DISTORI.ID – Inter Milan memastikan memastikan juara Seri A Italia musim 2025/2026.
Kemenangan 2-0 atas Parma bukan sekadar tambahan tiga poin, tetapi menjadi penegas Nerazzurri bisa mengunci gelar juara Serie A.
Atmosfer di Stadion Giuseppe Meazza sudah terasa seperti pesta bahkan sebelum peluit awal laga vs Parma dibunyikan.
Inter hanya membutuhkan hasil imbang untuk mengunci gelar, namun pendekatan mereka jauh dari sekadar bermain aman.
Tim asuhan Christian Chivu justru tampil agresif, menunjukkan mental juara yang tak ingin bergantung pada hasil tim lain.
Secara statistik, Inter tampil superior. Penguasaan bola mencapai 57 persen, disertai 11 percobaan tembakan dengan lima mengarah ke gawang.
Sebaliknya, tim tamu Parma gagal menciptakan satu pun tembakan tepat sasaran.
Laga vs Parma itu cerminan betapa solidnya lini pertahanan Inter sekaligus efektifnya kontrol permainan mereka.
Dua gol kemenangan Inter dicetak Marcus Thuram menit 45+1 dan Henrikh Mkhitaryan (80).
Kemenangan ini membuat Inter mengoleksi 82 poin dari 35 pertandingan, unggul jauh dari pesaing terdekat, Napoli.
Dengan selisih 12 poin dan hanya tiga laga tersisa, posisi puncak tak lagi terjangkau.
Bahkan Napoli yang diasuh Antonio Conte pun tak bisa menyalip laju konsisten Inter musim ini.
Dari laporan Football Italia, Chivu menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan hanya soal kualitas individu, tetapi konsistensi tim sepanjang musim.
Ia menyebut para pemainnya menunjukkan disiplin dan ‘rasa lapar’ yang tidak pernah padam sejak awal musim hingga sekarang.
Keberhasilan Inter Milan meraih gelar Serie A musim 2025/2026 tak lepas dari peran kapten mereka, Lautaro Martinez.
Di balik trofi Scudetto, tersimpan cerita tentang kejujuran, tekanan, dan kerja keras yang akhirnya terbayar lunas.
Beberapa waktu lalu, Lautaro sempat menjadi sorotan usai melontarkan pernyataan emosional yang mencerminkan kegelisahannya terhadap kondisi tim.
Ia menegaskan bahwa apa yang disampaikannya bukanlah bagian dari skenario atau strategi komunikasi, melainkan reaksi jujur sebagai seorang pemimpin.
“Saya tidak merencanakannya, saya hanya melihat beberapa hal yang tidak saya sukai, dan saya mengatakan apa yang saya pikirkan,” kata Lautaro Martinez kepada DAZN Italia dikutip dari Football Italia, Senin, (4/5/2026).
Kini, emosi tersebut berubah menjadi kebahagiaan. Lautaro mengakui bahwa perjalanan menuju gelar tidaklah mudah, terutama setelah Inter mengalami musim sebelumnya yang mengecewakan di berbagai kompetisi.
“Tidak mudah untuk memulai kembali setelah musim di mana kami kalah di semua kompetisi yang kami ikuti di akhir musim, tetapi saya sangat bahagia hari ini dengan pencapaian ini,” jelas Lautaro.
Sebagai kapten, Lautaro menekankan bahwa gelar ini adalah buah dari kerja keras kolektif yang mungkin sempat diragukan banyak pihak.
Inter tak selalu dipandang sebagai favorit di awal musim. Namun, justru mampu menjawab keraguan itu dengan konsistensi di dalam dan luar lapangan.
“Mungkin banyak yang tidak menganggap kami sebagai favorit mengingat apa yang terjadi musim lalu, tetapi kami bekerja sangat keras di dalam dan di luar lapangan,” tutur penyerang Timnas Argentina itu. []




