DISTORI.ID – Badan Penanggulangan Bencana Alam (BPBA) mencatat bencana Alam yang terjadi di Aceh Periode Januari-Juli sebanyak 237 kali kejadian, menelan korban jiwa 10 orang dengan prakiraan kerugian mencapai 165 Miliar rupiah. Secara keseluruhan kebakaran pemukiman masih mendominasi yakni sebanyak 91 kali membakar 255 rumah. Namun khusus bulan juli kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendominasi sebanyak 25 kali membakar 77 hektar lahan.
Sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini, dampak bencana di Aceh juga dirasakan oleh 4.838 kepala keluarga atau 11.033 jiwa. Tercatat sebanyak 348 orang terpaksa mengungsi, dan 1.936 rumah mengalami kerusakan.
Kebakaran hutan dan lahan terjadi sebanyak 51 kali, menghanguskan 174 hektare lahan, dengan nilai kerugian ditaksir mencapai Rp27 miliar. Sementara itu, banjir terjadi 34 kali, merendam 1.232 rumah, dan menimbulkan kerugian sekitar Rp48 miliar.
Angin puting beliung dilaporkan sebanyak 33 kejadian, berdampak pada 375 rumah, serta merusak 5 sekolah dan 2 masjid, dengan kerugian mencapai Rp32 miliar. Longsor terjadi 20 kali, merusak 12 rumah warga, dengan total kerugian sekitar Rp1,5 miliar.
Selain itu, gempa bumi tercatat 5 kali dengan magnitudo rata-rata antara 4,4 hingga 5,2 Skala Richter. Abrasi pantai terjadi 2 kali, mengakibatkan 8 rumah rusak berat dan 50 rumah lainnya terendam, berdampak pada 58 kepala keluarga. Sementara itu, gelombang pasang terjadi satu kali, tepatnya di Desa Lhok Puuk, Kecamatan Seunudon, Kabupaten Aceh Utara.
Dampak bencana juga meluas ke infrastruktur dan fasilitas umum, antara lain 12 sarana pendidikan, 5 rumah ibadah, 66 unit ruko atau bangunan usaha, 4 jembatan, 204 hektare lahan terbakar akibat karhutla, serta 40 hektare sawah rusak akibat banjir dan longsor.
Semua bencana juga berdampak pada 12 sarana pendidikan dan 5 sarana ibadah. Berdampak pula pada 66 ruko (bangunan lainnya), 4 jembatan, 204 hektar lahan akibat kebakaran hutan dan lahan 40 hektar sawah akibat banjir dan longsor.
Mengingat pada bulan juli kebakaran hutan dan lahan meningkat, terjadi sebanyak 25 kali dengan membakar 77 Hektar lahan, Plt. Kepala Pelaksana BPBA, Teuku Nara Setia, mengimbau masyarakat agar tidak mengekploitasi hutan secara berlebihan tanpa memperhatikan fungsi hutan sebagai resapan air yang berguna mencegah banjir dan longsor juga Karhutla.
“Pemberdayaan masyarakat atau sosialisasi kepada pelaku usaha yang terlibat perluasan lahan, kami imbau jangan membuka lahan dengan membakar hutan,” kata Nara kepada wartawan.
Ke depan, BPBA akan terus berusaha meminimalisir kerusakan maupun korban akibat bencana alam maupun non alam. Seluruh elemen masyarakat diharapkan merespon kejadian bencana secara komprehensif.
“Kami terus berupaya agar BPBA bersama semua unsur Pemerintahan dan Masyarakat Aceh terus berupaya dalam peningkatan mitigasi bencana agar jumlah kejadian bencana dapat terus turun dari tahun ke tahun” ungkap Nara.
Dalam upaya pengurangan risiko bencana Nara juga berharap nantinya terwujudnya sebuah langkah pemberdayaan masyarakat yang akan berfokus pada kegiatan partisipatif dalam melakukan kajian, perencanaan, pengorganisasian, serta aksi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat/komunitas yang mampu mengelola lingkungan dan mengurangi risiko bencana serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat Aceh nantinya. []






