Sejak bulan Ra’jab masyrakat Aceh ramai-ramai memasak apam dan menikmatinya bersama keluarga bahkan dibagikan kepada tetangganya. Saat itu pula bulan Ra’jab bagi orang Aceh dikenal dengan buleun Apam.
Farid menyebutkan, ada banyak filosofi terkandung dalam perayaan buleun Apam, diantaranya mensyukuri nikmat Allah SWT sebelum datangnya bulan Ramadan, kemudian memperkuat silaturrahmi dan ukhwah sesama masyarakat Aceh, lalu memuliakan dan merawat tradisi endatu agar tidak punah di telan masa.
“Di gampong-gampong saat buleun Ra’jab, masyarakat Aceh selalu memasak apam. Hari ini di antara kita ada yang tidak pulang kampung, tapi kita melepas rindu dengan menggelar tradisi warisan endatu kita sekaligus meningkatkan syukur kepada Allah dengan khanduri Apam,” katanya.
Farid juga mengajak kepada pemuda Aceh agar terus mengajak untuk merawat tradisi yang berasal dari Pidie ini. Apalagi, tahun 2022 apam masuk daftar warisan budaya tak benda (WBTB) nasional.
“Mari kita lestarikan kuliner endatu tiap tahun ini sebagai upaya merawat warisan khususya bagi masyarakat dan generasi muda Pidie yang ada dimana saja,” ujarnya.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Hasanuddin Yusuf Adan mengatakan, Aceh memiliki banyak khazanah tersendiri, terutama dalam penyebutan bulan hijriyah salah satunya bulan Ra’jab yang identik dengan sebutan “buleun apam”.
Dan bulan-bulan yang berhubungan dengan khanduri lainnya. Lantas menurutnya dengan banyaknya bulan khanduri maka tidak boleh melupakan ibadah salat semata.






