CeritaDAERAHEKONOMINEWS

Pulau Rubiah Sabang Tawarkan Pesona “Aquarium Raksasa” Daya Tarik Wisata Selam Kelas Dunia

DISTORI.ID – Pulau Rubiah di Kota Sabang selalu punya cara membuat siapapun jatuh cinta. Tidak hanya dengan bukit hijau dan pasir putihnya, tetapi juga dengan pesona ‘aquarium raksasa’ yang hidup di balik biru lautnya. Surga bawah laut yang jernih dan penuh warna ini menjadikan Rubiah sebagai destinasi favorit para penyelam yang datang dari berbagai daerah.

Salah satunya adalah Vira Rahmadani, wisatawan asal Sumatra Barat yang awalnya bahkan bukan pencinta laut. Ketakutan dengan kedalaman? Iya. Penasaran? Lebih iya lagi. Hingga akhirnya, Vira memutuskan nekat mencoba diving karena mendengar keindahan bawah laut Sabang yang disebut-sebut seperti aquarium alami.

“Katanya Sabang itu underwater-nya luar biasa. Dari situ saya memberanikan diri untuk coba diving,” cerita Vira.

Dan benar saja. Saat pertama kali menyelam, Vira dibuat terpesona. Ia disambut pemandangan bawah laut yang memanjakan mata, ikan-ikan berwarna-warni yang berenang bergerombol, terumbu karang cantik menyerupai taman bunga, hingga biota laut yang bergerak seperti dalam film dokumenter.

“Diving itu bikin pikiran refresh lagi. Kayak melihat dunia dari sisi yang berbeda,” kata Vira.

Bukan hanya sekali, pengalaman itu membuat Vira berkali-kali kembali ke Sabang tanpa pernah merasa bosan. Bahkan, ia mulai ikut kegiatan konservasi seperti penanaman terumbu karang dan membersihkan bibit karang di kedalaman laut. Dari yang awalnya hanya ingin melihat, kini ikut menjaga.

Bagi yang belum punya lisensi selam, tak perlu khawatir. Vira menyebut ada paket intro dive yang ramah bagi pemula. Pengunjung akan diajari dasar-dasar diving, cara bernapas yang benar, hingga penggunaan alat selam oleh instruktur profesional.

“Kita turun bertahap sampai kedalaman 10 meter. Biayanya sekitar Rp700.000 sudah termasuk semua alat. Jadi siapa pun bisa menikmati dunia bawah laut Rubiah,” jelas dia.

Menurut Vira, yang tertinggal dari Sabang bukan cuma foto atau video, melainkan rasa takjub yang sulit dilupakan. Sebuah pengalaman yang membuka mata bahwa Indonesia menyimpan keindahan alam luar biasa yang mungkin selama ini tidak terlihat dari permukaan.

Secara geografis, Sabang berada di mulut Selat Malaka. Letaknya membuat perairan ini kaya nutrisi, sehingga biota laut tumbuh subur. Dari ikan-ikan kecil nan cantik hingga hiu paus yang kadang lewat menyapa, Pulau Rubiah menawarkan pengalaman menyelam yang cocok bagi pemula sampai pecinta diving berpengalaman.

Jadi, kalau ingin merasakan sensasi berenang di dalam ‘aquarium raksasa’, Pulau Rubiah adalah jawabannya. Siapkan masker, fin, dan hati yang siap terpikat!

Seorang wisatawan dari Sumatera Barat, Vira Rahmadani saat menyelam di Iboih, Pulau Sabang, Aceh. (Foto: Distori/Dok. Pribadi)

Sabang Diproyeksikan Jadi Surga Wisata Bawah Laut Kelas Dunia

Sabang, pulau paling barat Indonesia, diproyeksikan menjadi surga wisata bawah laut kelas dunia di bawah kepemimpinan Wali Kota Zulkifli H. Adam, yang mengusung visi pembangunan berkelanjutan sekaligus menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi masyarakat.

Zulkifli H. Adam, putra asli Sabang, menegaskan komitmennya untuk menjadikan daerah tersebut tidak hanya sebagai destinasi wisata unggulan, tetapi juga sebagai rumah yang bersih dan layak huni bagi warganya.

