NEWSPEMERINTAH

Pemko Banda Aceh Dorong Sekolah Perkuat Pendidikan Inklusif

DISTORI.ID – Pemerintah Kota Banda Aceh mendorong para guru sekolah dasar (SD) untuk memperkuat penerapan pendidikan inklusif serta meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi dan mendampingi peserta didik sesuai kebutuhan masing-masing.

“Setiap anak lahir unik dan istimewa. Ada anak yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan waktu lebih. Ada anak yang membutuhkan pendampingan khusus,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banda Aceh, Jalaluddin di Workshop Identifikasi dan Pendampingan Peserta Didik dalam Pendidikan Inklusif bagi Guru Sekolah Dasar se-Kota Banda Aceh yang digelar di Balee Kerukon Balai Kota Banda Aceh, Senin (5/10/2026).

Menurut Sekda, pendidikan inklusif bukan sekadar menerima peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah reguler.

Lebih dari itu, pendidikan inklusif harus mampu menciptakan lingkungan sekolah yang menghargai keberagaman, memberikan rasa aman, serta memastikan tidak ada anak yang merasa tersisih maupun tertinggal.

Jalaluddin mengatakan, guru memiliki posisi penting karena berinteraksi langsung dengan peserta didik setiap hari.

Kepekaan guru dalam melihat perubahan perilaku, kesulitan belajar maupun hambatan sosial anak menjadi salah satu kunci keberhasilan pendidikan inklusif.

Ia meminta guru tidak terburu-buru memberikan label terhadap anak yang mengalami kesulitan belajar atau menunjukkan hambatan perilaku.

“Jangan cepat-cepat memberi label atau stigma. Mari kita pahami, kita identifikasi masalahnya, dan kita berikan pendampingan terbaik yang sesuai dengan kebutuhannya,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pendidikan inklusif dalam mendukung proses transisi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menuju Sekolah Dasar (SD).

Menurutnya, masa transisi tersebut merupakan tahapan penting dalam tumbuh kembang anak.

Perpindahan dari PAUD ke SD tidak hanya menyangkut perubahan jenjang pendidikan, tetapi juga proses adaptasi anak terhadap lingkungan baru, pembentukan kepercayaan diri, dan karakter.

“Proses transisi ini harus berlangsung secara menyenangkan, ramah anak, dan bebas dari tekanan. Kita ingin anak-anak melangkah ke Sekolah Dasar dengan rasa bahagia, merasa diterima dengan hangat, dan memiliki keyakinan bahwa sekolah adalah rumah kedua yang aman dan menyenangkan,” ujarnya.

Selain pendidikan inklusif, Jalaluddin juga mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan atau bullying.

Ia menilai perundungan dalam bentuk ejekan, pemberian nama panggilan yang merendahkan, intimidasi fisik, pengucilan hingga cyberbullying dapat berdampak serius terhadap perkembangan anak.

“Sering kali kita mendengar perundungan dianggap sekadar candaan anak-anak. Namun, apa yang dianggap candaan oleh si pembuat bisa menjadi luka batin yang membekas seumur hidup bagi anak yang menerimanya,” katanya.

Karena itu, ia mengajak seluruh tenaga pendidik di Kota Banda Aceh membangun gerakan bersama untuk mencegah dan menghentikan segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah.

Ada empat langkah yang ditekankan, yakni menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi anak, menanamkan empati serta toleransi sejak dini, meningkatkan kepekaan dan respons cepat guru terhadap indikasi perundungan, serta memperkuat kemitraan antara sekolah dan orang tua.

Jalaluddin menegaskan, tugas guru tidak hanya sebatas menyelesaikan kurikulum atau mengajarkan kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung.

Guru juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada peserta didik.

“Mari kita pastikan anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan hak pendampingannya. Mari kita pastikan anak yang lambat belajar dirangkul dengan kesabaran. Dan mari kita pastikan tidak ada satu pun anak di Kota Banda Aceh yang menjadi korban perundungan di sekolahnya,” tegasnya.

Ia turut menyampaikan apresiasi kepada Pokja Bunda PAUD Kota Banda Aceh, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, para narasumber, fasilitator serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan workshop tersebut.

Kepada para guru peserta workshop, ia berpesan agar ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan secara nyata di sekolah masing-masing. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button