DISTORI.ID – Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) meminta seluruh bupati/wali kota se-Aceh meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana menyusul prediksi peningkatan intensitas curah hujan dalam tiga bulan ke depan.
Mualem meminta pemerintah kabupaten/kota melakukan langkah terpadu untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah masing-masing.
Upaya tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi berbagai dampak yang dapat ditimbulkan oleh peningkatan curah hujan.
“Langkah itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi dampak dari peningkatan intensitas curah hujan yang akan terjadi selama kurun waktu tiga bulan ke depan,” kata Mualem melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Kamis (17 September 2026).
Imbauan tersebut mengacu pada informasi prediksi curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Aceh.
BMKG memprediksi wilayah Aceh akan mengalami curah hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi pada periode Oktober hingga Desember 2026.
Menurut Nurlis, Mualem juga telah menyampaikan imbauan tersebut secara tertulis kepada seluruh bupati/wali kota melalui surat bernomor 300.2/11114 tertanggal 14 September 2026.
Surat tersebut ditandatangani Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Taufik atas nama Gubernur Aceh.
BMKG memberikan sejumlah rekomendasi kesiapsiagaan berdasarkan wilayah yang diprediksi mengalami tingkat curah hujan berbeda.
Untuk wilayah dengan prediksi curah hujan rendah, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau melakukan konservasi serta penghematan air, termasuk menggunakan air secara bijak dan memperbaiki kebocoran.
Selain itu, perlu dilakukan pembangunan infrastruktur resapan air seperti biopori, sumur resapan, dan embung.
Penyesuaian sektor pertanian terhadap kondisi kering, antara lain melalui penggunaan varietas tahan kering, palawija, dan sistem irigasi tetes, juga perlu dilakukan.
Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menjadi perhatian.
Sementara itu, untuk wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, langkah kesiapsiagaan yang perlu dilakukan antara lain membersihkan lingkungan dan saluran drainase melalui kegiatan gotong royong.
Masyarakat juga diimbau menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) yang berisi dokumen penting dan perlengkapan dasar.
Selain itu, keamanan kelistrikan dan aset perlu diperhatikan, termasuk mematikan aliran listrik dan mengamankan barang-barang berharga saat terjadi bencana.
Masyarakat juga diminta terus memantau informasi peringatan dini BMKG dan bersiap melakukan evakuasi apabila kondisi mengharuskan.
Sebelumnya, Mualem juga telah mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana seiring masuknya musim hujan.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul banjir dan longsor yang terjadi di sejumlah wilayah Aceh bagian tengah.
“Pak Gubernur menyampaikan bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi setahun lalu membuat tanah di kawasan bencana belum kokoh dan labil,” kata Nurlis, Senin (14 September 2026).
Menurut Nurlis, pernyataan tersebut disampaikan Mualem setelah menerima laporan mengenai musibah tanah longsor di tiga kabupaten.
Pada Kamis (3 September 2026), Mualem juga telah mengingatkan tentang potensi kerawanan bencana saat musim hujan.
“Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena dapat meningkatkan risiko terjadinya banjir, longsor, dan bencana lainnya di sejumlah wilayah,” kata Mualem.
Mualem menekankan pentingnya sinergi seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh, termasuk TNI dan Polri, bersama pemerintah kabupaten/kota serta instansi terkait.
Perguruan tinggi negeri dan swasta juga diharapkan ikut berperan dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Kolaborasi seluruh unsur tersebut dinilai penting untuk memperkuat kesiapsiagaan, mempercepat respons di lapangan, serta memastikan keselamatan masyarakat menjadi prioritas bersama. []






