NASIONALNEWS

Pengawasan Kesehatan Berlapis Berhasil Menekan Risiko Kesakitan Jemaah Haji

DISTORI.ID – Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Oktavianus menegaskan bahwa penguatan deteksi dini melalui active case finding serta kolaborasi lintas sektor di pintu masuk negara menjadi kunci keberhasilan dalam melindungi kesehatan jemaah haji dan masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya saat meninjau proses debarkasi jemaah haji kloter perdana Provinsi Banten di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (2/6).

Menurut Wamenkes Benjamin, skrining kesehatan yang ketat sejak fase keberangkatan telah memberikan dampak nyata terhadap penurunan angka kesakitan dan kematian jemaah haji.

Upaya tersebut dimulai sejak pemeriksaan kesehatan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, termasuk kebijakan pembatalan keberangkatan bagi calon jemaah yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan.

“Saat pemberangkatan di Asrama Haji Pondok Gede, terdapat 14 calon jemaah yang dibatalkan keberangkatannya karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Hasilnya terlihat jelas, angka kesakitan dan kematian jemaah turun cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Wamenkes.

Ia menjelaskan, fase debarkasi merupakan tahapan penting dalam penyelenggaraan ibadah haji karena menjadi momentum pemantauan kesehatan jemaah setelah menjalani rangkaian ibadah di Arab Saudi.

Pada fase ini, Kementerian Kesehatan memastikan setiap jemaah memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal sekaligus menjalani pemantauan untuk mendeteksi dini penyakit menular maupun gangguan kesehatan lain yang memerlukan tindak lanjut.

Di Bandara Soekarno-Hatta, petugas kesehatan melakukan observasi visual serta pemeriksaan menggunakan thermo scanner terhadap seluruh jemaah yang baru tiba.

Jemaah yang terindikasi mengalami gangguan kesehatan segera diarahkan ke pos kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Begitu terlihat ada jemaah yang dicurigai mengalami gangguan kesehatan, langsung dilakukan pemeriksaan. Pada kloter ini terdapat enam jemaah yang menjalani pemeriksaan kesehatan, dan beberapa masih dalam observasi karena kondisi fisik yang menurun akibat kelelahan. Dengan sistem ini, kondisi mereka dapat segera ditangani dan dikontrol,” jelasnya.

Senada dengan Wamenkes, Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, mengatakan bahwa active case finding dilakukan terhadap seluruh jemaah yang tiba di wilayah kerja Bandara Soekarno-Hatta.

Bandara ini melayani pemulangan jemaah dari Embarkasi Jakarta Pondok Gede, Embarkasi Banten, dan Embarkasi Jakarta-Bekasi.

“Setiap jemaah yang melintas akan diobservasi secara visual oleh petugas untuk melihat adanya gejala seperti batuk, pilek, atau demam. Jika ditemukan gejala, jemaah akan dibawa ke pos kesehatan untuk registrasi, pemeriksaan tanda vital, asesmen dokter, hingga pemeriksaan laboratorium bila diperlukan,” ujar Naning.

Ia menambahkan, kondisi kegawatdaruratan yang paling sering ditemukan pada jemaah yang baru tiba adalah serangan jantung dan sesak napas.

“Ada jemaah yang sudah mendapatkan penanganan CPR di dalam pesawat, ada pula yang mengalami serangan jantung sesaat setelah mendarat. Prinsip kami adalah memberikan pertolongan pertama secepat mungkin dan merujuk pasien ke rumah sakit terdekat sesuai kebutuhan,” katanya.

Untuk melayani kedatangan hampir 1.600 jemaah haji pada 2 Juni 2026, BBKK Soekarno-Hatta menyiagakan tenaga kesehatan dan pendukung yang bekerja selama 24 jam.

Tim tersebut terdiri atas dokter spesialis kedokteran penerbangan, dokter umum, epidemiolog, entomolog, sanitarian, perawat, pengemudi ambulans, tenaga humas, dan personel pendukung lainnya.

Wamenkes Benjamin menegaskan bahwa keberhasilan pengamanan kesehatan jemaah haji merupakan hasil sinergi berbagai pihak yang terlibat dalam operasional haji.

“Dukungan datang dari berbagai sektor, mulai dari AirNav Indonesia, kepolisian, Badan Karantina, otoritas bandara, hingga Angkasa Pura. Semua berkontribusi memastikan pelayanan berjalan optimal, termasuk kesiapsiagaan ambulans dan fasilitas kesehatan. Sinergi lintas sektor inilah yang berperan besar dalam menekan angka kesakitan jemaah secara signifikan,” pungkasnya. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button