DISTORI.ID – Masjid Oman Al-Makmur kembali menegaskan perannya sebagai pusat pembinaan umat dan gerakan dakwah modern di Kota Banda Aceh melalui kegiatan “Banda Aceh Berhaji”, yang digelar pada Selasa (21/4/2026) malam di Masjid Oman Al Makmur, Banda Aceh.
Kegiatan yang berlangsung ba’da Isya hingga selesai ini menghadirkan dai muda nasional, Hanan Attaki, serta dihadiri unsur Pemerintah Kota Banda Aceh, jajaran Forkopimda, tokoh masyarakat, dan mitra strategis dari Bank Syariah Indonesia.
Ratusan jamaah, yang didominasi generasi muda, memadati masjid menunjukkan tingginya antusiasme terhadap program edukasi haji.
Masjid Oman Pusat Kolaborasi Umat dan Gerakan Spiritual
Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdal Khalilullah, dalam sambutannya menegaskan bahwa program “Banda Aceh Berhaji” merupakan langkah strategis dalam membangun kesadaran masyarakat untuk merencanakan ibadah haji secara matang, tidak hanya dari sisi finansial tetapi juga spiritual.
Ia menilai Masjid Oman Al-Makmur telah berkembang menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan syariah, dan masyarakat dalam mendorong peningkatan kualitas keagamaan warga.
“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi gerakan membangun kesadaran berhaji sejak dini. Masjid Oman menjadi pusat tumbuhnya semangat itu,” ujarnya.
BSI Dorong Perencanaan Haji Sejak Dini
Perwakilan BSI, Saiful Musadir, menyampaikan bahwa sinergi dengan Pemerintah Kota Banda Aceh merupakan bentuk nyata dukungan terhadap literasi keuangan syariah, khususnya dalam perencanaan ibadah haji.
Ia mengungkapkan bahwa jumlah antrean haji nasional mencapai sekitar 5,7 juta orang, dengan masa tunggu rata-rata hingga 27 tahun.
Di Banda Aceh, antusiasme masyarakat sangat tinggi, sehingga diperlukan perencanaan yang lebih dini dan terarah.
“Kami hadir bukan hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi sebagai mitra yang mendampingi masyarakat dalam perjalanan spiritual menuju Baitullah,” jelasnya.
Hanan Attaki: Haji Bukan Soal Nanti, Tapi Soal Ikhtiar Hari Ini
Dalam tausiyahnya, Ustadz Hanan Attaki menekankan bahwa ibadah haji bukanlah semata-mata urusan masa tua atau menunggu kemampuan penuh, tetapi harus dimulai dari kesadaran dan ikhtiar sejak dini.
“Haji itu bukan soal nanti. Haji itu soal sekarang—bagaimana kita mulai niat dan ikhtiar menuju Baitullah,” tegasnya.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak memandang haji sebagai sesuatu yang jauh, melainkan sebagai bagian dari kesempurnaan keislaman yang harus dipersiapkan.
Islam dan Kesehatan Mental: Ibadah sebagai Kebutuhan, Bukan Beban
Dalam penyampaian yang relevan dengan generasi muda, Ustadz Hanan Attaki menyoroti bahwa syariat Islam tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, tetapi juga menjadi sistem yang mendukung kesehatan mental secara menyeluruh.
Menurutnya, inti dari ibadah terletak pada “inner life” atau kehidupan batin, bukan sekadar tampilan lahiriah.
“Allah tidak melihat penampilan kita, tapi melihat hati dan ketakwaan kita. Inilah yang menjadi fondasi kesehatan mental,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa:
1. Ibadah melatih ketenangan batin (spiritual stability)
2. Muamalah membangun hubungan sosial yang sehat
3. Tazkiyatun nafs mengajarkan pengelolaan emosi
4. Akhirat memberikan makna hidup (meaning)
Lima Lingkaran Kehidupan: Kunci Keseimbangan Hidup
Dalam kajiannya, ia juga menekankan pentingnya menjaga lima lingkaran utama dalam kehidupan:
1. Keluarga
2. Tetangga
3. Guru
4. Sahabat
5. Lingkungan/organisasi
Ia mengingatkan bahwa banyak orang saat ini justru lebih fokus pada “lingkaran keenam” yaitu media sosial, yang seringkali menjadi sumber tekanan mental.
“Kalau lima lingkaran utama kita sehat, maka hidup kita akan tetap stabil, meskipun dunia luar tidak selalu mendukung,” jelasnya.
Haji sebagai Momentum Identity Reset
Salah satu poin utama dalam kajian ini adalah konsep haji sebagai proses “identity reset” atau pembaruan jati diri.
Ustadz Hanan Attaki menggambarkan Ka’bah sebagai “kilometer nol spiritual”, tempat manusia kembali menyadari hakikat dirinya sebagai hamba.
“Pulang dari haji seharusnya bukan hanya berganti status, tetapi menjadi pribadi yang benar-benar baru,” ungkapnya.
Menurutnya, seluruh rangkaian ibadah haji mulai dari ihram, tawaf, hingga wukuf mengandung makna mendalam untuk:
1. memperbaiki mindset
2. menata ulang tujuan hidup
3. meningkatkan kualitas spiritual
Pesan untuk Generasi Muda: Mulai dari Niat dan Perbaikan Diri
Menjawab pertanyaan jamaah, ia juga menekankan pentingnya menjaga niat agar tetap ikhlas melalui proses muhasabah (evaluasi diri) dan “self-talk”.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa dalam hal jodoh dan kehidupan, yang terpenting adalah memantaskan diri, bukan sekadar mengejar hasil.
Masjid Oman, Simbol Gerakan Umat yang Berkelanjutan
Kegiatan ini menegaskan bahwa Masjid Oman Al-Makmur bukan hanya tempat ibadah, tetapi telah berkembang menjadi pusat edukasi, inspirasi, dan gerakan keumatan di Banda Aceh.
Kolaborasi antara pemerintah, BSI, dan tokoh agama diharapkan terus berlanjut dalam membangun masyarakat yang:
1. religius
2. terencana secara finansial
3. sehat secara mental
4. kuat secara spiritual
Dengan mengusung semangat “Gak Cuma Niat, tapi Mulai Ikhtiar ke Tanah Suci”, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memulai perjalanan menuju Baitullah sejak hari ini. []






