SEJARAHWISATA

Melacak makam ulama dan pejuang Turki Utsmani di Aceh

DISTORI.ID – Hubungan Turki dan Aceh sudah terjalin sejak cukup lama. Bahkan, menurut sejarah, hubungan itu sudah terbangun di era Kerajaan Aceh Darusalam.

Di Gampong (Desa) Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, sebuah desa yang menyimpan fakta, menunjukkan hubungan antara Aceh dan Kekhalifahan Turki Utsmani. Desa ini menjadi saksi sejarah bagaimana Aceh membina hubungan sangat dekat dengan Negara Turki.

Di Desa Bitai ini, terdapat makam para ulama, guru hingga prajurit Turki yang menjadi saksi sejarah. Penyebaran dan perkembangan agama Islam, khususnya di Aceh, juga tidak terlepas dari peran ulama asal Turki, Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi. Ia kemudian dikenal sebagai Tengku Syech Dibitay.

Pada komplek Makam Tengku Dibitay, terdapat 25 makam yang mengelilingi makam Sultan Salahuddin. Tujuh diantara makam itu terbuat dari batu cadas dan 18 lainnya terbuat dari batu sungai.

Sebagian batu nisannya berbentuk segi delapan dan hiasannya bertuliskan kaligrafi dengan bahasa arab. Dipuncak Nisan berbentuk cembung di atasnya terdapat lingkaran sisi delapan.

Tujuh makam yang terbuat dari batu cadas itu berada di dalam benteng yang sudah terbangun pada zaman dulu, dan usai tsunami melanda Aceh makam tersebut direnovasi. Tiga diantaranya disemen secara terpisah dan sisanya hanya di sekat-sekat kecil. Ketujuh makam itu dipasangi keramik.

“Ditempat itu makam para ulama semua, dan satu orang ratu, makamnya yang paling ujung,” kata Azimah, penjaga makam Tengku Dibitay saat dijumpai di lokasi.

Di sisi kiri makam tersebut terdapat sebuah gundukan yang di atasnya terdapat beberapa makam dengan nisan tua. Kemudian di samping makam tersebut, terdapat Masjid Turki yang sudah di renovasi dengan empat buah kubah yang dijadikan sebagai tempat aktivitas keagamaan warga sekitar.

Makam ulama-pejuang Turki Utsmani di Banda Aceh. (Foto: Dok. Dani Randi)

Selain itu, juga ada bangunan berukuran 6×6 meter. Di dalam bangunan ini terdapat satu miniatur kapal yang dibingkai dengan kaca. Di dinding dalam ruangan tersebut digantung lukisan Sultan Selim dan lukisan sultan lainnya. Kemudian tulisan silsilah garis keturunan Tengku Syech Dibitay.

Perkembangan Islam di Bitai pada waktu itu sangat maju, karena banyak orang luar Aceh yang belajar untuk memperdalam agama Islam, termasuk dari Malaya dan negara dari Asia Tenggara.

“Dulu di Gampong (desa) Bitai ini ada pesantren. Banyak orang luar yang menimba ilmu agama islam di sini, termasuk Sultan dan raja-raja dari luar Aceh. Di sini juga jadi pusat keagamaan,” ujarnya.

Setelah menuntut ilmu agama di Aceh, kata dia, mereka mengembangkan lagi di negaranya masing-masing. Maka semakin majulah perkembangan Islam masa itu. Raja-raja yang menganut agama Budha akhirnya masuk Islam karena tidak diperbolehkan kepala Negara Budha pada saat itu.

Hal itu sejalan dengan agenda pada masa pemerintahan Selahuddin, yang mempunyai program meningkatkan pendidikan dan hubungan kerja sama dengan negara-negara seperti Turki, tanah melayu, Pakistan dan Arab Saudi.

Makam para Ulama dan prajurit Turki ini, menjadi daya tarik sendiri bagi pelancong yang ingin mempelajari sejarah islam di Asia. Azimah mengatakan, pengunjung makam ini bukan hanya didominasi wisatawan dari negara Turki, tetapi banyak peneliti dari negara timur tengah yang berkunjung.

“Termasuk peneliti dari Jepang juga pernah kesini, cuma hanya melihat dan mencari tau peninggalan Turki di Aceh, “sebutnya.

Ketua Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) Aceh Mizuar Mahdi Al Asyi mengatakan jejak hubungan diplomatik antara Kerajaan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Turki Ustmani dapat terlihat dari Kompleks Makam Tengku Di Bitay di Desa Bitai, Banda Aceh.

Masyarakat Aceh menyebut kompleks di sekitar makam ini sebagai “Kampung Turki”.

Berdasarkan catatan sejarah, kata Mizuar, nama Tengku Di Bitay diambil dari ulama Palestina yang memimpin rombongan Kesultanan Turki Utsmani ke Aceh.

Makam ulama-pejuang Turki Utsmani di Banda Aceh. (Foto: Dok. Dani Randi)

Nama asli ulama tersebut adalah Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi yang kemudian dikenal dengan nama Tengku Syekh Tuan Dibitay.

Berdasarkan catatan sejarah, saat itu Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Salahuddin.

Penulis Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) menyebutkan Sultan Salahuddin memerintah pada tahun 1528-1539.

Selama di Aceh, kata Mizuar, Tengku Di Batai berkontribusi dalam membantu Kesultanan Aceh dalam bidang pengajaran agama Islam.

“Beliau sangat dihormati karena kesehariannya digunakan untuk menerangi umat. Jadi Kesultanan Turki saat itu tidak hanya mengirim prajurit, tapi juga ulama dan guru,” kata Mizuar, yang masih keturunan Turki ini kepada Anadolu Agency pada Rabu di Banda Aceh.

Mizuar mengatakan komplek makam Utsmani ini juga menjadi tempat para prajurit Turki Utsmani dimakamkan.

Saat Utsmani melakukan ekspedisi, kata Mizuar, ratusan tentara dari Turki ini mendarat di Bitai dan mendirikan akademi militer.

Dalam perkembangannya, kata Mizuar, makam ini juga diperuntukkan bagi para bangsawan dan ulama-ulama Kesultanan Aceh Darussalam.

Untuk mengidentifikasi umur makam, Mizuar mengatakan makam yang memiliki nisan berasal dari periode awal dan penghujung abad ke-16 masehi.

Peneliti nisan ini mengatakan jumlah makam yang berasal dari abad ke 16 masehi berjumlah 8 nisan.

Di kompleks pemakaman ini juga disebut sebagai kampung Turki. Kemudian, setelah tsunami berlalu, Pemerintah Turki membangun ratusan rumah bantuan di sekitar makam yang diperuntukkan bagi masyarakat. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button