AKADEMIKNEWSPENDIDIKAN

Firdaus Noezula: dari Akar Daerah Menuju Ruang Pengabdian yang Lebih Luas

DISTORI.ID – Firdaus Noezula, Lahir dan besar di Aceh Utara membuat sosok ini tidak asing dengan denyut kehidupan masyarakat Aceh.

Ia tumbuh dengan melihat langsung bagaimana persoalan daerah tidak hanya membutuhkan kebijakan yang baik, tetapi juga orang-orang yang mampu menerjemahkan kepentingan masyarakat ke dalam gagasan dan kerja nyata.

Menariknya, latar belakang pendidikannya tidak berhenti pada satu bidang.

Ia menempuh pendidikan S1 Teknik Informatika, sebuah disiplin yang membentuk cara berpikir sistematis, logis, sekaligus adaptif terhadap perubahan teknologi.

Namun, langkah berikutnya membawa perspektif yang lebih luas. Ia melanjutkan pendidikan S2 Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan di IPB.

Di sinilah perspektif tentang teknologi bertemu dengan isu pembangunan: bagaimana sebuah wilayah berkembang, bagaimana ekonomi daerah dibangun, dan bagaimana perencanaan strategis dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang berdampak.

Perpaduan dua latar belakang tersebut menjadi salah satu kekuatannya. Ia terbiasa melihat persoalan bukan hanya dari satu sudut pandang, tetapi dari berbagai sisi teknologi, ekonomi, pembangunan, hingga kebijakan.

Mengenal Ekosistem PEMA dari Dalam

Pengalamannya sebagai Komisaris Independen PT PEMA Perseroda juga memberikan bekal penting.

Ia tidak sekadar mengenal PEMA dari luar, tetapi pernah berada di dalam ruang yang bersentuhan langsung dengan tata kelola perusahaan, pengawasan, pengambilan keputusan, serta dinamika badan usaha milik daerah.

Pengalaman tersebut menjadi modal untuk memahami bagaimana perusahaan daerah seharusnya bergerak: profesional dalam tata kelola, tetapi tetap memiliki keberpihakan pada kepentingan pembangunan daerah.

Sebelumnya, ia juga pernah menjadi Tenaga Ahli Bupati Aceh Utara periode 2016–2018. Pengalaman ini mempertemukannya secara langsung dengan dinamika pemerintahan daerah dan berbagai persoalan pembangunan di tingkat kabupaten.

Kemudian, pada periode 2020–2024, ia dipercaya sebagai Tenaga Ahli DPR RI. Pengalaman di level nasional tersebut tentu memperluas perspektifnya tentang bagaimana kebijakan pusat bekerja, bagaimana kepentingan daerah diperjuangkan, dan bagaimana komunikasi pusat-daerah dibangun.

Dari Aceh Utara ke Jakarta, pengalamannya bergerak di dua ruang sekaligus: memahami persoalan daerah dari dekat dan memahami bagaimana keputusan nasional dibuat.

Sederhana dalam Sikap, Luas dalam Pergaulan. Satu hal yang cukup menonjol dari sosok ini adalah gaya pergaulannya.

Ia dikenal bersahaja dan relatif mudah berkomunikasi dengan berbagai kalangan. Dari masyarakat biasa, pelaku usaha, aktivis, birokrat, akademisi, hingga politisi nasional semuanya bisa menjadi ruang dialog baginya.

Tidak banyak sekat dalam cara ia membangun komunikasi. Kemampuan bergaul dengan banyak kelompok ini bukan sekadar soal pertemanan. Dalam dunia kebijakan dan pembangunan daerah, jaringan komunikasi merupakan modal yang sangat penting.

Apalagi ketika kepentingan daerah harus dikomunikasikan ke tingkat nasional.

Di titik inilah pengalaman dan jejaring yang ia bangun selama bertahun-tahun menjadi nilai tambah.

Ia memahami bahwa memperjuangkan kepentingan Aceh tidak cukup hanya dengan menyampaikan aspirasi.

