DISTORI.ID – Industri seni pertunjukan, khususnya festival musik massal, kerap berada di persimpangan jalan antara fungsi komersial sebagai wadah hiburan hiburan murni (entertainment) dan fungsinya sebagai ruang artikulasi sosial-politik (social commentary).
Dalam sejarah kebudayaan populer di Indonesia, panggung musik sering kali berfungsi sebagai corong perlawanan atau setidaknya sebagai pengingat moral di tengah berbagai krisis yang melanda bangsa.
Dinamika inilah yang tampak jelas pada perhelatan Synchronize Fest 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, Jumat (16/10), ketika grup musik rock The Changcuters menggunakan panggung mereka untuk menyuarakan isu krisis ekologis: kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di tengah gegap gempita penonton hari pertama festival yang memadati panggung Dynamic, vokalis The Changcuters, Tria Ramadhani, memilih untuk memecah ritme pertunjukan demi menyampaikan pesan solidaritas.
Keputusan ini patut dicermati dalam konteks sosiologis, mengingat isu karhutla—yang hingga saat ini terusmenerus mendera wilayah Kalimantan, Sumatera, dan Papua—sering kali mengalami “fatigue” atau kelelahan informasi di ruang publik perkotaan seperti Jakarta.
Bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukanlah sekadar fenomena meteorologis musiman, melainkan sebuah persoalan struktural yang melibatkan faktor kesengajaan manusia demi pembukaan lahan, lemahnya penegakan hukum, serta dampak buruk perubahan iklim global.
Akibat dari bencana ini dirasakan secara langsung oleh masyarakat di daerah-daerah terdampak melalui paparan kabut asap pekat yang memicu krisis kesehatan publik, mulai dari gangguan pernapasan kronis hingga lumpuhnya aktivitas sosial-ekonomi lokal.
Namun, bagi masyarakat urban di kota-kota besar yang jauh dari pusat bencana, realitas tersebut kerap kali tereduksi menjadi sekadar berita sekilas di layar gawai. Oleh karena itu, langkah yang diambil oleh Tria Ramadhani untuk menarik perhatian puluhan ribu penonton festival ke arah isu karhutla merupakan bentuk intervensi kultural yang signifikan.
“Semoga hari ini semuanya sehat, aman. Ada baiknya, kalau boleh ya, bukan sok-sokan, tapi ya terserah kalian menilainya gimana. Mari kita doakan saudara-saudara kita yang ada di luar pulau ini. Semoga mereka cepat dipulihkan, teman-teman,” tutur Tria di atas panggung Dynamic.
Pernyataan tersebut mencerminkan kesadaran refleksif dari sang musisi terhadap potensi sinisme publik (“bukan sok-sokan, tapi ya terserah kalian menilainya gimana”).
Dalam era di mana setiap tindakan publik sering kali dihakimi melalui lensa media sosial, keberanian untuk menyuarakan empati tanpa pretensi politis menjadi sebuah sikap yang langka dan patut diapresiasi.
Selain mengajak publik untuk menengadahkan tangan dalam doa, Tria juga menyuarakan kekesalan kolektif terhadap akar permasalahan karhutla, yakni para oknum pembakar hutan. Dengan gaya retorika yang lugas, ia melontarkan harapan agar dampak buruk dari tindakan destruktif tersebut turut dirasakan oleh pelaku kejahatan lingkungan.
“Semoga kebakaran hutannya cepat berakhir, cepat hilang. Dan semoga kalau itu orang yang membakarnya, juga ikutan hilang,” ucap Tria, yang langsung direspons dengan seruan “Aamiin” secara masif oleh massa penonton.
Respon kolektif ini menunjukkan bahwa isu keadilan lingkungan memiliki resonansi emosional yang tinggi di kalangan masyarakat luas, melampaui sekat-sekat demografis.
Dalam perspektif sosiologi komunikasi, doa bersama yang diinisiasi di ruang publik massal berfungsi sebagai ritual solidarity (solidaritas ritual). Ketika ribuan orang menyatukan niat dan energi positif secara simultan, terbangun sebuah ikatan psikologis antara warga perkotaan dengan para korban di daerah terpencil.
Hal ini disadari betul oleh Tria, yang memandang bahwa kekuatan doa memiliki dimensi transendental sekaligus terapeutik.
“Meskipun kita cuma bantu melalui sebuah energi, sebuah doa yang positif, saya yakin energi itu bisa sampai ke siapapun yang kita inginkan, dan energi itu adalah obat yang paling mujarab,” tegasnya.
Penting dicatat bahwa penyisipan pesan kemanusiaan ini tidak mengorbankan kualitas artistik dari penampilan The Changcuters di Synchronize Fest 2026.
Band yang digawangi oleh Tria Ramadhani (vokal), Dipa Nandastyra (bas), Muhammad Iqbal (gitar), Arlanda Ghazali Langitan (gitar), dan Erick Nindyoastomo (drum) ini tetap mempertahankan reputasi mereka sebagai salah satu kelompok panggung paling atraktif di Indonesia.
Melalui repertoar lagu-lagu hits mereka seperti “Racun Dunia”, “Parampampam”, “Sebagai”, “Suka-Suka”, “London”, “Ruang Riang”, “I Love U Beibeh”, hingga ditutup secara eksplosif dengan nomor “Gila-Gilaan”, The Changcuters berhasil menunjukkan bahwa integritas seni dan kepedulian sosial dapat berjalan secara simultan.
Aksi panggung The Changcuters di Kemayoran malam itu memberikan preseden positif bagi dunia hiburan tanah air.
Bahwa di tengah berbagai krisis ekologis dan sosial yang melanda bangsa, panggung festival musik tidak harus menjadi ruang hampa nilai, melainkan dapat berfungsi sebagai mercusuar empati yang mengingatkan kita untuk tetap merawat solidaritas kemanusiaan lintas wilayah. []






