OPINI

Hari Tanpa Tembakau Sedunia: Wujudkan Rumah Bebas Asap Rokok

Oleh: Ns. Ernita, S.Kep

SETIAP tahun pada tanggal 31 Mei, masyarakat di seluruh dunia merayakan “Hari Tanpa Tembakau Sedunia” sebagai momen penting untuk mengenali bahaya merokok bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Setiap tahunnya, jutaan orang kehilangan nyawa karena penyakit yang disebabkan oleh penggunaan tembakau, dan lebih menyedihkan lagi, banyak dari mereka adalah perokok pasif, termasuk anak-anak dan balita yang tidak bersalah.

Ironisnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak-anak seringkali adalah sumber utama paparan asap rokok. Menurut data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021, prevalensi perokok pasif di rumah sebesar 59,3%.

Ini berarti bahwa lebih dari separuh populasi terpapar asap rokok di lingkungan rumah mereka. Paparan ini sangat berbahaya dan dapat meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, stunting, dan bahkan sudden infant death syndrome (SIDS).

Oleh sebab itu, perayaan “Hari Tanpa Tembakau Sedunia” harus menjadi dorongan untuk kesadaran bersama dalam menciptakan rumah yang bebas dari asap rokok. Berkomitmen untuk tidak merokok di rumah adalah cara nyata untuk melindungi balita dan anggota keluarga yang rentan.

Rumah yang bebas asap rokok bukan hanya sekadar simbol, tetapi merupakan langkah nyata dalam mencegah penyakit dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak-anak yang sehat, pintar, dan kuat.

Strategi Promosi Kesehatan berbasis Budaya dan Komunitas dalam Mewujudkan Rumah Bebas Asap Rokok

(1) Edukasi Berbasis Tradisi Lokal

Edukasi yang efektif harus memanfaatkan kebijaksanaan lokal untuk menjangkau masyarakat di level dasar. Dengan menggunakan bahasa daerah dalam materi promosi kesehatan, pesan tersebut menjadi lebih mudah dimengerti, khususnya di daerah pedesaan. Melibatkan pemimpin adat, pemuka agama, dan tokoh masyarakat akan meningkatkan kepercayaan terhadap pesan mengenai bahaya rokok dan pentingnya memiliki rumah bebas asap rokok.

Penyampaian pesan ini bisa dilakukan melalui ceramah, khutbah Jumat, zikir akbar, serta pengajian rutin. Untuk meningkatkan kesadaran bersama, elemen budaya lokal seperti pantun Aceh, syair, dan seni tradisional seperti didong, rateb, dan rapai dapat dimasukkan dalam kampanye. Pendekatan ini membuat masyarakat merasa bahwa informasi kesehatan adalah bagian dari budaya dan identitas mereka.

(2) Kampanye Komunitas “Rumah Ini Bebas Asap Rokok (RBAR)”. Kampanye komunitas yang efektif dapat membangun kesadaran serta mengubah norma sosial mengenai kebiasaan merokok di rumah. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah menempelkan stiker “Rumah Ini Bebas Asap Rokok” di rumah yang berkomitmen, sebagai simbol visual dan dorongan moral untuk penghuni dan tamu. Kegiatan ini diperkuat melalui deklarasi bersama di tingkat dusun atau desa yang melibatkan tokoh masyarakat, agama, kader kesehatan, dan anggota pemerintah.

Untuk mendorong partisipasi, diadakan lomba kampung sehat bebas rokok dengan penilaian berdasarkan keterlibatan kader, penurunan kasus ISPA pada anak-anak, dan keberhasilan dalam edukasi. Pendekatan ini memupuk rasa kebersamaan untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bagi generasi mendatang.

(3) Integrasi dengan Layanan Kesehatan Primer. Untuk Menciptakan rumah bebas asap rokok dapat diperkuat melalui penggabungan dengan layanan kesehatan primer. Kader dan petugas Puskesmas dapat memanfaatkan kunjungan rumah untuk memberikan penyuluhan singkat mengenai bahaya dari asap rokok pasif, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil. Informasi ini juga harus disampaikan secara rutin dalam kegiatan Posyandu, Bina Keluarga Balita, serta kelas bagi ibu hamil.

Untuk memperkuat dukungan sosial, dapat dibentuk kelompok diskusi antar warga sebagai ruang untuk berbagi pengalaman dan solusi dalam menjaga komitmen rumah bebas asap rokok. Pendekatan ini mendorong pemberdayaan masyarakat serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya lingkungan yang sehat di rumah.

