DISTORI.ID – Bayangkan sebuah lanskap suara di mana dentingan tegas dawai gitar elektrik tiba-tiba bersilang silur dengan alunan merdu nan meliuk dari instrumen harmonika.
Secara teoritis, kombinasinya mungkin terdengar tak biasa bagi telinga awam. Namun, ketika dua instrumen tersebut berada di tangan dua virtuoso dengan latar belakang yang kaya, perpaduan itu memunculkan harmoni yang menggetarkan jiwa, memikat telinga, sekaligus menghadirkan kesegaran baru bagi penikmat musik jazz dan improvisasi kontemporer.
Duo yang kini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan pemerhati musik Indonesia dan internasional ini digerakkan oleh dua nama penting, yakni Muhamad Reyhan Naufal, seorang musisi muda berbakat pengusung harmonika diatonik, dan I Wayan Balawan, legenda gitarist asal Bali yang tak pernah berhenti melakukan redefinisi atas eksplorasi musik Indonesia.
Untuk memahami kedalaman karya mereka, kita perlu melihat lebih dekat profil kedua figur ini. Di satu sisi, ada Muhamad Reyhan Naufal. Pemuda kelahiran Jakarta, 15 Desember 1997 yang akrab disapa Rey ini memiliki latar belakang yang cukup unik untuk ukuran seorang musisi profesional.
Rey sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan musik formal di sekolah atau universitas musik. Ia adalah lulusan sarjana ilmu ekonomi (Bachelor of Arts in Economics) dari Coventry University, sebuah perguruan tinggi bergengsi yang berpusat di West Midlands, Inggris.
Namun, minat passion yang kuat menuntun Rey bertumbuh menjadi seorang musisi, pemain harmonika spesialis advancing diatonic harmonica, edukator, sekaligus juri (adjudicator) dalam festival-festival internasional.
Rey konsisten membawa instrumen harmonika yang selama ini kerap dipandang sebelah mata masuk ke dalam wilayah musik yang lebih kompleks seperti contemporary jazz, blues, dan musik improvisasi modern.
Di sisi lain, berdiri sosok I Wayan Balawan. Musisi kelahiran Gianyar, Bali, pada 9 September 1972 ini merupakan figur yang sudah sangat disegani dalam peta musik nasional.
Balawan mengenyam pendidikan musik formal secara sistematis di Australian Institute of Music, Sydney, dan menyelesaikan program diplomanya pada tahun 1997. Sepulangnya ke Indonesia, Balawan tak pernah berhenti berpetualang secara kreatif, membagi waktunya antara Denpasar dan Jakarta.
Melalui pembentukan grup legendaris Batuan Ethnic Fusion, Balawan mencatatkan namanya dalam sejarah musik Tanah Air dengan mengeksplorasi percampuran antara tradisi musik Bali dan eksperimentasi barat.
Ia mempopulerkan teknik touch tapping style pada gitar elektrik, sebuah teknik permainan gitar dengan cara mengetuk papan instrumen menggunakan dua tangan yang saat itu belum populer di Indonesia.
Lantas, bagaimana dua musisi lintas generasi dan beda latar belakang akademis ini bisa bertatap muka dan berkolaborasi? Jawaban dari pertanyaan tersebut bermula dari sebuah ruang pertunjukan di pusat Kota London, Inggris.
Kisah berawal saat Balawan sedang menggelar konsertasi solo di SOAS Auditorium, sebuah gedung pertunjukan megah yang terletak di dalam area SOAS University of London, Bloomsbury. Rey yang saat itu berstatus sebagai mahasiswa di Inggris hadir menonton.
Terpikat oleh energi panggung Balawan, Rey memberanikan diri naik ke atas panggung untuk diajak berjamming bersama.
Pertemuan tak terduga itu berbuah manis. Keduanya langsung merasakan adanya keterikatan (chemistry) yang kuat, didasari oleh persamaan visi musikal dan keselarasan dalam cita rasa (taste) estetika.
