DISTORI.ID – Basarnas menyiapkan langkah lanjutan untuk membuka akses pencarian korban di dalam KM Virgo Transport 8 yang terbalik dan masih mengapung di Laut Jawa.
Salah satu opsi yang disiapkan yakni membalik posisi kapal untuk memungkinkan tim SAR melakukan pencarian di bagian dalam badan kapal.
Langkah tersebut akan ditempuh apabila operasi pencarian bawah laut atau underwater masih terkendala cuaca dan kondisi arus di lokasi.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, setelah kapal berhasil dibalik, tim SAR akan melakukan pemeriksaan dan pencarian di dalam badan kapal sekaligus mengevakuasi korban yang kemungkinan masih berada di dalamnya.
“Apabila pencarian underwater belum bisa kita lakukan akibat cuaca, kita merencanakan untuk salvage. Yaitu, kita ingin membalikkan kondisi kapal ini dan akan kita laksanakan pencarian di dalam kapal tersebut dan kita akan evakuasi,” ujar Syafii, dikutip Kamis, 17 September 2026.
Salvage merupakan proses penanganan atau pertolongan terhadap kapal maupun muatannya yang mengalami kecelakaan atau berada dalam kondisi berbahaya di perairan.
Namun, rencana membalik kapal belum langsung dilaksanakan. Basarnas masih melakukan kajian teknis bersama sejumlah ahli untuk memastikan metode yang digunakan aman serta sesuai dengan kondisi kapal dan perairan di lokasi.
“Baru setelah diyakinkan proses SAR ini selesai baru kapal ini akan kita tarik untuk kepentingan investigasi,” kata Syafii.
Untuk mematangkan rencana tersebut, sejumlah ahli dari berbagai daerah, termasuk dari luar negeri, telah tiba di Banjarmasin.
Mereka akan terlebih dahulu melakukan observasi melalui udara guna melihat kondisi kapal dan situasi di sekitar lokasi kejadian.
Hasil observasi tersebut akan menjadi bahan asesmen sebelum Basarnas mengambil keputusan terkait metode dan teknis penanganan kapal.
“Setelah itu Baru kembali lagi ke sini untuk dilaksanakan rapat koordinasi sambil menentukan sarana prasarana apa yang dibutuhkan untuk dihadirkan di tempat ini. Artinya, bisa dari Surabaya atau mungkin ada perlengkapan-perlengkapan yang ada di Kalimantan sini atau mungkin dari tempat lain,” tutur Syafii.
Basarnas juga masih menghitung kebutuhan sarana dan prasarana untuk mendukung operasi tersebut.
Peralatan yang diperlukan dapat didatangkan dari Surabaya, wilayah Kalimantan, maupun daerah lain sesuai hasil kajian dan kebutuhan di lapangan. []





