DISTORI.ID – Jika salat tarawih usai, sebagian jemaah bergegas untuk mendatangi warung kopi. Maklum, sudah hampir 15 jam tidak ngopi membuat rasanya hari itu masih belum pas.
Di Banda Aceh, warung kopi hanya diperbolehkan buka setelah shalat tarawih. Sehingga, jika tarawih usai, hampir semua warung kopi di Banda Aceh dipastikan penuh.
Bahkan, ada yang masih menggunakan peci, sarung dan mukenah, Hanya untuk melampiaskan rasa ingin ngopi, yang selama satu hari penuh ditahan karena berpuasa.
Begitupun pekerja warung kopi itu sendiri, mereka harus siap meladeni ‘gelombang’ orang yang datang secara bersamaan menuju warung kopi terdekat.
Indra Wijaya, seorang penikmat kopi sangat mengerti betul bagaimana rasanya selama satu hari tidak merasakan kopi. Sehingga ketika selesai shalat tarawih, orang lebih memilih pergi ke warung kopi sebelum pulang ke rumah masing-masing.
“Ngopi malam ini sebagai pelampiasan dari satu hari menahannya, karena puasa,” kata Indra saat mengobrol di salah satu warkop legendaris di Aceh, di kawasan Lampineung, Banda Aceh.
Aktivitas ngopi memang menjadi budaya di Aceh. Dan juga tempat persinggahan kedua setelah keluar dari rumah sebelum memulai rutinitas dan sebaliknya.
Terlihat pada malam bulan Ramadan, jalanan kota Banda Aceh akan sepi sejak pukul 18.30 WIB hingga 21.30 WIB. Warga lebih memilih untuk berkumpul di masjid-masjid untuk beribadah. Dan kembali normal ketika usai salat.

Warga lainnya, Dedi mengatakan ketika sholat tarawih usai, warga akan memenuhi warung kopi. Ngopi, dan sembari mendengarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Quraan yang selalu dikumandangkan dari setiap masjid yang ada di kota Banda Aceh.
“Karena hanya habis tarawih warkop buka, kalau siang hari tidak mungkin. Ya inilah kebiasaan masyarakat di malam bulan ramadan,” katanya. Ada juga sebagian orang yang hanya ngopi sebentar saja, lalu melanjutkan aktivitas malam hari, yaitu bertadarus.
Tidak heran, warkop-warkop penuh sesak. Sampai-sampai banyak yang tidak mendapatkan tempat duduk. Apalagi parkiran mengular hingga memakan badan jalan.
“Setiap malam sudah penuh sesak, sejak dari malam pertama puasa, begitu selesai tarawih sudah ramai,” ujar Nasrul, salah satu pelayan warkop di seputaran Jalan Nyak Makam, Banda Aceh.
Meski hanya diperbolehkan hanya buka pada malam hari di bulan Ramadhan, sebagian pemilik warung kopi di Banda Aceh justru meraup keuntungan dari hari biasanya. “Satu malam bisa sampai 300 gelas kopi,” ujar Nasrul.
Sementara, warung kopi Romen juga tetap ramai dipenuhi para pelanggan setianya. “Walaupun di Bulan Puasa, Rezeki tetap stabil, inilah berkah Ramadan,” kata Bang Din, pengelola Warkop Romen.
Sebelumnya Pemerintah Kota Banda Aceh mengeluarkan surat imbauan selama Ramadan, dimana salah satu imbauannya yaitu untuk pengusaha rumah makan, cafe, mall/super market, hotel dan tempat hiburan dilarang menjual makanan dan minuman untuk umum mulai Imsak sampai dengan Pukul 16.30 WIB.
Kemudian juga diminta menutup semua jenis usaha dan jasa mulai shalat Isya sampai selesai shalat tarawih, dan dapat dibuka kembali khusus pada bulan Ramadhan mulai pukul 21.30 WIB.
Tidak menggelar karaoke, mengoperasikan permainan billyard, playstation, berbagai jenis game online dan hiburan lainnya selama bulan suci Ramadhan juga terdapat dalam butir-butir seruan bersama tersebut.
Seluruh hotel, wisma dan penginapan dilarang menyediakan makanan dan minuman kepada tamu yang menginap sejak dari imsak sampai dengan saat berbuka puasa.
Bagi pedagang, dilarang menggunakan pengeras suara karena dapat mengganggu ketentraman dan kekusyukan beribadah. []