Dari interaksi perdana di London itulah lahir sebuah komitmen untuk melanjutkan eksperimen berdua ke tingkatan yang lebih profesional.
Salah satu kekuatan utama dari kolaborasi Balawan dan Reyhan Naufal terletak pada konseptualisasi susunan aransemen mereka. Penampilan mereka bukan sekadar gabungan mekanis antara dua alat musik, melainkan sebuah percakapan bermusik yang hidup dan dinamis.
“Kami tidak memosisikan gitar semata sebagai instrumen melodi utama (lead) dan harmonika sebagai iringan latar belakang (background). Kolaborasi ini berbasis pada bentuk dialog interaktif yang saling merespons secara proporsional atas dasar kesetaraan dan rasa saling menghormati,” tutur Reyhan Naufal.
Dalam setiap komposisi lagu yang dibawakan, tidak ada salah satu pihak yang berniat untuk tampil mendominasi secara sepihak. Permainan gitar Balawan dan harmonika Reyhan terjalin dalam bentuk aksi-reaksi yang saling memancing.
Gitar menembakkan frasa nada meliuk, yang langsung ditanggapi secara presisi oleh hembusan harmonika Reyhan. Semuanya berlangsung dalam porsi yang serba pas, ditopang oleh arsir harmoni dari keyboard, bas, dan ketukan drum yang solid. Hasilnya adalah sebuah tontonan yang sangat segar, elegan, dan kaya akan kejutan spontan.
Kekuatan konsep musik ini telah teruji di panggung-panggung internasional skala besar. Keduanya tercatat telah mewakili Indonesia di panggung Seoul International Harmonica Festival secara berturut-turut pada tahun 2018, 2019, dan 2023.
Mereka juga sukses memukau penikmat musik di Melbourne, Australia pada tahun 2019, serta tampil dalam ajang bergengsi Asia Pacific Harmonica Festival di Jiangyin, Tiongkok, pada Juli 2026.
Penampilan teranyar duo ini berlangsung pada awal Oktober 2026 dalam perhelatan The Papandayan Jazz Festival (PJF) edisi ke-14 di Bandung.
Tampil di malam terakhir festival, pertunjukan berdurasi 60 menit yang disajikan Balawan dan Reyhan bersama band pendukungnya mendapatkan sambutan riuh dan tepuk tangan meriah dari para penonton.
Dalam konser malam itu, mereka didampingi oleh musisi-musisi papan atas seperti Doni Joesran (keys), Dharrian Emilio (drums), dan Jonathan (bass).
Pentas makin terasa spesial berkat hadirnya sesi jam session bersama violinis Aria Indra, drummer Dion Subyakto, serta tokoh legendaris harmonika Indonesia, Hari Pochang.
Penonton juga diajak berinteraksi langsung saat Balawan memimpin audiens untuk menyusun bait lagu secara spontan di tengah acara.
Petualangan duo ini dipastikan tidak berhenti sampai di situ. Pada akhir Oktober 2026, tepatnya tanggal 28 hingga 31 Oktober 2026, duo Balawan dan Reyhan Naufal bakal kembali terbang ke Tiongkok untuk tampil dalam acara pameran industri musik dunia Music China yang digelar di Shanghai New International Expo Centre.
Di samping itu, Reyhan Naufal juga terus membuktikan kepeduliannya pada pengembangan edukasi musik di dalam negeri. Pada 25 Oktober 2026, Rey bakal menggelar festival harmonika berbasis digital bertajuk Harmonica Summit.
Ajang ini digelar bekerja sama dengan musisi harmonika internasional ternama asal Inggris, Adam Glasser.
Seluruh informasi pendaftaran dan jadwal acara dapat diakses melalui akun Instagram resmi @harmonica.nusantara.
Sinergi antara Balawan dan Reyhan Naufal adalah bukti nyata bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu melintasi sekat umur, latar belakang pendidikan, maupun asal wilayah. []
Artikel ini diolah dan disesuaikan dari siaran pers yang ditulis wartawan musik senior Gideon Momongan.






