DISTORI.ID – Penyidikan kasus pembakaran Warung Mi dan Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, terus bergulir.
Polres Sukoharjo kini melibatkan Densus 88 Antiteror Polri dan Jatanras Polda Jawa Tengah untuk mendalami aksi pembakaran yang terjadi pada Sabtu (12/9) dini hari.
Hingga Selasa (15/9), penyidik Satreskrim Polres Sukoharjo telah meminta keterangan dari 12 orang saksi.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengungkap rangkaian kejadian sekaligus mencari titik terang mengenai motif di balik aksi tersebut.
Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo mengatakan, pihaknya berkoordinasi dengan Densus 88 dan Jatanras Polda Jateng dalam proses penyelidikan.
“Kami juga menggandeng Densus 88 dan Jatanras dalam proses pendalaman kasus ini,” ujar Anggaito.
Menurut dia, keterlibatan Densus 88 salah satunya untuk menelusuri lebih jauh rangkaian peristiwa serta kemungkinan motif yang melatarbelakangi pembakaran.
Salah seorang saksi, Ali (32), mengungkapkan pengalaman mencekam ketika sejumlah orang tak dikenal mendatangi tempat tinggalnya.
Ia menyebut empat pelaku mendobrak pintu kamarnya sebelum menarik dirinya keluar.
“Saya waktu itu di kamar. Tiba-tiba kamar saya didobrak, kemudian saya ditarik keluar. Saya ditodong, jangan lihat, pakai pisau,” tutur Ali.
Ali mengatakan para pelaku mengenakan pakaian yang menutupi hampir seluruh bagian tubuh, mulai dari helm, jaket hingga celana panjang.
Salah seorang di antaranya diperkirakan memiliki tinggi sekitar 170 sentimeter.
Dari cara pelaku menjalankan aksinya, Ali menduga pembakaran tersebut telah dipersiapkan sebelumnya.
Ia menyebut kamarnya justru menjadi sasaran pertama saat kelompok tersebut masuk ke lokasi.
“Yang pertama dituju kamar saya. Mungkin sudah direncanakan, sudah tahu titik-titiknya,” katanya.
Dalam aksinya, para pelaku diduga membagi tugas. Dua orang disebut membakar sepeda motor, gudang dan kamar, sementara dua lainnya merusak serta membakar perangkat CCTV yang berada di lokasi.
Sebelum meninggalkan tempat kejadian, Ali mengaku diperintahkan untuk menghitung hingga angka 1.000.
Namun, para pelaku ternyata sudah pergi ketika hitungannya baru mencapai angka 30.
“Tapi baru hitung 30, mereka sudah pergi,” ucapnya.
Setelah memastikan para pelaku meninggalkan lokasi, Ali berlari menuju pabrik yang berada di sekitar tempat kejadian untuk meminta pertolongan petugas keamanan.
Kobaran api kemudian ditangani petugas pemadam kebakaran dengan mengerahkan dua unit mobil damkar.
Sementara itu, pemilik warung, Jodi Sutanto, mengungkapkan bahwa usaha tersebut sebelumnya memang sempat mendapat penolakan.
Pada April lalu, terjadi aksi demonstrasi yang mempersoalkan penjualan makanan nonhalal di warung miliknya.
“Permasalahannya cuma satu, kita tidak boleh jualan nonhalal dan disuruh tutup karena masyarakat di sana mayoritas Muslim. Kalau perizinan kita sudah lengkap,” kata Jodi.
Setelah aksi penolakan tersebut, kondisi di sekitar warung disebut kembali kondusif. Karena itu, Jodi mengaku tidak menduga persoalan tersebut akan berakhir dengan aksi pembakaran.
“Saya tidak bisa mengatakan siapa dan siapanya. Nanti biar pihak kepolisian saja yang menyelesaikan,” ujarnya.
Polisi hingga kini masih melakukan serangkaian pemeriksaan dan mengumpulkan barang bukti.
Penyidik juga menelusuri keterangan sejumlah saksi yang mengetahui aktivitas para pelaku sebelum aksi pembakaran berlangsung.
Garis polisi masih terpasang di sekitar lokasi kejadian. Pemeriksaan tempat kejadian perkara juga masih dilakukan sehingga kegiatan usaha di warung tersebut untuk sementara belum dapat berjalan.
Polres Sukoharjo menyatakan penyidikan akan terus dilakukan untuk mengungkap pelaku maupun pihak yang bertanggung jawab atas pembakaran tersebut. []






