SEJARAH

Makna jihad dan cara mati terhormat orang Aceh lawan Belanda

Merekam sejarah perang di Aceh (selesai)

“…kekuatan militer Belanda yang lebih superior bukan alasan untuk menyerah kepada penjajah kafir”.

DISTORI.ID – Di India, ada sebuah fatwa yang melarang orang Islam berperang melawan Inggris, karena pemerintahan kolonial Inggris tidak pernah menekan tradisi Islam.

Para ulama Aceh memiliki pandangan berbeda dengan mereka di India, dengan menekankan bahwa perang harus tetap dilanjutkan oleh orang-orang Aceh hingga titik darah penghabisan. Para ulama terus berjuang hingga mereka benar-benar kalah.

Itulah pesan yang terekam dalam Hikayat Prang Sabi (HPS), dan memang teks ini menegaskan bahwa kekuatan militer Belanda yang lebih superior bukan alasan untuk menyerah kepada penjajah kafir.

Dalam analisis akhir, penting untuk mengulangi pesan bahwa tradisi tekstual HPS merupakan produk sebuah masa dimana orang-orang Aceh sedang diserang Belanda. Dalam perjalanannya, ini bisa dikategorikan sebagai ‘literatur perjuangan’, dan memang, HPS dianggap pemerintah kolonial sebagai karya subversif.

Komposisi HPS dimaksudkan untuk mendorong perang suci melawan Belanda, tetapi pesan yang terkandung jauh melampaui tujuan awal. Memang, isinya merefleksikan konsep budaya masyarakat Aceh dalam memandang perang dan damai.

Pemikiran untuk berjuang habis-habisan menolak penjajahan yang didasarkan pada kesetiaan agama mungkin digambarkan dengan demikian jelas pada karya di luar HPS.

Dalam fenomena pembunuhan orang-orang Eropa oleh orang-orang Aceh yang terdorong oleh kemauan keras dan tidak takut bunuh diri, yang digambarkan oleh Belanda sebagai ‘Ajeh moord’ didorong oleh kemauan pribadi dan bukan kehendak masyarakat.

Kejadian semacam Atjeh moord meningkat antara tahun 1910 hingga tahun 1937, dengan lebih dari 120 kasus selama periode tersebut. Dalam studinya mengenai sejarah ini, James Siegel menggambarkan Ajeh moord sebagai ‘tindakan religius’.

Selama perang, ahli psikolog Belanda F.H. van Loon, mewawancarai seorang warga Aceh yang gagal melaksanakan Ajeh moord. Van Loon menjelaskannya sebagai berikut:

“Beberapa waktu yang lalu orang ini bermaksud membunuh seorang kafir dan khususnya orang Belanda kafir […] Dia menjual segala harta miliknya, mengasah rentjong dan meninggalkan desa. Ketika diketahui maksudnya, orang ini segera ditahan. Dia bilang lebih baik mati daripada hidup seperti ini”.

Akan tetapi, sebelum mengakhiri hidupnya, laki-laki ini telah bersiap untuk membunuh seorang Belanda kafir. Seperti telah diceritakan di atas, tindakan seperti ini selama periode tersebut disarankan dengan sangat jelas dalam teks HPS, sebagai satu cara untuk mencapai kematian paling terhormat, dan menjamin surga pada kehidupan akhirat. []

Editor: M Yusrizal

Disadur dari buku “Memetakan Masa Lalu Aceh” suntingan R. Michael Feener, Patrick Daly dan Anthony Reid.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button