DISTORI.ID – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (6/7) pagi. Mata uang Indonesia tercatat berada di posisi Rp17.993 per dolar AS.
Posisi tersebut menunjukkan rupiah turun 30 poin atau sekitar 0,17 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah pelemahan yang juga dialami mayoritas mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS.
Yuan China terkoreksi 0,09 persen, peso Filipina melemah 0,15 persen, ringgit Malaysia turun 0,10 persen, dolar Singapura berkurang 0,05 persen, yen Jepang terdepresiasi 0,28 persen, sedangkan won Korea Selatan turun 0,19 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong relatif tidak mengalami perubahan.
Tren serupa juga terlihat pada sejumlah mata uang utama negara maju. Euro melemah 0,07 persen, poundsterling Inggris turun 0,05 persen, dolar Australia terkoreksi 0,12 persen, dolar Kanada turun 0,07 persen, dan franc Swiss terdepresiasi 0,16 persen terhadap dolar AS.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih berpeluang melanjutkan pelemahan seiring menguatnya kembali dolar AS di pasar global.
“Rupiah diperkirakan berpotensi berbalik melemah oleh dolar AS yang rebound. Indeks dolar AS menguat didorong ekspektasi rilis data ISM Services Amerika Serikat malam ini yang secara historis cenderung kuat,” ujar Lukman.
Menurutnya, selain dipengaruhi sentimen eksternal, pelaku pasar juga tengah mencermati perkembangan ekonomi domestik, khususnya menjelang pengumuman data cadangan devisa Indonesia.
“Dari domestik, pasar juga mengkhawatirkan data cadangan devisa Indonesia besok yang berpotensi kembali menurun,” katanya.
Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS. []





