DISTORI.ID – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Aceh mencatat prestasi membanggakan dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.
Total penjualan dan realisasi ekspor UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh mencapai Rp7,98 miliar.
KKI 2026 mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”.
Ajang tersebut menjadi momentum bagi pelaku UMKM untuk memperkuat kapasitas usaha sekaligus memperluas akses pasar, baik di tingkat nasional maupun global.
Pada penyelenggaraan tahun ini, UMKM Aceh mendapat ruang lebih luas untuk memamerkan berbagai produk unggulan daerah.
Produk yang ditampilkan antara lain wastra, fesyen, kriya, hingga kopi khas Aceh.
Dari sisi transaksi, UMKM binaan BI Aceh mencatat penjualan secara luring sebesar Rp626,70 juta. Sementara transaksi melalui kanal daring mencapai Rp2,86 miliar.
Selain penjualan, realisasi ekspor produk UMKM Aceh tercatat sebesar Rp4,50 miliar. Jika diakumulasikan, total penjualan dan ekspor mencapai Rp7,98 miliar.
Angka tersebut meningkat sekitar 400 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Hasil itu sekaligus menjadi rekor tertinggi sepanjang keikutsertaan Kantor Perwakilan BI Provinsi Aceh dalam ajang KKI.
Peningkatan transaksi tersebut menunjukkan semakin terbukanya akses pasar bagi produk UMKM Aceh, mulai dari pasar domestik, kanal digital, hingga pasar ekspor.
Prestasi UMKM Aceh juga terlihat dari sejumlah penghargaan dalam KKI 2026. Werkin Tandem meraih predikat UMKM dengan Transaksi Terbanyak pada Area Rupa Kini.
Sementara itu, PT Melaya Kopi berhasil menjadi UMKM dengan Transaksi Terbanyak pada kategori Pesona Kopi Nusantara KKI Online.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa produk unggulan Aceh memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Produk wastra, fesyen, kriya, dan kopi tidak hanya menjadi bagian dari kekayaan budaya Aceh, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan.
Penguatan inovasi, kualitas produk, merek, serta akses pasar menjadi sejumlah faktor penting untuk meningkatkan daya saing UMKM.
Kantor Perwakilan BI Provinsi Aceh menyatakan komitmennya untuk terus mendorong pengembangan UMKM melalui peningkatan kapasitas usaha, inovasi dan kualitas produk, digitalisasi, perluasan akses pasar dan pembiayaan, hingga fasilitasi menuju pasar ekspor.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah, perbankan, dunia usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan juga akan terus diperkuat untuk membangun ekosistem UMKM Aceh yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan.
Capaian KKI 2026 menjadi salah satu bukti bahwa penguatan sinergi dan kolaborasi dapat membuka peluang lebih besar bagi UMKM Aceh untuk meningkatkan daya saing.
Dari produk lokal Aceh, membuka jalan menuju pasar nasional hingga global. []






