DISTORI.ID – Aceh, tidak hanya terkenal dengan alam dan kulinernya semata. Tetapi juga banyak lokasi wisata religi yang sarat akan kisah sejarah, baik klasik hingga kontemporer.
Salah satunya adalah berwisata religi dengan mengunjungi masjid-masjid indah yang ada di berbagai wilayah di Kota Banda Aceh. Jika kamu tinggal di sekitar daerah tersebut, tak ada salahnya mampir dan menikmati keindahan masjid-masjid cantik tersebut.
Tak hanya indah, sederet masjid berikut ini juga didesain senyaman mungkin untuk tempat beribadah. Bangunan masjidnya pun memiliki gaya arsitektur yang menakjubkan dan punya nilai sejarah yang begitu tinggi.
Fasilitas-fasilitasnya juga sangat lengkap dan keren, berikut 5 Masjid yang bisa dijadikan wisata Religi di Kota Banda Aceh:
1. Masjid Raya Baiturrahman
Masjid terbesar di Aceh ini menjadi ikon Provinsi Aceh. Masjid ini dibangun pada masa Kesultanan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M. Dan mempunyai sejarah panjang pada masa penjajahan Belanda.
Dulunya Masjid Baiturrahman merupakan salah satu pusat untuk pembelajaran tentang ajaran Islam. Masjid Raya Baiturrahman juga menjadi sejarah bagi masyarakat Aceh sejak peristiwa tsunami 11 tahun silam. Masjid ini selamat dari guncangam gempa dan gelombag tsunami, ribuan masyarakat kota Banda Aceh yang berlari ke dalam masjid ikut selamat dari amukan gelombang tsunami.

Masjid Raya Baiturrahman, menjadi objek wisata religi yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan. Masjid ini menjadi pilihan utama bagi setiap pengunjung setiba di kota Banda Aceh.
Masjid Raya Baiturrahman juga termasuk salah satu Masjid terindah di Indonesia yang memiliki arsitektur memukau dengan ukiran menarik halaman yang luas dengan kolam pancuran air bergaya Kesultanan Turki Utsmani dan ditambah dengan 12 unit payung elektrik yang menyerupai Masjid Nabawi di Mekkah. Masjid ini terletak di pusat kota Banda Aceh dan sudah diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Bulan Mei 2017 lalu.
2. Masjid Baiturrahim Ulee Lheue
Masjid ini juga merupakan salah satu masjid bersejarah peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17. Pada saat itu masjid Baiturrahim bernama Masjid Jami’ Ulee Lheue. Namun pada tahun 1873 ketika Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda, semua jamaah masjid terpaksa melakukan shalat Jumat di Ulee Lheue.
Dan sejak saat itulah masjid ini berubah nama menjadi Masjid Baiturrahim.
Dulunya bangunan masjid ini terbuat dari kayu, hingga pada tahun 1922 pemerintah Hindia Belanda membangun Mesjid Baiturrahim dengan material permanen ber arsitektur Eropa dan berkaligrafi ejaan Arab Jawi namun masjid ini tidak berkubah layaknya mesjid lainnya.

