Artis

Langkah Besar Dimas Supartono, Garap Pasar Properti di Depok Lewat Nuansa Indah Village

DISTORI.ID – Lanskap industri properti kawasan penyangga Jakarta kembali mencatat geliat menarik melalui ekspansi yang dilakukan oleh PT Karya Perkasa Indonesia. Di bawah kepemimpinan Direktur Utamanya, Dimas Supartono, perusahaan ini secara konsisten mengembangkan kawasan hunian terpadu bertajuk Nuansa Indah Village di wilayah Sawangan, Depok.

Langkah ini tidak hanya mencerminkan perluasan portofolio bisnis korporasi, tetapi juga memperlihatkan strategi diversifikasi aset yang terukur di tengah ketidakpastian makroekonomi global.

Nama Dimas Supartono sendiri sebelumnya lebih lekat dengan dunia industri kreatif dan musik nasional, sebuah warisan identitas yang melekat erat berkat kiprah sang ayah, mendiang Tono Supartono.

Kendati demikian, langkah taktisnya untuk masuk ke sektor properti menunjukkan ketajaman analisis bisnis dalam membaca peluang jangka panjang.

Keberhasilan awal pengembangan Nuansa Indah Village tidak lepas dari ketepatan waktu dalam eksekusi pengadaan lahan. Dalam dunia pengembangan properti, biaya perolehan tanah (land acquisition cost) merupakan salah satu variabel penentu margin keuntungan yang paling krusial.

Dimas menjelaskan bahwa proyek ini berakar dari peluang strategis yang diidentifikasi di wilayah Depok beberapa tahun lalu melalui aksi pembebasan lahan berharga kompetitif.

“Karena adanya kesempatan dan peluang yang baik di daerah Depok yang sedang saya kembangkan. Mengingat pembebasan tanah di beberapa tahun yang lalu dengan harga yang cukup baik,” ungkap Dimas.

Rumah contoh di komplek properti Nuansa Indah Village. (Foto: Istimewa)
Rumah contoh di komplek properti Nuansa Indah Village. (Foto: Istimewa)

Bermula dari penawaran kepemilikan lahan oleh pihak ketiga kepada PT Karya Perkasa Indonesia, proyek ini secara bertahap berkembang hingga mencapai skala total 26 hektare.

Dari luasan tersebut, manajemen secara disiplin mengalokasikan sekitar 7 hektare untuk tahap pengembangan aktif.

Analisis demografis menunjukkan bahwa wilayah Sawangan memiliki daya serap pasar yang tinggi, terutama dari kelompok demografi kelas menengah yang mencari hunian berkualitas dengan aksesibilitas yang memadai.

Fokus operasional saat ini tertuju pada pembangunan Cluster Cinnamon, yang mencakup kurang lebih 200 unit hunian di atas lahan seluas 3,5 hektare.

Integrasi fasilitas pendukung seperti kolam renang dan ruang terbuka hijau berupa danau buatan dirancang sebagai strategi diferensiasi produk (product differentiation) guna mendongkrak nilai jual (value proposition) bagi para konsumen kelas menengah.

Dalam mengelola proyek properti berskala kawasan, tantangan operasional dan finansial tentu jauh berbeda dibandingkan sektor industri kreatif yang digeluti Dimas sebelumnya. Industri properti dikenal sebagai sektor padat modal (capital-intensive) dengan siklus pengembalian investasi (payback period) yang relatif panjang.

Dimas secara terbuka memaparkan perbandingan empiris antara mengelola produksi karya seni suara dengan pembangunan infrastruktur fisik perumahan. Perbedaan mendasar ini menuntut disiplin tinggi dalam manajemen risiko likuiditas dan perencanaan anggaran proyek.

“Ketika membuat musik bisa diselesaikan dalam kurun waktu satu bulan. Lain halnya dalam membuat rumah, perlu waktu yang lebih lama dan kesiapan modal yang cukup,” paparnya.

Meski dihadapkan pada kompleksitas manajerial tersebut, manajemen PT Karya Perkasa Indonesia mencatatkan kinerja operasional yang solid. Target-target pembangunan fisik, khususnya pada klaster berjalan, berhasil direalisasikan tepat waktu sesuai dengan perencanaan strategis perusahaan.

“Alhamdulillah, bisa mencapai target sesuai yang kita rencana. Target ke depannya mengembangkan cluster-cluster setelah ini, dan juga beberapa fasilitas umum yang masih dalam pengembangan,” kata Dimas menambahkan rencana ekspansi lanjutan perseroan.

Menariknya, ekspansi korporasi ke sektor properti ini tidak mengorbankan integritas profesional Dimas di bidang musik. Dalam kerangka manajemen portofolio personal, ia memisahkan secara tegas antara orientasi komersial bisnis dan ruang ekspresi estetika.

Bagi Dimas, properti adalah instrumen pertumbuhan ekonomi dan penciptaan nilai tambah, sementara musik adalah bentuk dedikasi kultural yang tidak ternilai harganya.

“Kalau properti ada beberapa peluang dan keuntungan yang bisa diraih, sedangkan musik adalah passion,” tegasnya.

Konsistensi ini dibuktikan melalui peluncuran karya musik komersial, termasuk lagu “Jujur Saja” yang dinyanyikan oleh Ira Batti pada tahun 2024, serta persiapan peluncuran single terbaru dalam waktu dekat.

Strategi dual-track ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin bisnis modern mampu merangkul efisiensi korporasi tanpa harus kehilangan esensi kreativitas dasarnya. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button