Film

Film Operasi Pesta Copet Hadirkan Drama Persahabatan dengan Latar Pestapora

DISTORI.ID – Film Operasi Pesta Copet” produksi Imajinari akan segera tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Mengusung genre komedi persahabatan dengan latar festival musik besar Pestapora, film ini menjadi debut penyutradaraan Edy Khemod.

Ceritanya mengikuti empat anak muda yang nekat mencopet karena terdesak keadaan, namun di balik aksi itu tersimpan kisah haru tentang persahabatan dan kehidupan di pinggiran kota Jakarta.

Deretan pemain yang terlibat antara lain Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, serta debut akting vokalis Sisitipsi Fauzan Lubis. Imajinari yang dikenal dengan DNA komedi tetap menghadirkan humor, namun kali ini dengan skala berbeda. Komedian Awwe turut dilibatkan sebagai konsultan komedi untuk menjaga nuansa segar.

Produser Ernest Prakasa menegaskan bahwa ide film ini unik dan otentik. Ia mengatakan, “Tidak mudah untuk bisa mendapatkan cerita yang fresh, dan menurut Imajinari, Operasi Pesta Copet punya ide dan cerita yang sangat unik dan otentik. Sesuatu yang menggelitik dari awal adalah adanya copet di konser, apakah itu memang beneran copet yang belajar tentang skena musik, atau memang anak musik yang belajar nyopet? Dengan komedi yang sangat dekat dan membumi, drama yang relevan, kami berharap film ini bisa menghibur di tengah situasi yang serba sulit seperti sekarang, lewat komedi yang berbeda.”

Sutradara Edy Khemod menekankan pentingnya empati dalam film ini. “Sebagai orang yang pernah berada di posisi seperti karakter Ijal, saya merasa empati menjadi hal yang didahulukan sebagai pondasi dalam menggarap film Operasi Pesta Copet. Sebab itu, kami juga tak ingin sekadar menghakimi apa yang dilakukan oleh Ijal dan geng copetnya, tetapi kami ingin mengajak penonton untuk bisa menaruh empati, merasakan apa yang mereka alami,” ungkapnya.

Iqbaal Ramadhan yang memerankan Ijal menyebut karakter ini sebagai representasi ketidakadilan sosial. “Setelah aku mengenal Ijal, dia tidak jauh berbeda dengan kita. Dia juga anak muda yang punya mimpi. Yang membedakan Ijal dan kita, dia tidak dilahirkan di keluarga yang bisa menopang dia dengan segala privilesenya untuk berada di titik kayak kita sekarang,” katanya.

Ia menambahkan, “Ijal termasuk orang-orang yang lahir dari kelompok marginal, yang memang terpinggirkan oleh sistem dan struktur. Menurutku, itu adalah cermin ketidakadilan yang masih terus ada di Indonesia dan Ijal adalah salah satu korbannya.”

Kawai Labiba yang berperan sebagai Melodi mengaku pengalaman syuting kali ini sangat berbeda.

“Sebagai Melodi yang menjadi bagian dari geng copet, ada perasaan yang janggal tapi excited, perasaan khawatir, semua bercampur ketika aku harus syuting di tengah kerumunan penonton Pestapora. Tapi syukurlah semua krunya tetap solid dan seru, sehingga semuanya berjalan lancar. Film ini jadi pengalaman paling nekat yang tidak bisa aku lupakan selama berkarier sebagai aktor,” ujarnya.

Kristo Immanuel yang memerankan Adut menambahkan, “Di film ini yang aku pelajari adalah bagaimana caranya menjadi seorang Adut. Sosok yang selalu go with the flow. Ijal ngajak nyopet, dia ikut. Jadi di sini aku justru menjadi orang yang tidak overthinking. Dan di setiap tongkrongan pasti ada sosok seperti Adut. Dinamika bromance-nya juga bisa diwakili dari sosok Ijal dan Adut, Ijal yang lebih berat dengan porsi dramanya sementara komedinya dari Adut.”

Selain tayang serentak di bioskop, film ini juga akan menggelar roadshow bertajuk Pesta Copet di 11 kota mulai 22–31 Agustus 2026. Kota-kota yang akan disambangi antara lain Malang, Surabaya, Sidoarjo, Solo, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Cirebon, Bandung, Bekasi, dan Bogor.

Roadshow ini akan dihadiri langsung oleh para pemeran utama, sutradara Edy Khemod, serta produser Ernest Prakasa dan Dipa Andika.

Dengan premis yang unik, karakter yang kuat, dan pesan sosial yang relevan, Operasi Pesta Copet menjadi salah satu film Indonesia yang paling ditunggu tahun ini.

Imajinari berhasil menghadirkan komedi yang membumi sekaligus drama yang menyentuh, menjadikan film ini bukan hanya hiburan, tetapi juga refleksi tentang kehidupan anak muda yang terdesak oleh keadaan.[]

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button