DISTORI.ID – Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal memimpin rapat koordinasi penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adi Ruang Rapat Wali Kota, Balai Kota Banda Aceh, Jumat (16/10/2026).
Rapat tersebut dihadiri Sekretaris Daerah, para asisten, serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Pertemuan digelar menyusul memburuknya kualitas udara di Banda Aceh.
Indikator kualitas udara dilaporkan meningkat signifikan dari angka 63 menjadi 131 pada pukul 16.00 WIB.
Kondisi tersebut mengarah pada kategori tidak sehat sehingga membutuhkan langkah antisipasi segera.
Illiza meminta seluruh jajaran bergerak cepat dan terkoordinasi untuk mengantisipasi dampak karhutla. Ia juga menginstruksikan agar sosialisasi kepada masyarakat dilakukan secara masif.
“Saya minta sosialisasi dilakukan secara masif agar masyarakat peduli, seperti memakai masker dan mengurangi aktivitas yang kurang penting. Kita harus waspada terutama kepada kelompok rentan,” ujar Illiza.
Pemko Banda Aceh, lanjut Illiza, akan membentuk tim khusus untuk menangani dampak karhutla.
Setiap OPD juga diminta menyiapkan langkah penanganan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Pemantauan kualitas udara akan dilakukan secara berkelanjutan untuk mengantisipasi kondisi yang semakin memburuk.
“Kita pantau terus, jangan sampai berisiko. Harapannya dampak karhutla tidak terus menyebar dan menebal,” katanya.
Illiza juga mengungkapkan bahwa Pemko Banda Aceh tengah menyiapkan sejumlah opsi kebijakan apabila kualitas udara terus memburuk.
Kebijakan tersebut mencakup penerapan work from home a(WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pembelajaran daring bagi siswa.
Selain itu, pemerintah kota turut mempertimbangkan pengaturan jam operasional kafe dan warung kopi yang beroperasi selama 24 jam.
Puskesmas dan RSUD Meuraxa Disiagakan
Di sektor kesehatan, Dinas Kesehatan memastikan seluruh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) bersiaga selama 24 jam.
Langkah ini mencakup pengaturan piket malam di instalasi gawat darurat (IGD) serta memastikan ketersediaan peralatan bantuan pernapasan.
Kesiapsiagaan tersebut ditujukan untuk memberikan pelayanan cepat kepada masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Sementara itu, RSUD Meuraxa menyiapkan penambahan stok oksigen, ruang untuk penanganan kondisi darurat, serta pengadaan obat-obatan.
Rumah sakit juga mengoordinasikan tenaga medis agar tetap siaga menghadapi kemungkinan peningkatan kebutuhan layanan kesehatan.
Pemko Banda Aceh turut mengintensifkan langkah antisipasi lintas sektor. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak, terutama warga yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
Pembelajaran Daring dan Posko Siaga Disiapkana
Dalam rapat tersebut, pemerintah kota juga membahas usulan penerapan pembelajaran daring bagi siswa PAUD, TK, SD, dan SMP.
Opsi ini disiapkan sebagai upaya melindungi anak-anak dari paparan udara yang memburuk, khususnya mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Di sisi lain, Dinas Syariat Islam telah berkoordinasi dengan Badan Kemakmuran Masjid (BKM), para dai, dan daiyah untuk menyebarluaskan informasi kesiapsiagaan menghadapi bencana karhutla.
Pemko Banda Aceh juga membahas pembentukan posko siaga di Balai Kota.
Posko tersebut direncanakan didukung ambulans dan mobil puskesmas keliling untuk menunjang penanganan apabila kondisi darurat terjadi.
Melalui koordinasi lintas OPD, pemerintah kota berupaya memastikan setiap instansi menjalankan peran masing-masing dalam mengantisipasi dampak karhutla dan melindungi kesehatan masyarakat. []






