MUSIK

Josh Holmes Rayakan Perilisan Single Last First Kiss Bersama Fans Jakarta

DISTORI.ID  – Ketika Josh Holmes duduk di sebuah kafe di Bali tiga tahun lalu, ia menulis bait pertama dari lagu yang kelak berjudul “Last First Kiss.” Saat itu, ia belum tahu bagaimana lagu itu akan berakhir. Ia hanya tahu ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tetapi kata-kata tak kunjung selesai.

Tiga tahun kemudian, setelah bertemu kekasihnya, lagu itu menemukan bentuknya. Dan kini, sehari sebelum konser perdananya di Indonesia, Holmes merilis “Last First Kiss” di Spotify dan Apple Music.

Lagu ini berakar pada nuansa pop-punk awal 2000-an, mengingatkan pada Blink-182 dan Simple Plan, namun dengan sentuhan personal yang membuatnya berbeda.

“Butuh bertemu kekasih saya untuk akhirnya memahami apa yang ingin disampaikan lagu ini,” kata Josh Holmes dalam keterangan tertulisnya.

“Lalu saya menyaksikan 350 tiket habis terjual dalam lima hari dari seberang dunia. Saya bahkan belum mendarat, tapi Jakarta sudah terasa seperti rumah,” tuturnya.

Antusiasme yang Tak Terduga

Josh Holmes mungkin tidak pernah membayangkan bahwa konser intimnya di COMA, M Bloc, Jakarta akan menjadi fenomena. Lebih dari 900 orang mendaftar sebelum tiket resmi dijual. Ketika tiket 350 kursi habis dalam lima hari, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang istimewa di sini.

Bagi penggemar Indonesia, Holmes bukan sekadar musisi asing. Ia adalah simbol musik independen yang jujur, penuh energi, dan berani berjalan di luar jalur industri besar.

Jejak Karier

Holmes berasal dari Warwickshire, Inggris. Ia dikenal sebagai musisi independen yang konsisten menghadirkan karya otentik. Dukungan dari Music Crowns, FAME Magazine, dan BBC Introducing membantunya mendapat perhatian lebih luas. Lagu-lagu seperti “Say Yes”, “Everything’s Changing”, dan “Hey You” menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.

Namun, konser Jakarta ini berbeda. Ia bukan hanya tampil di panggung baru, tetapi juga menemukan komunitas yang menyambutnya dengan tangan terbuka.

Konser Intim, Koneksi Nyata

Konser di Jakarta bukanlah pertunjukan megah dengan ribuan penonton. Hanya 350 kursi tersedia. Namun, justru di sanalah letak kekuatannya. Konser intim memungkinkan Holmes berinteraksi lebih dekat dengan penggemar.

Setiap lagu akan terasa seperti percakapan pribadi, setiap lirik menjadi jembatan emosional.

Musik sebagai Rumah

Josh Holmes menyebut Jakarta sebagai rumah, bahkan sebelum ia mendarat. Pernyataan itu bukan sekadar kata-kata manis. Ia merasakan energi penggemar yang begitu besar, energi yang membuatnya yakin bahwa musik independen bisa menemukan panggung global tanpa harus tunduk pada industri besar.

Dengan tiket yang ludes dan single baru yang dirilis, Holmes menatap masa depan karier internasionalnya dengan optimisme. Jakarta menjadi titik awal perjalanan globalnya, sebuah kota yang memilihnya sebelum ia memilih kota itu.

Kisah Josh Holmes adalah kisah tentang musik yang menemukan rumah baru. Dari Bali ke Jakarta, dari bait yang tertunda hingga konser intim, Holmes membuktikan bahwa musik independen bisa melintasi batas, menemukan penggemar, dan membangun koneksi yang nyata. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button