BUDAYAWISATA

Mengenal tradisi Meugang di Aceh yang sudah ada sejak ratusan tahun silam

DISTORI.ID – Dua hari sebelum memasuki bulan Ramadan, masyarakat Aceh memiliki budaya yang disebut Meugang untuk menyambut bulan penuh berkah tersebut.

Meugang adalah sebuah tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun silam. Tradisi ini identik dengan kebersamaan, dengan makan daging sapi atau kerbau yang dimasak dengan beraneka ragam.

Memasuki hari Meugang di Aceh, warga akan berbondong-bondong membeli daging sapi maupun kerbau. Masyarakat tak peduli dengan harga daging yang sewaktu Meugang bisa naik hingga 50 persen, asalkan bisa mengikuti hari Meugang dengan anggota keluarganya.

Meugang juga ditandai dengan munculnya pasar daging dadakan di pinggir jalan. Pasar ini hanya bertahan selama tiga hari, sebelum memasuki Ramadan. Mereka membuka lapak dan menjajakan daging segar kepada pembeli.

Dari pantauan di lokasi, harga daging kerbau atau sapi yang semula per kilonya Rp 120 ribu, kini di sejumlah daerah merangkak naik bahkan hingga Rp 200 ribu perkilogram.

Misalnya di daerah Kabupaten Aceh Barat Daya, di beberapa titik lokasi, pedagang menjual daging sapi mulai Rp 150 ribu hingga Rp175 ribu. Harga ini diprediksi akan bertahan hingga satu hari sebelum masuk bulan Ramadhan.

Sementara, di wilayah Kota Banda Aceh, daging Meugang mencapai Rp 170 ribu perkilogram. Kemudian di Aceh Barat, Rp 180 ribu perkilogram. Mahalnya daging dikarenakan harga sapi lokal naik jelang Meugang.

“Kita menjual daging dengan harga 170 ribu karena memang harga sapi lokal naik jelang Meugang,” kata Ridwan, seorang pedagang daging di Neusu, Banda Aceh.

Tradisi Meugang di Aceh. (Foto: Dok. Dani Randi)

Harga daging yang dijualnya merupakan daging dengan kualitas bagus. Kebanyakan masyarakat, kata dia lebih memilih membeli daging sapi lokal dari pada daging sapi luar. Meskipun mahal mereka tetap membeli.

Ia mengaku, harga daging naik selama Meugang juga sudah menjadi tradisi di Aceh. “Masyarakat tetap beli, karena ini sudah kebiasaan,” ujarnya.

Bahkan, warga juga tidak menghiraukan jika harga daging naik. Asalkan bisa makan daging bersama keluarga. “Ini biasa, dari tahun ke tahun juga harganya naik. Berapa pun harga pasti masyarakat beli,” kata seorang warga Banda Aceh, Lisnawati.

Sejarah Meugang

Ketua Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A. Hamid, tak menampik bahwa Makmeugang atau Meugang tradisi yang sudah dilakukan pada zaman kerajaan Aceh dulu.

Kata dia, dulu Sultan Aceh secara turun-temurun memerintahkan Qadi Mua’zzam Khazanah Balai Silaturrahmi untuk mengambil dirham, kain-kain, kerbau, dan sapi untuk dipotong di hari Meugang.

Kesemuanya itu lantas dibagikan kepada fakir-miskin, duafa, dan orang cacat masing-masing daging, uang lima emas, dan enam hasta kain melalui kepala desa. Kebijakan tersebut termaktub dalam Qanun Meukuta Alam Bab II pasal 47.

“Itu merupakan cara Sultan menolong rakyatnya yang hidup melarat, sehingga sama-sama bisa menyambut Ramadan dengan hati nan riang,” kata Tarmizi.

Tradisi ini, lanjut Tarmizi tak pernah lekang hingga saat ini. Karena masyarakat Aceh sangat kuat menjaganya, apalagi tradisi makmeugang ini yang sudah terpelihara sampai 400 tahun lalu.

Di sisi lain, meugang memberi kesempatan kepada para dermawan untuk memberi sedekah kepada para fakir, miskin, duafa, dan lainnya agar mendapatkan hak yang sama dalam menyambut Ramadhan.

“Rujukan sejarah tradisi meugang tetap pada Kerajaan Aceh Darussalam, seperti termaktub dalam Qanun Al Asyi,” kata Tarmizi.

Tradisi meugang ini sebuah warisan, dan masyarakat Aceh wajib menjaga kemurniannya demi kebersamaan dan sifat saling asuh dan asih terutama kepada anak yatim dan fakir serta kaum dhuafa di Aceh.

“Menyambut bulan Suci Ramadhan di Aceh memang sudah menjadi tradisi hal demikian, rasa suka cita baik kelompok sosial dalam masyarakat maupun sesama keluarga, makan bersama dengan daging yang segar-segar,” kata Tarmizi yang akrab disapa Cek Midi. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button