DISTORI.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) atau awan hujan di berbagai wilayah Indonesia, Senin (2/11/2026).
Fenomena ini diprediksi menyebar mulai dari Aceh, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga kawasan Papua.
Selain wilayah daratan, potensi awan berbahaya ini juga terdeteksi di empat zona perairan utama.
Meliputi perairan Samudra Hindia di sebelah barat Kepulauan Nias dan Mentawai, Samudra Hindia selatan Banten, serta area Laut Sulawesi bagian tengah.
Prakirawan BMKG, Sastia, mengimbau para pelaku perjalanan udara dan pihak terkait agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan Cb.
Pasalnya, awan jenis ini dikenal mampu berkembang secara vertikal dalam waktu cepat serta memicu hujan lebat, sambaran petir, hingga angin kencang.
“Bagi dunia penerbangan, kondisi ini berisiko memicu turbulensi kuat serta perubahan arah atau kecepatan angin secara mendadak (wind shear) yang dapat membahayakan keselamatan,” ujar Sastia dalam pemaparan cuaca hari ini.
Ia juga berpesan agar masyarakat yang hendak bepergian selalu memantau pembaruan informasi dari pihak bandara maupun maskapai.
Daftar Wilayah Sebaran Awan Cumulonimbus (2 November 2026):
Sumatera & Sekitarnya: Aceh, Sumatera Utara, serta perairan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias dan Kepulauan Mentawai.
Jawa: Wilayah Banten beserta perairan Samudra Hindia di sebelah selatan Banten.
Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Sulawesi: Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, hingga Laut Sulawesi bagian tengah.
Maluku & Papua: Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Ancaman Nyata bagi Penerbangan Awan Cumulonimbus merupakan jenis awan konvektif yang menjulang sangat tinggi hingga ke lapisan atas atmosfer akibat aktivitas atmosfer yang intens.
Keberadaannya kerap membawa cuaca buruk seperti hujan deras dan angin kencang.
Bagi pesawat terbang, melintasi area pertumbuhan awan Cb sangat dihindari karena dapat menimbulkan turbulensi hebat serta arus udara naik-turun yang ekstrem.
Mengingat saat ini Indonesia tengah berada dalam fase peralihan musim, BMKG mengimbau masyarakat luas untuk senantiasa waspada menghadapi potensi cuaca ekstrem dan rutin memantau informasi resmi dari instansi berwenang. []






