EKONOMINEWS

Rupiah Menguat ke Rp17.921 per Dolar AS, Arus Modal Asing Jadi Penopang Utama

DISTORI.ID – Nilai tukar rupiah berhasil mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (17/7).

Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.921 per dolar AS, menguat 65 poin atau 0,35 persen dibandingkan posisi penutupan pada perdagangan sebelumnya.

Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang global yang cenderung beragam.

Sentimen positif dari kembali masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik menjadi salah satu faktor utama yang menopang kinerja mata uang Indonesia.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang menunjukkan tren yang bervariasi. Beberapa mata uang berhasil menguat terhadap dolar AS, seperti peso Filipina yang naik 0,06 persen dan yen Jepang yang menguat tipis sebesar 0,03 persen.

Namun, sejumlah mata uang Asia lainnya justru mengalami pelemahan. Yuan China terkoreksi 0,08 persen, ringgit Malaysia melemah 0,23 persen, sementara won Korea Selatan mencatat penurunan paling dalam di kawasan dengan koreksi mencapai 0,32 persen.

Di sisi lain, dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing turun sebesar 0,01 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Pergerakan serupa juga terlihat pada mata uang utama negara-negara maju. Dolar Kanada menguat 0,06 persen, sedangkan franc Swiss naik 0,22 persen.

Sebaliknya, euro melemah 0,02 persen, poundsterling Inggris turun 0,18 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,27 persen.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah tidak lepas dari meningkatnya minat investor asing terhadap aset-aset keuangan di Indonesia.

Menurutnya, arus modal yang kembali masuk ke pasar obligasi maupun pasar saham memberikan dukungan signifikan terhadap nilai tukar rupiah.

Selain faktor domestik, kondisi eksternal juga turut membantu penguatan mata uang Garuda. Indeks dolar AS yang mengalami pelemahan tipis serta penurunan harga minyak mentah dunia memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih kuat.

“Rupiah ditutup menguat cukup tajam terhadap dolar AS oleh dukungan kembalinya dana asing baik di obligasi maupun ekuitas. Indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia hari ini terpantau sedikit menurun,” ujar Lukman.

Pelaku pasar kini masih mencermati berbagai perkembangan ekonomi global, termasuk arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve), pergerakan inflasi, serta dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi arus modal dan pergerakan nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan.

Dengan kombinasi sentimen positif dari dalam negeri dan meredanya tekanan eksternal, rupiah berhasil mempertahankan penguatan hingga akhir sesi perdagangan.

Meski demikian, volatilitas pasar keuangan global diperkirakan masih akan menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button