DISTORI.ID – Perubahan lanskap industri musik global dan nasional dari era analog menuju era digital telah membawa disrupsi yang masif. Di satu sisi, teknologi digital mempermudah distribusi karya secara instan ke seluruh penjuru dunia.
Namun, di sisi lain, diskursus mengenai keadilan finansial dan transparansi pembagian royalti bagi para musisi masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai.
Kritik tajam namun reflektif kembali mencuat dari salah satu tokoh penting industri musik tanah air, Maia Estianty.
Di sela-sela penampilannya dalam ajang festival musik berskala besar, Synchronize Fest 2026, yang bertempat di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, pada Minggu (18/10), Maia menyoroti perbedaan fundamental antara ekosistem industri musik masa lampau dan kondisi kontemporer.
Bagi generasi musisi yang meniti karier pada akhir tahun 1990-an hingga era 2000-an awal, format fisik seperti kaset pita dan Compact Disc (CD), serta layanan Ring Back Tone (RBT) seluler, merupakan pilar utama ekonomi industri rekaman. Pada masa itu, setiap karya yang dibeli oleh masyarakat memiliki nilai transaksi yang nyata dan terukur.
Maia Estianty secara terbuka mengungkapkan bahwa sistem ekonomi pada masa tersebut memberikan tingkat kesejahteraan yang jauh lebih terasa bagi para musisi dan pencipta lagu.
Sebaliknya, di era digital saat ini, di mana layanan streaming mendominasi pasar, mekanisme akumulasi royalti dinilai tidak lagi memberikan hasil yang sepadan dengan tenaga dan investasi kreatif yang dikeluarkan.
“Sebenarnya karya-karya masih banyak, cuma hanya menjadi bank data aja. Karena memang menurut aku bekerja di dunia musik tuh sudah enggak seasik dulu. Jadi aku selalu ngomong di podcast atau di mana bahwa mungkin royaltinya zaman dulu kita masih area ring back tone masih seru ya,” ujar Maia di hadapan para awak media dalam sesi jumpa pers.
Pernyataan ini bukan sekadar keluhan personal, melainkan cerminan dari kegelisahan kolektif di kalangan musisi senior. Ketika karya-karya baru hanya disimpan sebagai arsip digital atau “bank data” tanpa adanya kepastian tingkat pengembalian finansial yang memadai, gairah untuk memproduksi karya baru tentu mengalami penurunan yang signifikan.
“Kalau zaman sekarang tuh bener-bener digital, itu royaltinya tidak semanis zaman dahulu. Zaman kita masih ring back tone, masih main di fisik, belum ada digital. Jadi masih dapat jual kaset, jual CD, itu masih nyata. Musisi tuh makmur gara-gara itu. Menurut aku sekali lagi begitulah,” tambahnya.
Kendati ekosistem rekaman dan distribusi digital dinilai kurang memihak secara finansial, denyut nadi kreativitas para musisi tidak serta-merta padam. Industri musik saat ini telah bergeser dari model recorded-music-driven menuju live-performance-driven.
Artinya, panggung konser dan festival musik menjadi tumpuan utama interaksi sekaligus pendapatan bagi para pelaku seni.
Maia mengakui bahwa dirinya tetap merasakan energi positif yang luar biasa ketika berinteraksi langsung dengan audiens melalui panggung festival. Atmosfer penonton yang padat, penuh antusiasme, serta cair tanpa batasan formalitas menjadi vitamin tersendiri bagi seorang penampil berpengalaman.
“Jadi kalau yang kayak begini-begini yang festival yang rame, itu suasana posisinya seru, yang kita ketawa-ketawa, bergembira bersama, bisa nyanyi bareng rame-rame, enggak perlu tegang. Nah, ini kita mau,” tutur Maia menjelaskan alasannya tetap aktif manggung.
Kehadiran Duo Maia—yang beranggotakan Maia Estianty dan Mey Chan—di panggung Synchronize Fest 2026 menjadi bukti nyata bahwa daya tarik panggung live mampu menjembatani kerinduan antara musisi dan penggemar lintas generasi.
Di tengah dinamika sistem royalti digital yang masih menuai perdebatan, panggung festival tetap berdiri sebagai ruang perayaan musik yang murni dan autentik. []






