DISTORI.ID – Kelompok Kajian Kebijakan Publik, Movement for Future (MFF) Syndicate mengapresiasi langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI memperluas jaringan Garuda Spark Innovation Hub menjadi 10 hub sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem inovasi dan ekonomi digital yang lebih merata di Indonesia.
Pendiri MFF Syndicate sekaligus Ketua Pembina Yayasan Citizen OS Indonesia, M. Fauzan Febriansyah, menilai kebijakan tersebut penting karena transformasi digital tidak boleh berhenti pada pembangunan infrastruktur dan digitalisasi layanan, tetapi harus menghasilkan talenta, perusahaan teknologi, lapangan kerja, dan solusi publik baru dari daerah.
“Garuda Spark harus kita lihat bukan sekadar sebagai gedung atau ruang kerja bersama, tetapi harus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru yang menghubungkan talenta daerah dengan kampus, industri, investor, pemerintah, dan pasar nasional maupun global,” ujar Fauzan.
Menurut Komdigi, Garuda Spark dirancang sebagai ekosistem kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, akademisi, industri, startup, investor, komunitas, dan media. Program ini juga memiliki target besar untuk mendorong lahirnya dua juta wirausahawan teknologi baru dari berbagai daerah di Indonesia.
Aceh Membutuhkan Ekosistem, Bukan Sekadar Infrastruktur Digital
Fauzan melihat Aceh memiliki alasan kuat untuk menjadikan Garuda Spark sebagai instrumen pembangunan ekonomi daerah.
Data BPS menunjukkan angkatan kerja Aceh pada Februari 2026 mencapai sekitar 2,657 juta orang, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 5,88 persen.
“Angka ini menunjukkan bahwa agenda ekonomi digital di Aceh harus dikaitkan langsung dengan persoalan ketenagakerjaan. Ukuran keberhasilannya bukan berapa banyak kegiatan yang diselenggarakan, tetapi berapa banyak talenta yang naik kelas, startup yang tumbuh, omzet yang tercipta, investasi yang masuk, dan pekerjaan baru yang terbentuk,” katanya.
Kehadiran Garuda Spark di Banda Aceh menjadi peluang strategis karena ekosistem komunitas, kampus dan talenta teknologi di Aceh sebenarnya telah berkembang.
Komdigi sebelumnya menyebut Banda Aceh memiliki potensi besar, tetapi masih membutuhkan ruang yang mampu menghubungkan berbagai aktor tersebut dengan industri dan pasar.
Fauzan mengusulkan agar Garuda Spark Aceh memiliki dashboard dampak tahunan dengan sejumlah indikator sederhana: jumlah talenta yang dilatih dan tersertifikasi, startup yang diinkubasi, startup yang memperoleh pendanaan, nilai transaksi atau omzet yang tercipta, jumlah tenaga kerja baru, jumlah produk digital yang masuk pasar, serta jumlah proyek pemerintah maupun korporasi yang melibatkan talenta dan perusahaan teknologi Aceh.
“Kalau indikator tersebut bisa dibuka secara berkala, publik dapat melihat dengan jelas bahwa investasi negara pada ekosistem digital menghasilkan return sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Belajar dari Estonia: Digitalisasi Negara Harus Menguatkan Partisipasi
Fauzan mengatakan perspektif tersebut juga dipengaruhi pengalamannya mengikuti kursus e-democracy dan ekosistem kebijakan publik digital di Estonia pada 2019, dengan dukungan Citizen OS Foundation yang berbasis di Tallinn.
Citizen OS sendiri merupakan organisasi nirlaba civic tech yang mengembangkan teknologi untuk memperkuat partisipasi publik dan pengambilan keputusan kolaboratif. Organisasi tersebut berbasis di Tallinn dan memiliki jejaring di Indonesia.
“Pengalaman di Estonia memberikan satu pelajaran penting: transformasi digital negara tidak cukup hanya dengan mendigitalisasi layanan pemerintahan. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi menciptakan ekosistem baru warga lebih terlibat, pemerintah lebih responsif, inovasi tumbuh, dan keputusan publik semakin berbasis data,” kata Fauzan.
Karena itu, ia berharap Garuda Spark tidak hanya menjadi program pengembangan startup, tetapi juga berkembang menjadi laboratorium kebijakan digital daerah.
“Di Aceh, kita membutuhkan ruang tempat anak muda tidak hanya belajar membuat aplikasi, tetapi juga memecahkan persoalan nyata: pertanian, energi, perikanan, pendidikan, kesehatan, pariwisata, UMKM, hingga tata kelola pemerintahan,” ujarnya.
Fauzan menambahkan, ekonomi kreatif sendiri telah menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja nasional pada 2025, atau 18,70 persen dari total tenaga kerja. Angka tersebut menunjukkan besarnya ruang ekonomi yang dapat dikembangkan melalui kreativitas, teknologi dan inovasi.
Dari Innovation Hub Menjadi Impact Hub
MFF Syndicate berharap perluasan Garuda Spark menjadi 10 hub diikuti dengan penguatan konektivitas antarhub.
Talenta Aceh harus dapat mengakses mentor di Jakarta, pasar di Bandung, investor dari Singapura, industri di Medan, dan jaringan global tanpa harus meninggalkan Aceh.
“Jangan sampai anak muda Aceh harus pindah ke Jakarta untuk mendapatkan ekosistem. Justru ekosistem nasional harus datang dan terkoneksi dengan mereka di Aceh,” kata Fauzan.
Ia juga mendorong Komdigi menjadikan Aceh sebagai salah satu laboratorium pengembangan ekonomi digital berbasis daerah, dengan mengintegrasikan startup, perguruan tinggi, pemerintah daerah, BUMD, industri, komunitas dan investor.
“Garuda Spark harus bergerak dari innovation hub menjadi impact hub: tempat percikan ide berubah menjadi perusahaan, pekerjaan, investasi dan solusi bagi masyarakat,” tutup Fauzan. []