“Kami ingin Sabang dikenal dunia bukan hanya karena keindahan bawah lautnya, tetapi juga karena kotanya yang bersih, aman, dan nyaman untuk semua,” ujarnya.

Upaya tersebut didukung oleh kondisi laut Sabang yang telah tiga kali dinobatkan sebagai salah satu yang terbersih di Indonesia, dengan pengelolaan lingkungan yang mengedepankan kesadaran masyarakat melalui budaya malu membuang sampah.

“Menjaga laut bukan hanya tugas pemerintah, tapi sudah menjadi budaya masyarakat Sabang,” kata Zulkifli.

Selain itu, infrastruktur yang memadai seperti jalan yang mulus tanpa kemacetan turut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Sabang. Kondisi ini memperkuat kenyamanan akses dan mobilitas di kawasan wisata.

Kondisi keamanan yang relatif kondusif, ditandai dengan minimnya tindak kriminalitas seperti begal, serta suasana kota yang tenang, semakin memperkuat citra Sabang sebagai destinasi wisata yang ramah dan aman.

“Kami memastikan wisatawan merasa aman selama berada di Sabang,” tambahnya.

Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam saat meresmikan Kawasan Ekowisata Penyu Ie Meulee, di Pantai Keramat Ie Meulee, Sabang, Aceh. (Foto: DISTORI/Dok. Pemko Sabang)

Target wisatawan ke Sabang

Pemerintah Kota Sabang terus mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan melalui penguatan promosi destinasi unggulan seperti Pulau Rubiah, serta pengembangan infrastruktur pendukung pariwisata. Target tersebut sejalan dengan upaya menjadikan Sabang sebagai pintu masuk wisata bahari kelas dunia di kawasan barat Indonesia.

Zulkifli H. Adam mengatakan, peningkatan jumlah wisatawan tidak hanya difokuskan pada kuantitas, tetapi juga kualitas kunjungan yang berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat lokal.

“Kami menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan setiap tahunnya, dengan tetap menjaga kualitas lingkungan dan pelayanan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan Sabang sebagai pelabuhan dunia juga diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.

Seorang wisatawan dari Sumatera Barat, Vira Rahmadani saat menyelam di Iboih, Pulau Sabang, Aceh. (Foto: Distori/Dok. Pribadi)

Kenyamanan dan keramahan wisatawan diutamakan

Selain peningkatan kunjungan, Pemerintah Kota Sabang juga menempatkan kenyamanan dan pengalaman wisatawan sebagai prioritas utama. Hal ini diwujudkan melalui jaminan keamanan, kebersihan lingkungan, serta pelayanan yang ramah dari masyarakat lokal.

Keramahan warga yang kerap membantu wisatawan, bahkan hingga mengantar ke tujuan, menjadi ciri khas tersendiri yang memperkuat daya tarik Sabang.

“Kenyamanan dan keramahan adalah kunci. Kami ingin setiap wisatawan merasa seperti di rumah sendiri saat berada di Sabang,” kata Zulkifli.

Menurutnya, pengalaman positif wisatawan menjadi faktor penting dalam mendorong kunjungan ulang dan promosi dari mulut ke mulut. Ke depan, Pemerintah Kota Sabang terus merumuskan strategi untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan laut dengan peningkatan sektor pariwisata.

“Kami ingin pertumbuhan wisata berjalan seiring dengan pelestarian alam, sehingga Sabang tetap lestari untuk generasi mendatang,” tutupnya.

Menjaga Kelestarian Ekosistem Bawah Laut

 

Semetara itu, untuk menjaga ekosistem bawah laut, Pemerintah Kota Sabang berkomitmen dalam menjaga kelestarian penyu sisik dan ekosistem pesisir ditegaskan melalui launching Kawasan Ekowisata Penyu Ie Meulee. Peresmian perdana yang dilakukan langsung oleh Wali Kota Sabang di Pantai Keramat Ie Meulee, dirangkai dengan edukasi lingkungan serta pelepasan tukik sebagai simbol upaya konservasi berkelanjutan.

