BUDAYACeritaOPINI

Berani demi Kebenaran, Bukan demi Harta: Teladan dari Pendiri Tongkonan Kalolok

OPINI: Dr. Lince Bulutoding, SE., M.Si., Ak., CA., PCIF., SAS, Dosen Akuntansi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Di zaman ketika keberhasilan sering diukur dengan harta, kisah seorang leluhur Toraja mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa sebenarnya kita berjuang? Kisah itu datang dari Pong Sampun, pendiri Tongkonan Kalolok Pong Sampun di Lembang Saluallo, Sangalla Utara, Tana Toraja.

Kisah Sang Pendiri

Pong Sampun dikenal sebagai Pangngala Tondok, orang yang pertama kali membuka tanah di Kalolok setelah datang dari Tanamalia.

Bersama istrinya, Lai’ Bulaan, ia mendirikan tongkonan yang hingga kini dijaga oleh sebelas generasi keturunannya.

Keturunannya mewarisi sebuah kisah, seperti dituturkan oleh Ne’ Sattu (Ne’ Pala’) dan Sitti Mina. Dahulu, seorang bernama Lua’ Lindo (“muka lebar”) ma’ sumpi’ (meniup sumpit) ke arah Buntu Kaero dan mengenai anak Puang Buntu Kaero.

Sang Puang lalu mengadakan sayembara: siapa pun yang dapat mengalahkan Lua’ Lindo akan diberi kekayaan sesuai keinginannya.

Pong Sampun menyusun siasat dan berhasil memenangkan sayembara itu. Namun, ketika ditawari emas, sawah, dan berbagai harta, ia menolak.

Ia hanya memilih sebuah gandang (gendang), benda yang secara materi tidak bernilai besar, tetapi dalam budaya Toraja sarat makna adat, sosial, dan spiritual.

Teladan Pertama: Berjuang dengan Ikhlas

Pong Sampun tidak menghadapi Lua’ Lindo karena mengincar hadiah. Penolakannya terhadap emas dan sawah menunjukkan bahwa perjuangannya lahir dari keikhlasan.

Membela keadilan dan kebenaran, menurut teladan ini, harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh keberanian, bukan setengah hati.

Teladan Kedua: Berani Sekaligus Cerdas

Keberanian Pong Sampun tidak membabi buta. Ia lebih dulu mencari cara dan menyusun siasat sebelum bertindak.

Pelajarannya jelas: perjuangan membela kebenaran membutuhkan taktik dan strategi. Niat baik perlu disertai cara yang tepat agar berhasil.

Teladan Ketiga: Bukan demi Imbalan

Inilah inti kisah gendang. Perjuangan yang benar didorong oleh semangat membela yang benar, bukan oleh keinginan mendapatkan harta atau imbalan.

Ketika motivasinya adalah kebenaran, hadiah menjadi tidak penting.

Teladan yang Masih Dijaga

Nilai-nilai itu masih terasa di Tongkonan Kalolok Pong Sampun.

Tongkonan ini tidak dimiliki perorangan, tetapi menjadi warisan bersama seluruh keturunan. Pemangkunya ditentukan melalui kada situru’ (kesepakatan bersama), bukan melalui perebutan.

Keluarga mengenang bagaimana Ne’ Boro’ menyerahkan amanah kepada anak keduanya, Ne’ Tambing, karena demikianlah yang disepakati bersama.

Keluarga berpegang pada ungkapan misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate, “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Teladan Pong Sampun tidak hanya milik keturunannya. Siapa pun dapat belajar darinya: bahwa keberanian sejati adalah membela yang benar, dan kekayaan sejati adalah nilai yang kita wariskan, bukan harta yang kita kumpulkan. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button