DAERAHHEADLINEOLAHRAGA

Atlet PON dari Kalimantan Tengah dan Lampung Kagumi Toleransi hingga Keramahan Warga Aceh

DISTORI.ID – Aceh, sebagai salah satu tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatra Utara 2024, tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan kekayaan budayanya, tetapi juga karena toleransi dan keramahan masyarakatnya.

Sulthan Nadindra, siswa SMP Ahmad Dahlan Lampung yang berlaga dalam cabang olahraga panahan, menyampaikan kesan positifnya tentang toleransi dan keramahan warga Aceh.

“Toleransinya sangat bagus, masyarakatnya ramah. Saya pernah salat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, dan ibadahnya sangat nyaman,” ujar Sulthan kepada DISTORI saat ditemui di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Sabtu (14/9/2024).

Meskipun telah tersingkir dari kompetisi, Sulthan memutuskan untuk tetap tinggal di Aceh dan menikmati keindahan alam serta budayanya.

“Saya sudah kalah dalam pertandingan, namun tetap bertahan di Aceh untuk berwisata sejenak di sini,” tambahnya.

Sementara itu, Dodi Andreas, kontingen dari Kalimantan Tengah, juga memuji toleransi di Aceh, terutama terkait dengan pelaksanaan syariat Islam yang menjadi ciri khas daerah tersebut.

“Untuk toleransi di Aceh sangat luar biasa, saya senang, saya suka. Di sini budaya tetap tegak dan Aceh sangat ramah tamah dengan para pendatang, terutama kami kontingen,” ungkap Dodi.

Sebagai pemeluk agama Kristen, ia menegaskan pentingnya menghormati aturan dan nilai-nilai yang ada di Aceh.

“Syariat Islam itu harus ditegakkan, kami sebagai pengunjung juga harus menghargai dan menghormati apa yang sudah ditegakkan di Aceh. Itu harus terus dirawat, jangan karena ada segelintir masalah kekhasan Aceh itu dihilangkan. Semoga Aceh terus berkembang, luar biasa,” tambah Dodi.

Kesan positif dari para atlet ini mencerminkan bagaimana Aceh mampu menjadi tuan rumah yang baik bagi para tamu dari berbagai latar belakang, menunjukkan bahwa toleransi dan keramahtamahan masyarakatnya merupakan bagian penting dari pengalaman di PON XXI.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Aceh, Azhari. (Foto: DISTORI/dok. Kanwil Kemenag Aceh)

Sebelumnya, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Aceh, Azhari, mengatakan pelaksanaan PON XXI Aceh-Sumut 2024 menjadi sarana mempromosikan tingginya tingkat toleransi di Aceh kepada para tamu dan atlet.

“Masyarakat Aceh tidak hanya dikenal karena kuatnya penerapan syariat Islam, tetapi juga karena sikap ramah dan terbuka terhadap tamu-tamu yang datang dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan suku,” kata Azhari, Kamis (12/9/2024).

Azhari menjelaskan bahwa masyarakat Aceh memiliki tradisi memuliakan tamu, yang telah berlangsung sejak lama. Aceh dikenal sebagai Serambi Makkah, dengan pelaksanaan syariat Islam yang sangat kuat. Namun, masyarakat Aceh juga sangat menghargai tamu, termasuk yang non-Muslim.

“Pada PON kali ini, dengan hadirnya tamu dari berbagai provinsi, masyarakat Aceh sangat terbuka dan menerima dengan baik,” ujar Azhari.

Lebih lanjut, Azhari mengungkapkan bahwa tamu dari berbagai latar belakang budaya dan agama merasa nyaman selama berada di Aceh. Tidak ada paksaan bagi non-Muslim untuk mengikuti aturan berpakaian yang diterapkan dalam syariat, namun tetap diharapkan untuk menyesuaikan diri dengan budaya setempat.

“Bagi yang muslim tentu berpakaian muslim dan bagi yang non-muslim tidak dipaksa harus menggunakan jilbab, tapi menyesuaikan dengan situasi dan kondisi,” tambahnya.

Sikap toleran ini juga diperlihatkan dalam berbagai aspek lain selama pelaksanaan PON, seperti penyediaan makanan halal yang menjadi standar di seluruh venue. Azhari memastikan bahwa seluruh makanan yang dijual di Aceh telah terjamin kehalalannya.

“Seluruh UMKM yang terlibat dalam PON telah diminta untuk mengurus sertifikat halal. Jadi, para tamu tidak perlu ragu untuk menikmati kuliner yang ada di Aceh. Di sini, makanan hanya ada dua jenis, enak dan enak sekali,” jelasnya.

Pelaksanaan PON XXI Aceh-Sumut ini diharapkan dapat semakin memperkuat tali persaudaraan di antara berbagai suku dan agama yang ada di Indonesia. Azhari juga berharap event ini bisa menjadi ajang pertukaran informasi dan budaya yang mempererat ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button