DISTORI.ID – Perdana Menteri Timor-Leste, Xanana Gusmao, mengaku merasa sangat terhormat setelah menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin (Unhas).
Namun, bagi Xanana, penghargaan tersebut bukan sekadar sebuah kehormatan.
Gelar doktor kehormatan itu justru menjadi tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat Timor-Leste.
“Saya merasa tidak hanya sangat terhormat, tetapi saya juga berpikir bahwa segala sesuatu yang disampaikan dan diberikan doktor kehormatan dalam arti tertentu lebih besar dari sekadar kata-kata,” ujar Xanana saat konferensi pers di Kampus Unhas, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Xanana, rakyat Timor-Leste merupakan pahlawan sejati dalam perjalanan panjang menuju kemerdekaan.
Karena itu, penghargaan yang diterimanya tidak boleh dimaknai sebagai pencapaian pribadi.
“Seperti yang sudah sering saya katakan, pahlawan sejati adalah rakyat kita. Tidak ada lagi pahlawan di Barat, pahlawan adalah rakyat Timor-Leste,” katanya.
Xanana menyadari, 24 tahun setelah Timor-Leste merdeka, masih banyak persoalan yang harus dihadapi.
Kemiskinan dan berbagai kesulitan yang dialami masyarakat menjadi pekerjaan besar yang belum selesai.
“Setelah 24 tahun merdeka, kita masih melihat kemiskinan, kita masih melihat banyak sekali masalah yang dihadapi rakyat kita,” tuturnya.
Karena itu, Xanana memandang gelar Doktor Honoris Causa dari Unhas sebagai sebuah amanat untuk terus bekerja demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat Timor-Leste.
“Ini adalah tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Kita harus terus berbuat yang terbaik bagi rakyat, untuk kemerdekaan dan kesejahteraan,” ujarnya.
Xanana menegaskan, perjuangan tersebut bukan untuk kepentingan dirinya secara pribadi.
Menurut dia, seluruh upaya harus dikembalikan kepada rakyat Timor-Leste yang telah memilih dan memperjuangkan kemerdekaan.
“Kita harus terus melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk rakyat yang telah memilih dan menginginkan kemerdekaan, bukan untuk saya pribadi,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Xanana juga menyampaikan pandangannya mengenai peran universitas dalam membentuk pemimpin masa depan.
Ia menilai perguruan tinggi tidak sekadar menjadi tempat untuk mendapatkan gelar, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk belajar berpikir, melakukan penelitian, memahami berbagai persoalan serta mencari solusi untuk masa depan.
“Saya menggambarkan perasaan saya terhadap Unhas dan universitas yang mengajarkan bagaimana orang berpikir, meneliti semua faktor, sains, alam, sosial. Pemimpin baru datang dari sana,” jelasnya.
Menurut Xanana, seorang pemimpin tidak dapat dibentuk hanya dengan menunjuk atau mengatakan seseorang untuk menjadi pemimpin.
Kepemimpinan, kata dia, harus tumbuh secara alami melalui proses belajar, pengalaman, penelitian, dan kemampuan menghadapi persoalan.
“Kita tidak hanya bilang, ‘Kamu pergi ke sini, kamu akan menjadi pemimpin.’ Tidak, tidak bisa. Tidak bisa, secara alami,” katanya.
Xanana kemudian menyinggung perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), yang menurutnya perlu disikapi secara kritis oleh generasi muda.
Ia mengingatkan agar generasi muda tidak terlalu bergantung pada Google maupun AI dalam mencari pengetahuan dan memahami berbagai persoalan.
“Kita tidak butuh generasi muda jika mereka bergantung terlalu banyak pada Google dan AI, karena mereka tidak akan menjadi mesin,” ujarnya.
Xanana menilai pemimpin masa depan justru akan lahir dari generasi muda yang mau mencari tahu, meneliti, mencoba memahami persoalan, serta menemukan solusi secara mandiri.
“Itulah sebabnya, berbicara tentang pemimpin dunia, mereka berasal dari generasi muda yang meneliti, mencari, dan mencoba memahami semua masalah ini,” pungkasnya. []






