DAERAHNEWSPERISTIWA

Gunung Anak Krakatau Meletus, CCTV Pemantau Mati Diterjang Material Vulkanik

DISTORI.ID – Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berada di perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada akhir pekan ini.

Meski aktivitas vulkaniknya meningkat, status gunung tersebut hingga kini masih berada pada Level III atau Siaga.

Erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau berdampak pada sistem pemantauan aktivitas vulkanik.

Kamera pengawas yang digunakan untuk memantau kondisi gunung dilaporkan mengalami kerusakan setelah terkena lontaran material vulkanik.

Dengan kondisi tersebut, pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau untuk sementara dilakukan secara visual dari sejumlah pos pengamatan, termasuk Pos Pantau Pasauran di Kabupaten Serang, Banten, serta pos pengamatan yang berada di wilayah Lampung.

Kerusakan kamera pemantau itu tercantum dalam laporan pengamatan yang dibuat Rioboniek Situmorang dan dipublikasikan melalui Magma Indonesia, platform resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dalam laporan yang dikutip pada Sabtu (5/9/2026) pukul 12.09 WIB tersebut disebutkan bahwa kamera pengamatan di lapangan tidak berfungsi setelah terkena lontaran material erupsi.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau juga terekam dalam sejumlah video yang kemudian beredar di berbagai platform media sosial.

Selain visual letusan, aktivitas vulkanik gunung tersebut juga disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga Pos Pantau Pasauran, Kabupaten Serang.

Berdasarkan hasil pengamatan kegempaan, tercatat satu kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo maksimum 70 milimeter. Durasi gempa tersebut tercatat selama 21.600 detik.

Seiring aktivitas tersebut, masyarakat diingatkan untuk tidak melakukan kegiatan dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Anak Krakatau.

Larangan itu diberlakukan untuk mengantisipasi risiko lontaran material vulkanik dari kawah aktif.

BNPB Imbau Warga Tak Panik

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di kawasan pesisir Banten dan Lampung, tetap tenang dan tidak panik menyikapi aktivitas Gunung Anak Krakatau.

BNPB bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan agar masyarakat, nelayan, maupun wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat pesisir juga diminta memastikan jalur evakuasi dan titik kumpul telah diketahui serta siap digunakan apabila sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.

BNPB juga mengingatkan warga agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau hanya untuk melihat atau merekam langsung aktivitas erupsi.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan potensi tsunami yang dikhawatirkan masyarakat pesisir Banten dan Lampung menjadi salah satu perhatian pemerintah menyusul kembali aktifnya Gunung Anak Krakatau.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari pengalaman tsunami pada 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Namun, berdasarkan evaluasi PVMBG, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil.

Kondisi tersebut dinilai tidak menunjukkan potensi terjadinya keruntuhan masif yang dapat memicu tsunami.

Karena itu, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah maupun lembaga terkait, tanpa terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button