DISTORI.ID – Royal Philips (NYSE: PHG, AEX: PHIA), perusahaan teknologi kesehatan global, meluncurkan laporan Future Health Index (FHI) 2026 edisi ke-11 untuk Indonesia.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mulai memberikan dampak nyata bagi tenaga kesehatan, pasien, maupun institusi layanan kesehatan di Tanah Air.
Temuan FHI 2026 menandai babak baru dalam perjalanan adopsi AI di sektor kesehatan Indonesia.
Jika laporan FHI 2025 menitikberatkan pada pentingnya membangun kepercayaan dan menciptakan ekosistem yang mendukung penggunaan AI, laporan tahun ini lebih jauh melihat dampak penerapan teknologi tersebut dalam praktik sehari-hari.
Hasil survei menunjukkan tenaga kesehatan di Indonesia merasakan sejumlah manfaat dari penggunaan AI.
Di antaranya adalah alur kerja dan proses diagnosis yang lebih cepat, meningkatnya kapasitas pelayanan pasien, kemudahan memperoleh informasi, hingga berkurangnya tekanan dalam pekerjaan.
Namun, perkembangan penggunaan AI dinilai masih lebih cepat dibandingkan kesiapan sejumlah aspek pendukung.
Hal tersebut mencakup pelatihan tenaga kesehatan, integrasi sistem, pemantauan, serta tata kelola yang diperlukan agar implementasi AI dapat berlangsung secara aman, konsisten, dan berkelanjutan.
Laporan FHI 2026 tersebut diluncurkan Philips dalam acara bertajuk “AI in Practice: Scaling AI for Better Care in Indonesia” di Jakarta.
Kegiatan ini mempertemukan para pemangku kepentingan, termasuk perwakilan Kementerian Kesehatan, penyedia layanan kesehatan, serta asosiasi rumah sakit untuk membahas arah pengembangan dan penerapan AI yang bertanggung jawab di Indonesia.
Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan, mengatakan pembahasan mengenai AI di sektor kesehatan Indonesia kini telah memasuki tahap baru.
“Diskusi mengenai AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki babak baru. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan, melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien,” ujar Astri.
Menurut dia, tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat yang telah dirasakan dari penggunaan AI dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas layanan kesehatan dalam jangka panjang.
“AI perlu terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, didukung oleh peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan, serta tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti dari setiap pelayanan kesehatan,” katanya.
AI Dorong Efisiensi dan Kapasitas Layanan
FHI 2026 menunjukkan bahwa manfaat AI yang paling dirasakan tenaga kesehatan Indonesia berkaitan dengan peningkatan efisiensi dan kapasitas pelayanan.
Sebanyak 88 persen tenaga kesehatan di Indonesia menyatakan AI telah meningkatkan efisiensi alur kerja mereka. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang mencapai 71 persen.
Selain itu, 87 persen tenaga kesehatan mengaku dapat mengakses hasil diagnosis dengan lebih cepat.
Sementara itu, 82 persen menyebut AI membantu mempercepat proses pengambilan keputusan terkait diagnosis.
Kemudahan mengakses data pasien juga menjadi salah satu manfaat yang dirasakan.
Sebanyak 75 persen tenaga kesehatan Indonesia mengatakan AI memudahkan mereka memperoleh data pasien yang terintegrasi lintas tim medis. Persentase tersebut berada di atas angka global sebesar 57 persen.
Akses terhadap informasi yang lebih terintegrasi dinilai dapat mengurangi waktu yang sebelumnya dihabiskan untuk mencari data dari berbagai sistem.
Kondisi tersebut sekaligus dapat mendukung pengambilan keputusan medis yang lebih terkoordinasi.
Efisiensi tersebut mulai berpengaruh terhadap kapasitas pelayanan. Sebanyak 69 persen tenaga kesehatan Indonesia menyatakan perangkat berbasis AI membantu mereka meningkatkan kemampuan untuk melayani lebih banyak pasien.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 50 persen.
Bagi tenaga kesehatan yang merasakan peningkatan kapasitas tersebut, median peningkatannya mencapai empat pasien tambahan per minggu.
AI Bantu Kurangi Beban Kerja
Selain meningkatkan produktivitas, pemanfaatan AI juga memberikan dampak terhadap pengelolaan waktu dan beban kerja tenaga kesehatan.
Sebanyak 59 persen tenaga kesehatan Indonesia melaporkan dapat menghemat waktu rata-rata sedikitnya 88 jam dalam setahun. Penghematan tersebut setara dengan lebih dari dua minggu kerja penuh.
Waktu yang berhasil dihemat memberikan kesempatan bagi tenaga kesehatan untuk melakukan penelaahan kasus secara lebih mendalam, meningkatkan ketelitian, serta memusatkan perhatian pada pekerjaan klinis yang memiliki nilai lebih tinggi.
Dampak positif juga terlihat pada keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Sebanyak 67 persen tenaga kesehatan Indonesia mengatakan AI membantu meningkatkan work-life balance. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 50 persen.
Proporsi yang sama juga melaporkan adanya penurunan tingkat stres setelah memanfaatkan AI dalam pekerjaan.
Sementara itu, sekitar separuh responden menyatakan mereka lebih jarang bekerja lembur atau membawa pekerjaan ke rumah.
Berpotensi Persempit Kesenjangan Layanan
Pemanfaatan AI juga dinilai memiliki potensi untuk membantu mengatasi kesenjangan layanan kesehatan antarwilayah di Indonesia.
Sebanyak 81 persen tenaga kesehatan percaya teknologi AI dapat membantu mempersempit kesenjangan kualitas layanan kesehatan antarwilayah sekaligus meningkatkan pelayanan bagi masyarakat yang tinggal di daerah yang selama ini kurang terlayani.
Potensi tersebut menjadi semakin relevan bagi Indonesia yang memiliki wilayah geografis luas dan sistem layanan kesehatan yang tersebar.
Dari sisi institusi, manfaat finansial dari penerapan AI juga mulai terlihat.
Sebanyak 43 persen pemimpin institusi layanan kesehatan di Indonesia melaporkan adanya penghematan anggaran setelah menerapkan AI. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 34 persen.
Selain itu, 69 persen pemimpin institusi kesehatan mengatakan manfaat yang diperoleh dari investasi AI telah memenuhi atau bahkan melampaui biaya yang dikeluarkan.
“AI memberikan manfaat terbesar ketika diintegrasikan ke dalam alur kerja klinis dan membantu mengurangi hambatan dalam pekerjaan sehari-hari tenaga kesehatan,” ujar David. []






