DISTORI.ID – Industri perfilman Indonesia kehilangan salah satu aktor karakternya. Yadi Timo, yang juga dikenal sebagai Yadi Mulyadi, meninggal dunia pada Jumat (16/10) dalam usia 66 tahun.
Informasi kepergian aktor yang kerap tampil sebagai tokoh antagonis tersebut disampaikan penulis skenario Joko Nugroho melalui media sosial. Hingga berita ini ditulis, belum ada informasi mengenai penyebab meninggalnya Yadi.
Kepergian Yadi meninggalkan duka bagi Joko. Dalam unggahannya di Instagram, ia mengenang almarhum sebagai kakak kelas sekaligus sahabat yang memiliki karakter kuat, kritis, dan tak segan menyampaikan pendapat.
“RIP YADI TIMO. Subuh baru saja beranjak, hari baru saja dimulai. Terhenyak membaca khabar, satu teman baik pergi,” tulis Joko, Jumat (16/10).
Bagi Joko, Yadi bukan sekadar rekan di dunia seni peran. Ia juga menjadi sosok yang kerap memberikan tantangan, termasuk mendorong dirinya untuk membuktikan kemampuan dalam menulis skenario dan menyutradarai sebuah karya.
“Kakak kelas, teman baik, pengkritik pedas yang pernah bertukar ilmu penyutradaraan di atas panggung. Pernah menjadi aktor yang skeptikal dan menantang aku untuk membuktikan kemampuan terbaikku,” lanjutnya.
Kritik pedas yang menjadi bentuk dukungan
Salah satu kenangan yang kembali diingat Joko adalah cara Yadi mengkritik karya yang dibuatnya. Sang aktor pernah mempertanyakan cerita yang ditulis Joko sekaligus menantangnya menghasilkan naskah yang pantas untuk diperankannya.
“Lo bikin cerita apa sih Jok? Bikinlah yang pantes buat gue mainin.”
Namun, sikap kritis itu juga disertai apresiasi ketika Yadi menilai karya Joko berhasil memenuhi tantangannya.
“Gue nggak pernah ngajarin lo bikin se keren ini, darimana lo belajar?” tulis Joko, mengenang ucapan Yadi.
Kenangan lain terjadi ketika sutradara dalam sebuah proyek yang sedang dikerjakan diganti. Menurut Joko, Yadi memilih meninggalkan lokasi syuting karena tidak ingin melanjutkan pekerjaan tanpa dirinya sebagai sutradara.
“Lalu ketika dia tahu, sutradaranya diganti, dia adalah aktor yang pertama kali pergi dari set dan menjawab tegas pada kru yang menanyakan kenapa dia pergi ‘Gue gak perlu disini, karena sutradaranya bukan Joko,'” tulisnya.
Sikap tersebut menjadi salah satu bukti dukungan Yadi kepada Joko. Hubungan keduanya tidak hanya terjalin melalui pekerjaan, tetapi juga melalui kepercayaan dan pengalaman bersama di dunia perfilman.
Pernah membagikan honor syuting
Joko turut mengingat momen ketika Yadi pertama kali mengajaknya datang ke lokasi syuting. Setelah proses pengambilan gambar selesai, Yadi bahkan memberikan sebagian honornya kepada Joko.
Meski sempat menolak pemberian tersebut, Joko akhirnya menerima setelah Yadi menjelaskan alasannya.
“‘Enggak usah’ aku bilang. Tapi dengan santai dia menjawab ‘Biar elo ngerasain, rasanya orang syuting,'” kenang Joko.
Bagi Joko, pengalaman itu menjadi bagian dari banyak kenangan yang sulit dilupakan. Ia juga mengingat diskusi panjang bersama Yadi, termasuk percakapan yang berlangsung sejak malam hingga pagi.
Menurutnya, kritik Yadi terkadang terasa tajam dan bisa membuat seseorang kehilangan semangat. Namun, di balik cara bicaranya yang keras, terdapat kepedulian terhadap orang-orang yang dianggap dekat.
“Banyak kenangan tentang Yadi Timo. Diskusi seru sepanjang malam sampai pagi, kritikan pedas dan tajam yang bisa saja mematikan semangat. Tapi semua itu adalah cara seorang Yadi Timo mendukung dan menyayangi kita,” tulisnya.
Joko menutup pesannya dengan penghormatan terakhir kepada sahabatnya tersebut. Ia mengenang Yadi sebagai sosok yang pernah dilihatnya tampil di panggung maupun di depan kamera.
“Selamat beristirahat Day. Aku bertepuk tangan dan membungkuk untukmu hari ini. Melihatmu tersenyum di atas prosenium dan di depan kamera. Dan lampu padam setelahnya. Tabik.”
Bintangi Petualangan Sherina hingga Marley
Sepanjang kariernya, Yadi Timo dikenal sebagai aktor karakter yang mampu memerankan beragam tokoh, mulai dari sosok antagonis dan karakter licik hingga figur ayah yang menjalani kehidupan penuh penderitaan.
Namanya pernah menghiasi sejumlah film Indonesia, di antaranya Petualangan Sherina, Banyu Biru, Petualangan 100 Jam, Brownies, dan Marley yang dirilis pada 2022.
Selain layar lebar, Yadi juga pernah tampil dalam sejumlah serial televisi, seperti Lorong Waktu, Kisah Sedih di Hari Minggu, dan Jin & Jun.
Kepergian Yadi Timo meninggalkan kenangan bagi para rekan yang pernah bekerja bersamanya. Bagi Joko Nugroho, sosoknya akan terus dikenang melalui karya, percakapan, kritik, dan dukungan yang pernah diberikan sepanjang perjalanan mereka di dunia seni peran. []




