DISTORI.ID – Pembahasan mengenai potensi gempa megathrust kembali ramai di media sosial.
Isu tersebut mencuat di tengah sejumlah kejadian gempa bumi dan aktivitas vulkanik yang terjadi di Indonesia.
Perhatian publik pun tertuju pada zona megathrust. Salah satu pertanyaan yang banyak muncul adalah mengenai potensi kekuatannya hingga kapan gempa besar tersebut akan terjadi.
Menjawab keresahan tersebut, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan penjelasan mengenai potensi bahaya yang berasal dari zona megathrust.
Dalam unggahan melalui akun Instagram resminya, Badan Geologi menerangkan bahwa megathrust berkaitan dengan sumber gempa yang berada di zona subduksi.
Zona tersebut terbentuk ketika dua lempeng tektonik bertemu dan salah satu lempeng bergerak menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Kondisi itu memungkinkan terjadinya penumpukan energi. Ketika energi yang tersimpan di zona subduksi dilepaskan, gempa bumi berkekuatan besar dapat terjadi.
“Zona ini dapat menyebabkan gempa besar apabila energi yang terkumpul di zona subduksi terlepaskan,” tulis Badan Geologi dalam keterangannya.
Selain menghasilkan gempa kuat, zona megathrust juga memiliki potensi memicu tsunami.
Badan Geologi menyebut gempa yang bersumber dari zona tersebut dapat memiliki magnitudo maksimum berkisar M8,0 hingga M9,2.
Pantai Barat Sumatera dan Selatan Jawa Berpotensi Terdampak Tsunami
Potensi tsunami menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai, khususnya di wilayah pantai barat Sumatera dan pantai selatan Jawa.
Badan Geologi menyebut ketinggian tsunami di garis pantai dapat mencapai lebih dari 3 meter.
Di sejumlah lokasi, tinggi gelombang bahkan berpotensi melampaui 10 meter.
Meski potensi ancamannya dapat dikaji, waktu terjadinya gempa megathrust belum dapat ditentukan secara pasti.
Hingga saat ini, ilmu pengetahuan belum mampu memprediksi secara tepat hari, tanggal, waktu, lokasi, maupun magnitudo gempa yang akan terjadi pada masa depan.
“Kita mempelajari megathrust bukan untuk meramalkan tanggal terjadinya gempa tetapi supaya kita mengetahui sumber bahayanya dan dapat mempersiapkan mitigasinya,” jelas Badan Geologi.
Dengan demikian, kajian mengenai megathrust bukan ditujukan untuk menentukan kapan gempa akan terjadi.
Fokus utamanya adalah mengenali sumber ancaman dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana.
Langkah yang Perlu Dilakukan Masyarakat
Badan Geologi juga mengingatkan pentingnya langkah mitigasi dalam menghadapi potensi gempa dan tsunami.
Masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah berisiko, perlu meningkatkan kesiapsiagaan sejak sebelum bencana terjadi.
Pengetahuan mengenai potensi bahaya, jalur evakuasi, lokasi aman, serta tindakan yang harus dilakukan saat dan setelah gempa menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko.
Kesiapsiagaan tersebut diperlukan karena gempa bumi merupakan fenomena alam yang belum dapat dipastikan waktu kejadiannya secara akurat. []