Masjid Baiturrahim terletak di sudut Kota Banda Aceh, Ulee Lheue, kecamatan Meuraxa. Masjid ini juga menjadi catatan sejarah dalam tsunami Aceh 24 November 2004 silam. Di mana masjid yang terletak dibibir pantai laut Ule Lheue tersebut selamat dari amukan gelombang tsunami.
Hingga saat ini Masjid Baiturrahim juga menjadi masjid kedua yang paling banyak dikunjungin wisatawan setelah masjid Raya Baiturraman.
3. Masjid Teungku Di Anjong
Masjid ini didirikan oleh Sayyid Abu Bakar bin Husin Bafaqih pada abad ke-18 sekitar tahun 1769 M. Ia seorang ulama dari Arab yang mengembara untuk mendakwahkan ajaran Islam, oleh karena itu ia dianggap sebagai orang keramat dan mendapatkan gelar Teungku di Anjong.
Masjid Teungku Di Anjong terletak di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja atau di lembang Krueng (sungai) Aceh. Di pekarangan masjid ini dulunya juga didirikan pondok pesantren untuk menimba ilmu pengetahuan Islam
Para santri yang belajar ke sana tidak hanya berasal dari Aceh tetapi juga dari negeri jiran Malaysia. Selain itu tempat ini juga dijadikan sebagai tempat manasik haji bagi jemaah yang datang dari berbagai wilayah di nusantara.
Dulunya bangunan masjid ini dibangun dengan menggunakan bahan kayu berbentuk segi tiga memanjang ke atas serta mempunyai tiga lantai.
Masjid Teungku di Anjong yang berada sekitar 2,50 M dari bibir pantai ini lenyap disapu gelombang tsunami pada 25 Desember 2004 lalu. Sehingga menghancurkan bangunan dan juga peninggalan ulama yang tersimpan di dalam masjid seperti kitab-kitab.
Namun setelah tsunami menyapu bersih, masjid Teungku Di Anjong dibangun kembali oleh warga Pelanggahan. Dengan berbahan beton diwarnai cat putih menghiasi arsitektur bangunan masjid tanpa merubah bentuk aslinya. Di sekitaran pekarangan masjid juga dibangun monumen untuk mengenang para warga Gampoeng Pelanggahan yang terkena korban tsunami 10 tahun silam.
4. Masjid Tuha Indrapuri
Masjid ini dulunya merupakan candi yang didirikan oleh orang Hindu di Aceh kemudian dihancurkan setelah masuk dan berkembangnya agama Islam. Di atas reruntuhan candi tersebut selanjutnya dibangun masjid yang diberi nama Masjid Indrapuri oleh Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1607-1636.
Indrapuri adalah kerajaan yang pernah didirikan oleh orang-orang Hindu di Aceh. Masjid dengan atap tiga lapis ini menjadi bukti sejarah yang utuh bagi masyarakat Aceh khususnya warga Aceh Besar.
Masjid Indrapuri terletak di Desa Pasar Indrapuri, Kec. Indrapuri, Kab. Aceh Besar, Aceh. Lokasi masjid tidak jauh dari jalan raya Banda Aceh-Medan, kurang lebih sekitar seratus meter memasuki persimpangan pasar Indrapuri.

Seluruh bangunan berkonstruksi kayu dengan beberapa ukiran tradisional bernuansa Arab. Masjid beratap tumpang ini dibangun di atas tembok undakan empat lapis yang terbuat dari batu kapur bercampur tanah liat.
Untuk masuk ke dalam masjid, para jamaah atau pengunjung harus melewati pintu utama tepatnya di sebelah timur masjid. Di depan pintu masuk terdapat kulah atau kolam tempat penampungan air yang digunakan masyarakat sekitar untuk berwudhu.
5. Masjid Tuha Ulee Kareng
Masjid ini bisa dikatakan hampir menyerupai masjid seperti Tengku di Anjong Peulanggahan, dan Masjid Tuha Indrapuri. Hanya saja ia memiliki perkarangan kecil dibanding dengan kedua masjid tersebut. Masjid ini didirikan oleh Sayyid Al Mahalli seorang ulama dari Arab. Beliau datang bersama anaknya dan Tgk Di Anjong untuk mensyiarkan ajaran Islam.
Kebanyakan orang mungkin masih belum mengetahui keberadaan masjid bersejarah ini, untuk menuju ke masjid anda harus memasuki lorong kecil simpang tujuh Kecamatan Ulee Kareng. Masjid ini tepat berada di depan MIN 1 Ulee Kareng. Untuk memasuki lorong tersebut hanya berjarak sekitar 100 meter dari Simpang Tujuh Ulee Kareng.
Anak-anak kayu yang menjadi dinding masjid tersebut diwarnai dengan kecoklatan. Sekitar pekarangan masjid terdapat pula beberapa makam, yang diyakini makam para Ulama dan Tengku di Desa Ulee Kareng dulunya. Bangunan Masjid ini masih berkonstruksi kayu, dengan delapan tiang yang menjadi penampang.
Bangunannya juga masih beraksitektur alami, masjid ini sangat tepat untuk dijadikan salah satu objek wisata sejarah. Dengan nuansa klasik terletak di pedesaan rindangnya pohon yang berada di sekitaran masjid membuat udara begitu dingin dan nyaman ketika anda memasuki ke dalamnya. []






