DISTORI.ID – Aksi demonstrasi menentang pemerintah di Tirana, Albania, kembali diwarnai bentrokan pada Sabtu (17/10).
Kericuhan tersebut memasuki hari kelima berturut-turut, dengan aparat kepolisian menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa.
Kepala Kepolisian Albania, Skender Hita, membenarkan bahwa petugas juga menggunakan peluru karet dalam jumlah terbatas untuk menghadapi demonstran.
Pada awal aksi, massa membakar sebuah koper dan melemparkannya ke halaman Kementerian Pendidikan.
Aksi simbolis itu menggambarkan keinginan generasi muda untuk bertahan dan membangun masa depan di Albania, alih-alih mencari kehidupan di luar negeri.
Demonstran yang sebagian besar terdiri dari pelajar SMA dan mahasiswa tampak mengenakan penutup wajah.
Mereka melemparkan batu dan bom molotov ke arah polisi yang berjaga di sekitar gedung kementerian, salah satu lokasi utama berlangsungnya aksi.
Menurut laporan BBC, suara ledakan bom molotov terdengar berulang kali sepanjang demonstrasi.
Menjelang sore, massa bergerak menuju kantor Perdana Menteri Edi Rama di jalan utama Tirana dengan jumlah peserta yang lebih besar dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Situasi semakin memanas ketika demonstran kembali melempari aparat dengan batu dan kembang api.
Polisi merespons dengan menembakkan gas air mata berulang kali, termasuk ke area di belakang barisan massa, sehingga memicu kepanikan di tengah kerumunan.
Kendaraan yang terbakar mengeluarkan asap hitam, sementara suara sirene polisi dan ambulans terdengar di berbagai sudut kota.
Pada malam hari, pasukan khusus dikerahkan untuk memperkuat pengamanan dan membantu mengendalikan situasi.
Bentrok selama lima hari terakhir mengakibatkan banyak orang dari kedua belah pihak mengalami luka-luka.
Sebanyak 167 orang telah ditangkap, sedangkan 388 orang lainnya menjalani proses hukum pidana.
Di sisi aparat, sebanyak 132 anggota kepolisian dilaporkan terluka. Selain itu, tujuh personel diberhentikan sementara untuk menjalani pemeriksaan atas dugaan penggunaan kekuatan secara berlebihan dalam menangani demonstrasi.
Kondisi pusat kota Tirana juga mengalami kerusakan. Pecahan kaca dan sisa kebakaran berserakan di jalanan, sementara sejumlah demonstran mengenakan masker gas serta pelindung wajah untuk mengurangi dampak paparan gas air mata.
Sejumlah relawan turut memberikan bantuan dengan membagikan alat suntik berisi larutan garam. Cairan tersebut digunakan untuk membilas mata warga yang mengalami iritasi akibat gas air mata.
Di sekitar gedung Kementerian Pendidikan yang hangus, seorang mahasiswa kedokteran berusia 19 tahun bernama George terlihat berdiri mengenakan syal penutup wajah dan kacamata pelindung.
Mahasiswa yang juga bekerja sebagai teknisi listrik itu menggenggam dua batu dengan tangan bersarung.
Ketika ditanya apakah dirinya khawatir tindakannya dapat melukai polisi, George menegaskan bahwa para demonstran juga memiliki keluarga yang harus mereka lindungi.
“Kami juga punya ibu. Kami juga punya keluarga,” ujarnya.
George mengatakan, aksi yang awalnya berlangsung damai selama 135 hari kini berubah menjadi gerakan yang lebih keras.
Ia bahkan menyebut keinginan para demonstran untuk melakukan revolusi seperti yang terjadi di Prancis.
“Selama 135 hari kami melakukan aksi damai. Sekarang kami mencoba melakukan apa yang terjadi di Prancis… kami ingin melakukan revolusi,” katanya.
Ia menilai pemerintah tidak menunjukkan keinginan untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur damai.
Menurutnya, kondisi tersebut mendorong sebagian demonstran memilih perlawanan dengan kekerasan.
“Pemerintah kami tidak menginginkan perdamaian, jadi kami menggunakan kekerasan,” ucap George.
Sementara itu, Klea, 17 tahun, yang baru memasuki tahun pertama kuliah di Tirana, mengatakan mahasiswa memilih meninggalkan ruang perkuliahan untuk mengikuti gerakan protes.
“Semua mahasiswa memboikot perkuliahan dan meninggalkan kampus untuk memperjuangkan hak-hak kami,” ujarnya.
Klea juga menuding adanya provokator yang menyusup ke tengah demonstrasi dan melakukan perusakan terhadap toko serta bank.
Menurutnya, tindakan tersebut berpotensi merusak citra gerakan yang diperjuangkan para pelajar dan mahasiswa.
Gelombang protes di Albania sendiri mulai muncul pada Mei 2026. Saat itu, masyarakat mempersoalkan rencana pembangunan kawasan wisata mewah di pesisir selatan negara tersebut yang melibatkan perusahaan investasi Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Proyek tersebut menuai penolakan karena kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan, dugaan praktik korupsi, serta minimnya keterbukaan pemerintah dalam proses pengembangannya.
Gerakan yang dikenal dengan nama Revolusi Flamingo kemudian berkembang menjadi aksi penentangan terhadap pemerintahan Perdana Menteri Edi Rama.
Pelajar dan mahasiswa turut menyuarakan persoalan biaya pendidikan yang tinggi, fasilitas kampus yang dinilai buruk, serta terbatasnya peluang kerja bagi generasi muda.
Seiring meluasnya demonstrasi dan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat, tuntutan agar Edi Rama mengundurkan diri semakin menguat.
Hingga hari kelima kerusuhan, situasi di ibu kota Albania masih diwarnai ketegangan antara demonstran dan aparat keamanan.




