, setelah mengikuti pelatihan, para kader dapat menerapkan ilmu yang diperoleh dengan turun langsung ke masyarakat.
Mereka juga diharapkan mampu menyusun berbagai program edukasi dan pendampingan untuk memperkuat ketahanan keluarga di lingkungan masing-masing.
Farid menilai, salah satu persoalan ketahanan keluarga yang cukup krusial di Banda Aceh adalah tingginya angka perceraian.
Berdasarkan data Mahkamah Syar’iyah (MS) Kota Banda Aceh, sekitar 70–80 persen perkara perceraian yang ditangani merupakan gugatan cerai yang diajukan pihak perempuan.
Beberapa faktor yang melatarbelakanginya antara lain KDRT dan persoalan ekonomi.
“Persoalan ekonomi menjadi salah satu pemicu, misalnya ketika suami tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga atau terjadi masalah dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Kondisi tersebut dapat memicu konflik berkepanjangan hingga berujung pada perceraian,” papar Farid.
Menurutnya, pemerintah harus hadir dalam menangani berbagai persoalan tersebut.
Namun, keterbatasan sumber daya membuat pemerintah membutuhkan dukungan dan kolaborasi dengan kader serta kelompok masyarakat yang bergerak di bidang ketahanan keluarga.
Dengan demikian, berbagai program pemerintah dapat berjalan lebih efektif melalui keterlibatan masyarakat hingga ke tingkat gampong.
Sementara itu, Kepala DP3AP2KB Kota Banda Aceh, Tiara Sutari, mengatakan berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat memiliki keterkaitan erat dengan kondisi keluarga.
Persoalan seperti kenakalan remaja, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, hingga perceraian tidak terlepas dari dinamika dan ketahanan keluarga. Karena itu, penguatan keluarga perlu dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara langsung.
“Kami menyadari bahwa dinas tidak mungkin bekerja sendiri, terlebih dengan keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki. Oleh sebab itu, kami memiliki program kemitraan dengan masyarakat,” ujarnya.
Tiara menjelaskan, para peserta yang mengikuti pelatihan merupakan kader perempuan yang nantinya menjadi mitra pemerintah dalam memperkuat ketahanan keluarga.
Peran mereka diharapkan menjangkau lingkungan keluarga, tingkat gampong, hingga masyarakat secara luas.
Mereka juga diharapkan menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyampaikan edukasi mengenai pentingnya membangun keluarga yang tangguh dan harmonis.
“Tidak ada keluarga yang sepenuhnya terbebas dari persoalan. Namun, keluarga yang mampu melewati berbagai ujian dan mempertahankan keharmonisan rumah tangga merupakan keluarga yang memiliki ketahanan. Inilah yang ingin kami tanamkan melalui kegiatan tersebut, yakni membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah,” paparnya.
Melalui kegiatan ini, DP3AP2KB berharap pengetahuan yang diperoleh para kader dapat diteruskan kepada masyarakat melalui kegiatan edukasi, komunikasi, dan pendampingan keluarga secara berkelanjutan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AP2KB Kota Banda Aceh, Risda Zuraida, Ketua RKI Kota, Cut Irma Yunita, Koordinator Majelis Taklim Kuta Alam, Santi Zuhra, serta sejumlah Ketua TP PKK gampong. []






