NEWS

15 Pelajar Aceh Belajar Langsung Industri Migas, Kenali Profesi hingga Kepemimpinan

DISTORI.ID – Masa depan Aceh tidak hanya bergantung pada kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya.

Di balik potensi minyak dan gas bumi, terdapat modal penting lainnya, yakni generasi muda dengan keberanian bermimpi, kemampuan memimpin, serta wawasan untuk bersaing di tingkat global.

Semangat tersebut mendorong Mubadala Energy bersama SKK Migas membuka akses lebih luas bagi pelajar Aceh untuk mengenal dunia kepemimpinan, pendidikan, hingga industri energi.

Dukungan itu diwujudkan melalui program AFS Global Future Leaders Network (AFS GFLN).

Program ini memberikan kesempatan kepada pelajar untuk memperoleh pengalaman baru, berinteraksi dengan lingkungan profesional, sekaligus memperluas perspektif mengenai pendidikan, kepemimpinan, dan masa depan mereka.

Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut, Yanin Kholison, mengatakan dukungan Mubadala Energy terhadap program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun generasi muda Aceh yang percaya diri, kompeten, dan memiliki wawasan global.

“Melalui dukungan Mubadala Energy terhadap Program AFS GFLN yang bekerja sama dengan SKK Migas, sektor industri hulu migas bangga dapat turut membina generasi pemimpin yang percaya diri, kompeten, dan berwawasan global,” kata Yanin.

Menurut Yanin, pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh para peserta diharapkan tidak berhenti pada diri mereka.

Dalam jangka panjang, mereka diharapkan mampu membawa manfaat bagi masyarakat Aceh dan lingkungan yang lebih luas.

Dukungan bagi Pelajar Aceh Bertambah

Komitmen tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah pelajar Aceh yang mendapat kesempatan mengikuti program pengembangan kepemimpinan tersebut.

Pada 2026, sebanyak 15 siswa asal Aceh mendapatkan sponsor untuk mengikuti AFS GFLN. Jumlah itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang diikuti enam siswa.

Peningkatan jumlah peserta memperlihatkan semakin terbukanya akses pengembangan kapasitas dan kepemimpinan bagi generasi muda di Aceh.

Kolaborasi SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menjadi bagian penting dalam memperluas kesempatan tersebut.

Untuk menjaga transparansi dan kesetaraan kesempatan, informasi mengenai program disebarluaskan melalui Dinas Pendidikan serta Kantor Kementerian Agama setempat.

Sementara proses seleksi dilakukan secara independen oleh AFS Intercultural Programs Indonesia dengan menggunakan kriteria dan metodologi penilaian yang telah ditetapkan AFS.

Proses tersebut tidak melibatkan KKKS, SKK Migas, maupun pemerintah daerah.

Dari Ruang Kelas ke Dunia Energi

Pengalaman para peserta kemudian diperluas melalui kegiatan Quality Time di kantor Mubadala Energy pada 16 September 2026.

Sebanyak 15 peserta AFS GFLN SKK Migas hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memberikan gambaran lebih dekat mengenai dunia industri energi.

Bukan sekadar kunjungan perusahaan, para siswa diajak melihat bagaimana perusahaan energi bekerja, mengenal industri hulu migas, serta memahami beragam profesi yang berada di balik sebuah proyek energi.

Kegiatan diawali dengan safety induction, kemudian dilanjutkan sesi pembukaan yang dipimpin Head of Government Technical Alignment Mubadala Energy Swita Dewi bersama Social Investment Superintendent Ruly Bernaputra.

Presiden Direktur Mubadala Energy, Abdulla Bu Ali, turut menyambut para peserta. Ia berbagi pandangan mengenai kepemimpinan, proses pembelajaran, serta pentingnya memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.

Para siswa kemudian diajak mengenal perjalanan industri hulu migas melalui sesi bersama tim eksplorasi.

Mereka mendapatkan gambaran mengenai proses menemukan dan mengembangkan sumber daya minyak dan gas yang berada di bawah permukaan bumi hingga menjadi energi yang digunakan masyarakat.

Tim proyek juga memperkenalkan Pengembangan Lapangan Gas Tangkulo, sekaligus menjelaskan kompleksitas dalam membangun dan mengelola proyek energi berskala besar.

Dari kegiatan tersebut, para siswa diperkenalkan pada pemahaman bahwa industri energi tidak hanya membutuhkan ahli geologi atau insinyur.

Di balik sebuah proyek energi terdapat beragam disiplin ilmu dan profesi, mulai dari geosains, teknik, teknologi, infrastruktur, komunikasi, keuangan, keberlanjutan, hingga berbagai fungsi pendukung lainnya.

Ketika Rasa Ingin Tahu Bertemu Dunia Profesional

Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta. Mereka tidak hanya mendengarkan paparan, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan mengenai industri energi dan perjalanan karier di dalamnya.

Tiga siswa yang mewakili Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Bireuen turut menyampaikan kesan mereka setelah mengikuti kegiatan tersebut.

Antusiasme dan pertanyaan kritis yang muncul menunjukkan potensi generasi muda Aceh ketika mendapatkan akses langsung terhadap pengetahuan, pengalaman, dan lingkungan profesional.

Bagi Mubadala Energy, pendidikan tidak berhenti pada aktivitas berbagi pengetahuan.

Pendidikan dipandang sebagai investasi untuk membuka akses terhadap peluang, membangun kepercayaan diri, sekaligus memberi ruang kepada generasi muda untuk menemukan dan mengembangkan potensi mereka.

“Setiap perjalanan besar bermula dari sebuah impian. Dengan menghubungkan kaum muda pada pengalaman, pengetahuan, dan sosok panutan baru, Mubadala Energy berharap dapat menginspirasi mereka untuk mengejar cita-cita dan menjadi pemimpin masa depan yang membawa dampak nyata serta berkelanjutan bagi komunitas mereka,” demikian pesan yang disampaikan dalam program tersebut.

Investasi yang Melampaui Masa Operasi Migas

Bagi SKK Migas, program semacam ini memiliki arti yang lebih luas. Pengembangan sumber daya manusia dipandang sebagai bagian dari upaya memastikan manfaat industri hulu migas dapat terus dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Kepala Kelompok Kerja Pengembangan Masyarakat, Divisi Formalitas SKK Migas, Roy Widiartha, mengatakan pendidikan dan pengembangan kepemimpinan merupakan investasi sosial jangka panjang.

“SKK Migas memandang pendidikan dan pengembangan kepemimpinan sebagai investasi sosial jangka panjang. Melalui AFS GFLN, kami ingin membangun jejaring calon pemimpin bangsa dari wilayah operasi migas yang memiliki wawasan global, berakar pada nilai-nilai lokal, dan siap kembali memberikan kontribusi bagi daerahnya,” ujar Roy.

Menurut Roy, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk memastikan manfaat kehadiran industri hulu migas tidak hanya diukur dari produksi minyak dan gas, tetapi juga dari peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar wilayah operasi.

“Inilah salah satu cara kami mempersiapkan agar manfaat kehadiran industri hulu migas tetap tumbuh dan berkelanjutan, bahkan melampaui masa operasi,” katanya.

Dari Aceh, mimpi-mimpi generasi muda kini mendapatkan ruang untuk tumbuh.

Sebanyak 15 pelajar yang mengikuti program tahun ini tidak hanya diajak mengenal industri energi, tetapi juga diperkenalkan pada pesan penting bahwa kepemimpinan masa depan dimulai dari keberanian untuk belajar, berani bermimpi, dan memiliki kemauan untuk memberikan dampak bagi lingkungan di sekitarnya. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button