(4) Regulasi dan Advokasi di Tingkat Desa. Perubahan perilaku menuju rumah bebas asap rokok perlu mendapatkan dukungan dari kebijakan lokal. Pemerintah desa dapat mengeluarkan edaran tentang larangan merokok di dalam rumah, terutama yang ditinggali oleh anak-anak dan ibu hamil untuk melindungi kelompok yang rentan. Isu ini juga wajib dimasukkan dalam dokumen perencanaan desa agar menjadi prioritas dalam pembangunan kesehatan.

Untuk memastikan penerapan yang baik, desa perlu membentuk tim pemantauan yang terdiri dari kader kesehatan, ketua RT, dan perangkat desa guna melakukan pemantauan dan evaluasi secara teratur. Dukungan dari regulasi serta partisipasi masyarakat akan menjaga komitmen untuk rumah bebas asap rokok secara berkelanjutan.

(5) Penguatan Kapasitas dan Insentif Sosial. Keberhasilan program rumah bebas asap rokok bergantung pada kemampuan sumber daya manusia di masyarakat. Sangat penting untuk memberikan pelatihan kepada kader Posyandu dan duta kesehatan remaja mengenai cara penyuluhan serta advokasi yang melibatkan partisipasi agar pesan kesehatan dapat disampaikan dengan baik.

Untuk menjaga semangat, insentif nonfinansial seperti sertifikat penghargaan, plakat, dan publikasi mengenai kisah sukses keluarga bebas asap rokok di papan informasi desa atau media sosial Puskesmas bisa diberikan. Selain itu, festival kampung sehat setiap tahun bisa diadakan sebagai cara untuk menghargai dan memperkuat komitmen bersama. Pendekatan ini tidak hanya mengembangkan kompetensi tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan kepemilikan terhadap gerakan rumah bebas asap rokok.

Solusi Inovatif

Salah satu solusi inovatif untuk menghentikan kebiasaan merokok di rumah adalah dengan menerapkan “Rumah Bebas Asap Rokok“ yang menggunakan teknologi pintar, seperti alat otomatis yang mendeteksi asap rokok dan terhubung ke aplikasi di ponsel. Alat ini memberi tanda awal saat ada asap di dalam rumah, yang memotivasi anggota keluarga untuk menjaga kebersihan udara. Selain itu, menawarkan aktivitas sehat seperti berkebun, berolahraga ringan, atau merawat tanaman hias bisa membantu mengurangi keinginan untuk merokok.

Alternatif lainnya adalah dengan menggunakan aromaterapi, seperti minyak esensial atau lilin aromaterapi, yang dapat menenangkan pikiran dan meredakan stres, salah satu penyebab merokok. Dukungan serta pendidikan dari keluarga juga sangat penting untuk mewujudkan komitmen hidup sehat bebas asap rokok.

Tanaman juga memainkan peran penting dalam menciptakan rumah bebas asap rokok. Selain memperindah ruangan, tanaman berfungsi menyaring polusi dan menghilangkan bau yang tidak sedap, sehingga udara di dalam rumah menjadi lebih bersih dan segar.

Selain itu, tanaman dapat meningkatkan kelembapan udara yang kering akibat asap rokok serta memberikan efek menenangkan yang membantu mengurangi stres dan keinginan merokok. Merawat tanaman dapat menjadi lambang komitmen keluarga untuk hidup sehat bersama.

Berbagai jenis tanaman efektif dalam menyerap asap rokok dan polutan udara sehingga cocok  untuk menjaga kebersihan udara di dalam rumah. Misalnya, Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata) dapat menyaring racun seperti formaldehida dan benzena, sedangkan Palem Kuning (Areca Palm) meningkatkan kelembapan dan menyerap zat berbahaya dari asap.

Kemudian, Spider Plant (Chlorophytum comosum) mudah dirawat dan menghilangkan karbon monoksida, sementara Lidah Buaya (Aloe vera) dan Peace Lily (Spathiphyllum) dapat menyerap berbagai racun. Dracaena dan Bambu Palm juga membantu meningkatkan kualitas udara. Menempatkan tanaman-tanaman tersebut tidak hanya mempercantik rumah, tetapi juga menciptakan suasana yang lebih sehat dan bebas asap rokok.

Dengan menggabungkan teknologi, perubahan perilaku, dan dukungan sosial, solusi inovatif ini dapat menciptakan lingkungan rumah yang sehat dan bebas asap rokok dalam jangka panjang. Hari Tanpa Tembakau Sedunia menjadi momen untuk beraksi, mengajak kita untuk memulai perubahan dari lingkungan terdekat, yaitu rumah kita sendiri.

Jadikanlah rumah sebagai tempat yang aman, bukan sebagai sumber racun, karena melindungi anak-anak sekarang adalah kunci untuk membangun generasi mendatang yang lebih sehat, bebas dari ketergantungan tembakau. “Wujudkan Rumah Bebas Asap Rokok, Lindungi Balita, Ciptakan Hidup Sehat!”

Penulis merupakan Mahasiswi Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button