Dibutuhkan komunikasi yang cair, kemampuan membaca situasi, serta jaringan yang memungkinkan sebuah gagasan menemukan pintu masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan.

Modal untuk Membawa Kepentingan Daerah

Dengan latar belakang pendidikan teknologi, pemahaman pembangunan wilayah, pengalaman di pemerintahan daerah, pengalaman di parlemen nasional, serta keterlibatan dalam tata kelola perusahaan daerah, sosok ini memiliki spektrum pengalaman yang cukup beragam.

Ia berada di antara dunia teknokrasi, pemerintahan, bisnis daerah, dan politik kebijakan.

Ditambah dengan keterlibatannya dalam berbagai organisasi serta isu sosial-ekonomi Aceh, pengalaman tersebut membuatnya cukup dekat dengan berbagai persoalan yang dihadapi daerah.

Pada akhirnya, kekuatan seorang figur bukan hanya terletak pada apa yang tertulis di CV. Ada hal lain yang jauh lebih menentukan: cara berpikir, kemampuan berkomunikasi, pengalaman membaca persoalan, dan seberapa luas ia mampu membangun jembatan dengan banyak pihak.

Dan sosok ini tampaknya memiliki modal tersebut. Kini, Modal Itu Bertemu di PEMA Global Energi

Karena itu, ketika kemudian ia dipercaya dan ditunjuk sebagai Direktur PEMA Global Energi (PGE), posisi tersebut terasa memiliki benang merah yang cukup kuat dengan perjalanan yang telah dilaluinya.

Ia datang bukan sebagai orang yang sama sekali baru dalam ekosistem PEMA. Pengalaman sebagai Komisaris Independen PT PEMA Perseroda telah memberinya kesempatan untuk memahami bagaimana sebuah perusahaan daerah bekerja, bagaimana tata kelola dijalankan, dan bagaimana kepentingan korporasi harus berjalan beriringan dengan kepentingan daerah.

Di sisi lain, pengalaman di pemerintahan daerah dan DPR RI memberikan bekal untuk memahami bahwa bisnis energi tidak pernah berdiri sendiri.

Ada regulasi, pemerintah, investasi, masyarakat, hubungan pusat-daerah, hingga kepentingan pembangunan yang semuanya saling berkaitan.

PGE membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengelola perusahaan. PGE juga membutuhkan figur yang mampu membuka komunikasi, membaca peluang, membangun kemitraan, dan membawa kepentingan perusahaan ke ruang yang lebih luas.

Di sinilah karakter dan jaringan menjadi penting

Sosok yang bisa berbicara dengan masyarakat di satu sisi, tetapi juga mampu membangun komunikasi dengan pengambil kebijakan dan jejaring bisnis di tingkat nasional, memiliki modal yang cukup relevan untuk memimpin perusahaan yang bergerak di sektor energi.

Tentu, penunjukan adalah awal. Ukuran sesungguhnya tetap berada pada kinerja: bagaimana PGE tumbuh, bagaimana bisnis dikembangkan, bagaimana tata kelola diperkuat, bagaimana peluang investasi dibuka, dan seberapa besar kontribusi perusahaan dapat kembali dirasakan oleh PEMA dan Aceh.

Namun, dari rekam perjalanan yang dimiliki, setidaknya ada alasan yang cukup kuat mengapa sosok ini dinilai cocok dan relevan berada di posisi tersebut.

Ia memahami daerah, mengenal ekosistem PEMA, memiliki perspektif pembangunan, pernah berada di ruang kebijakan nasional, dan mempunyai kemampuan membangun komunikasi lintas kalangan.

Dengan kata lain, perjalanan panjang itu kini menemukan ruang aktualisasinya.

Berangkat dari Aceh Utara, menimba pengalaman hingga tingkat nasional, mengenal PEMA dari dalam, dan kini dipercaya memimpin PEMA Global Energi.

Bukan sekadar perpindahan posisi, tetapi sebuah perjalanan yang mempertemukan pengalaman, jaringan, kapasitas, dan kepentingan pembangunan daerah dalam satu ruang PGE. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button