Wali Kota Sabang mengatakan, penyu sisik merupakan satwa laut langka yang keberadaannya harus dijaga bersama. Ia menyebutkan, penyu sisik hanya ditemukan di beberapa wilayah tertentu, sehingga upaya pelestariannya di Kota Sabang membutuhkan dukungan dan kolaborasi semua pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat.

“Penyu sisik ini adalah hewan langka yang harus kita lestarikan. Oleh karena itu, harapan kita kepada warga Ie Meulee, masyarakat Sabang, dan terkhusus kepada kelompok-kelompok yang selama ini sudah berupaya melestarikan penyu sisik, agar terus menjaga ekosistemnya. Kami juga mengucapkan terima kasih, karena berkat kerja keras kelompok konservasi, penyu sisik ini bisa tumbuh dengan baik,” kata Zulkifli.

Kawasan Ekowisata Penyu Ie Meulee, di Pantai Keramat Ie Meulee, Sabang, Aceh. (Foto: DISTORI/Dok. Pemko Sabang)

Ia menegaskan, Pemerintah Kota Sabang berkomitmen menjaga kawasan habitat penyu, termasuk dengan membatasi pembangunan yang berpotensi mengganggu ekosistem. Pemerintah juga akan memanfaatkan anggaran gampong untuk mendukung langkah-langkah perlindungan habitat penyu di kawasan Ie Meulee.

“Kita merencanakan pengembangan Ekowisata Penyu Ie Meulee sebagai kawasan konservasi, edukasi, dan wisata ramah lingkungan. Termasuk rencana pembangunan penangkaran penyu, yang akan kita dukung dengan regulasi melalui Peraturan Wali Kota serta penguatan qanun. Untuk itu, dukungan dan kolaborasi semua pihak sangat kita harapkan agar konservasi penyu di Kota Sabang dapat berjalan maksimal,” tambahnya.

Selain launching kawasan ekowisata, kegiatan ini juga dirangkai dengan penandatanganan Deklarasi Ie Meulee oleh Wali Kota Sabang bersama unsur Forkopimda dan tamu undangan. Deklarasi tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian penyu serta ekosistem pesisir Pantai Keramat Ie Meulee.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelepasan tukik penyu sisik di tepi pantai yang dilakukan langsung oleh Wali Kota Sabang bersama Forkopimda dan tamu undangan. Pelepasan tukik ini turut melibatkan siswa SD Negeri 5 Sabang dan TK Negeri 7 Sabang, sebagai bagian dari edukasi sejak dini tentang pentingnya menjaga lingkungan dan satwa laut.

Pada kesempatan yang sama, Pendamping Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (KOMPAK) Konservasi Bahari Ie Meulee, Marzuki, menjelaskan pelepasan penyu sisik tersebut merupakan yang pertama dilakukan di Kota Sabang. Sebanyak 82 ekor tukik dilepas ke laut, hasil dari upaya penyelamatan telur penyu yang direlokasi untuk menghindari gangguan di habitat alaminya.

Menurutnya, Pantai Keramat Ie Meulee yang ditumbuhi pohon pandan merupakan ekosistem alami penyu sisik sehingga harus dijaga dan tidak ditebang. Secara ilmiah, penyu akan kembali ke pantai tempat ia menetas, karena itu kawasan Ie Meulee perlu dilindungi secara konsisten agar tetap aman sebagai habitat penyu.

“Penyu yang kita lepas hari ini, sekitar 25 tahun ke depan akan kembali lagi ke sini. Itu sudah menjadi insting alami penyu. Prosesnya panjang, sehingga ekosistemnya benar-benar harus kita jaga. Perlindungan habitat dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan konservasi,” jelasnya.

Ia menambahkan, kelompok konservasi akan terus mendorong kolaborasi dengan Pemerintah Kota Sabang, Pemerintah Aceh, hingga kementerian terkait, termasuk dalam penyediaan sarana pendukung seperti penangkaran, pos pantau, dan patroli kawasan. [ADV]

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button