DAERAHNEWSPERISTIWA

Pengungsi di Aceh Tamiang Butuh Air Bersih dan MCK

DISTORI.ID – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 lalu menyisakan duka mendalam bagi ribuan warga.

Ratusan korban bencana kini masih harus bertahan di tenda-tenda pengungsian, menghadapi berbagai keterbatasan, terutama akses terhadap fasilitas dasar.

Kebutuhan mendesak akan air bersih serta tempat mandi, cuci, kakus (MCK) yang layak menjadi prioritas utama bagi para pengungsi untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini disampaikan oleh Ramadan, salah seorang korban banjir yang saat ini mengungsi di kompleks perkantoran Karang Baru.

Ia menjelaskan bahwa fasilitas MCK yang ada jauh dari kata layak, menyebabkan ketidaknyamanan, khususnya bagi wanita.
Situasi ini diperparah dengan belum pulihnya kondisi rumah sebagian besar pengungsi yang masih tertimbun lumpur tebal.

Diperkirakan lebih dari 500 pengungsi menempati tenda-tenda darurat di sekitar kompleks perkantoran pemerintahan tersebut, sebagian besar berasal dari Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru.

Mereka adalah warga yang rumahnya hilang, rusak parah, atau tertimbun lumpur lebih dari satu meter akibat terjangan banjir.

Fasilitas MCK di lokasi pengungsian di Aceh Tamiang sangat memprihatinkan dan tidak memenuhi standar kelayakan.

Kondisi ini menciptakan lingkungan yang tidak higienis dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan baru di kalangan pengungsi.

Para pengungsi, terutama kaum perempuan, merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi MCK seadanya yang tersedia.

Jumlah pengungsi yang mencapai ratusan orang di satu titik, seperti di kompleks perkantoran Karang Baru, memperburuk tekanan pada fasilitas sanitasi yang terbatas.

Sebagian besar dari mereka berasal dari Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, yang terdampak parah oleh banjir.

Banyak korban banjir belum dapat kembali ke rumah mereka karena kerusakan yang signifikan, mulai dari rumah yang hilang, rusak parah, hingga tertimbun lumpur setinggi lebih dari satu meter.

Kondisi ini membuat mereka bergantung sepenuhnya pada fasilitas di pengungsian, yang sayangnya belum memadai. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button