DISTORI.ID – Kesenian tradisional Rapa’i Bubee asal Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, kini dikembangkan melalui karya audio-visual kontemporer bertajuk Suesama.
Transformasi kesenian tradisional tersebut merupakan hasil riset berbasis penciptaan karya seni yang didanai melalui Hibah PNBP DIPA ISBI Aceh Tahun 2026.
Penelitian ini dipimpin Rizki Mona Dwi Putra bersama dua anggota tim, Arizka Amanda dan Leini Nadira Rambe.
Ketua tim peneliti, Rizki Mona Dwi Putra, menjelaskan bahwa nama Suesama memiliki makna “suara yang menyatu”.
Nama tersebut merepresentasikan semangat kebersamaan, gotong royong, serta daya bangkit para seniman Aceh pascabencana.
Melalui pendekatan practice-based research atau penelitian berbasis praktik, tim mengembangkan unsur musikal Rapa’i Bubee dengan memadukan pola ritme, teknik interlocking, dan vokal syair tradisional bersama instrumen musik kontemporer, seperti bas elektrik dan Sarune Kale.
Album Suesama dikemas dalam tiga karya audio-visual utama yang memiliki karakter dan pesan berbeda.
Karya pertama berjudul Denyut Bubee, yang mengolah pola pukulan ostinato dan interlocking khas Rapa’i Bubee dengan perpaduan groove bas elektrik. Karya ini menjadi simbol keteguhan dan semangat untuk terus berkarya.
Karya kedua, Geunta Meusapat, menghadirkan perjalanan musikal dari suasana tenang menuju puncak permainan secara unisono.
Komposisi tersebut menggambarkan persatuan energi dan semangat kebangkitan bersama.
Sementara itu, karya ketiga berjudul Suara Langit lebih menonjolkan eksplorasi vokal melalui teknik call and response serta penggunaan syair tradisional. Karya ini dimaknai sebagai gema doa dan harapan.
Selain menghasilkan album audio-visual yang dipublikasikan melalui platform YouTube, penelitian tersebut juga melahirkan sejumlah luaran akademik.
Di antaranya artikel ilmiah yang diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi Sinta 3, rencana pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta upaya mendorong pengenalan dan pengajaran Rapa’i Bubee melalui kurikulum perguruan tinggi.
Melalui proyek ini, tim peneliti ingin menunjukkan bahwa kesenian tradisional Aceh memiliki ruang untuk terus berkembang tanpa kehilangan identitas budayanya.
Perpaduan tradisi dan pendekatan musikal kontemporer dalam album Suesama sekaligus menjadi upaya memperkenalkan kekayaan seni Aceh kepada generasi muda dan masyarakat luas di tengah perkembangan era digital. []






